Tiga Puluh Satu

Saya berusaha meyakinkan diri sendiri kalo hari ini usia saya bertambah (atau tepatnya berkurang). Beberapa hari sebelum ulang tahun, sebelum kelas dimulai, saya ngobrol sama seorang guru baru di sekolah. Usianya 22 dan saya bergurau dengan mengatakan, “Ih. Kita cuma beda setahun ya.” Saya bilang usia saya di atas dia setahun lebih tua. Dan dia nggak percaya. Dia akhirnya nebak usia saya. Dan jawabannya bikin saya terbang dengan cantik ke langit-langit. Ya gimana gak seneng… dia nebak usia saya 5 tahun lebih muda. Haha.
Sebenernya ini hal yang biasa siiihh. *Sombong ceritanya* Tiap saya bepergian dan ngobrol sama orang baru, saya dikira masih anak kuliahan. Atau kalo main tebak-tebakan umur… nggak sedikit yang bilang usia saya masih 20an. *kecup satu satu* šŸ˜›
Banyak yang bilang sih ini karena efek saya kerja di preschool. Ketemu sama anak-anak kecil yang bawaannya bahagia terus. Hmm… mungkin juga sih.
Tapi kalo mau tau… saya tuh minum formalin lhooo. Makanya awet muda gini. *ngikut jawaban om gue tiap kali dia dikometarin orang tentang hal yang sama.
Hari ini, usia saya berubah. Menjadi angka yang bisa dibilang nggak abege lagi, tapi saya enggan dibilang tua. Tiga puluh satu. 31. Am trying so hard to believe and accept it. Hihi.
Doa-doa dari keluarga dan teman-teman berdatangan. Teman-teman saya nggak banyak, jadi saya bisa balas satu-satu. Saya nggak merayakan, bahkan tidak mentraktir teman. Bahkan beberapa hari sebelumnya saya membuka setting di facebook dan berniat menonaktifkan birthday alarm di facebook. Tapi nggak ketemu. Dan akhirnya hari ini, ucapan-ucapan ulang tahun saya terima paling banyak dari facebook. Kenapa saya berniat menonaktifkan birthday alarm saya? Jawabannya sederhana, saya nggak pengen orang-orang tahu hari ulang tahun saya. Mungkin beberapa orang berbeda pendapat sama saya.
“Ya biarin aja banyak orang tahu. Toh mereka mengirimkan doa dan ucapan. Semakin banyak yang doain lo, semakin bagus kan.”

Iya. Saya setuju. Tapi pemikiran saya ini juga nggak datang begitu saja. Pandangan saya tentang ulang tahun yang selalu berbeda seiring perjalanan waktu. A lot of moments happens dan bikin saya jadi mikirin banyak hal. *sok pemikir deh* hihi.
Orang-orang deket taunya ya… am an easy going person. Itu bener sih. Tapi saya juga tipe pemikir lho.
Beberapa waktu yang lalu, salah satu temen kecil saya meninggal. Mendadak. Shock. Sedih karena tidak bisa datang melihat dia untuk terakhir kalinya. Bahkan yang bikin nyesek adalah saya nggak datang ke nikahan dia. Adek perempuan saya datang mewakili saya. Saya nggak pernah menyangka, orang yang saya tahu sehat dan baik-baik saja, and have a happy family… masih muda (usianya 30 tahun), kenapa harus dipanggil Tuhan begitu cepat. Tapi semua pertanyaan saya kembali pada iman kekristenan saya. “Tuhan punya rencana yang terbaik.” Terbaik menurut versi Tuhan. Jujur, saya belum pernah merasakan kesedihan atau kehilangan seseorang yang bikin saya nangis sampai sesak atau sampai putus asa. Kedua orang tua saya, sampai saat ini masih lengkap dan sehat. Meski Ayah stroke sejak 2008 tapi Ayah sekarang jauh lebih mandiri. Mbah Kakung dan Mbah Putri saya dari pihak Ibu masih ada dan usia mereka tahun ini, 84 tahun dan 78 tahun. Angka yang bikin saya takjub. Saya seneng bisa lihat mbah kakung dan mbah putri saya panjang umur dan weekend kemaren tanggal 23 – 24 Mei… saya ketemu mereka. Ada 5 anak mbah kakung dan mbah putri juga yang ikutan berkumpul. Ibu saya adalah anak pertamanya. Seneng melihat keluarga mereka rukun dan gimana mereka tetap berkomunikasi meski tinggal di kota yang berbeda-beda. Bahkan keluarga besar kami punya grup BBM yang bakalan rame kalo pas ada acara kumpul-kumpul. Bagi-bagi foto di grup, kasih komen dan ngobrol di chat room. Sayang, si mbah nggak bisa bbman. Hehe.

Seperti yang saya bilang tadi. A lot of moments happens in my life. People come, people go. Temen masuk rumah sakit, tetangga meninggal, toko mamanya temen kebakaran, temen kerja melahirkan anak ketiga… banyak hal terjadi. Seneng sedih, kecewa, atau malah bahagia. Itu pilihan kan?

Di satu tahun terakhir ini saya malah seneng karena punya temen dan kegiatan baru. Di usia saya yang ke 30 tahun (tahun lalu) saya membatalkan resign dari kerjaan dan akhirnya mencoba hal baru seperti nyoba siaran radio di gereja. Seruuu. Tapi akhirnya mulai akhir April 2015, saya memutuskan untuk keluar. Tahun lalu dan masih sampai sekarang, saya nyoba nari lagi dan masuk kelas nari tambourine. Hobi lama yang kemudian tersalurkan lagi. Tahun ini saya belum tahu ingin melakukan hal baru apalagi. Keinginan untuk menghadiahi diri sendiri solo traveling saja belum kesampaian.

Saya jadi inget murid saya di tahun pertama saya jadi guru preschool. Dia bilang, “Miss Yoan, tiup lilin.” Saya tadinya nggak ngerti apa yang dia maksudkan, tapi nggak lama akhirnya saya ngeh. Bagi anak-anak, perayaan ulang tahun selalu disertai dengan cake dan acara tiup lilin. Dan mereka yang ulang tahun, akan mempunyai hak untuk make a wish dan meniup lilin. Dan malam ini, saya akan make a wish meski nggak ada lilin maupun cake. *by the way, tadi saya dapat cake tapi sudah ludes dimakan* hehe.

These are some of my wishes:
Solo traveling to a new place.
Jadi penyiar radio (lagi). In the new place.
Meet a right guy. *seperti request terbanyak yang gue dapat. Haha.
Dan doa-doa lainnya di dalam hati. *saking banyaknya keinginan, bingung jadinya. Hehe.

Seperti kutipan yang pernah saya baca di status temen… “Jangan lupa bahagia.” Umur boleh nambah, masalah boleh datang terus, tapi jangan lupa (untuk) bahagia ya man teman. *peluk satu satu*

***
Ini foto-foto hari ini. Ceritanya saya diceburin ke kolam renang sama orang tua murid dan temen-temen kerja saya. Untung yaaahh… kos saya deket, jadi habis diceburin di jam 12an… saya langsung ke kos ganti baju. Hihi.

IMG-20150527-WA0001

IMG-20150527-WA0000

TMPDOODLE1432731900752

Advertisements