“Me Time”: Perlu Nggak Sih?

Sometimes you need to be alone. Not to be lonely, but to enjoy some free time just being yourself.

Kemewahan yang dimiliki para single atau lajang adalah mereka punya banyak waktu untuk diri sendiri, nyenengin diri sendiri, kemana-kemana nggak perlu pamit, dan nggak pernah takut diomelin karena pergi sama lawan jenis. Jaman single cuma sekali, jadi di masa ini, orang-orang akan menjalani waktunya dengan mencari kesenangan atau melakukan apa saja yang membuat mereka bahagia. Melakukan hobi ini itu, traveling kesana kemari, atau ngabisin uang bulanan untuk memperbarui penampilan atau ganti gadget. Iya, masa single memang masa yang membahagiakan. Punya banyak “Me Time” yang selalu bikin iri mereka yang sudah menikah. Buat saya, pengertian “Me Time” itu…

waktu untuk diri sendiri. meluangkan waktu untuk sekedar bersantai, keluar sejenak dari rutinitas atau kesibukan dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan diri sendiri.

“Me Time” untuk masing-masing orang itu berbeda. “Me Time” tentu saja berkaitan dengan dana yang dimiliki. Kalau orang tersebut punya banyak uang, tentu dia akan memilih aktivitas menyenangkan diri sendiri dengan pergi ke tempat-tempat yang bagus dan mahal. Seperti pergi ke Spa untuk melakukan perawatan. Mulai dari manicure, pedicure, creambath, totok wajah, atau pijat. Atau pergi ke Mall dan belanja hal-hal yang disukai. Untuk mereka yang dananya terbatas, “Me Time” nya cukup dengan pergi ke pantai dekat rumah atau bersantai dengan membaca buku sambil mendengarkan musik kesukaan.

“Me Time” murah atau mahal, tujuannya tetap satu: ingin rileks sejenak dari rutinitas yang padat.

Sesibuk apa pun, seseorang butuh yang namanya “Me Time”. Sepopuler apa pun seseorang, single atau menikah, dia tetap harus memiliki “Me Time”. Karena seringnya kesibukan menyita waktu dan pikiran, itulah kenapa “Me Time” memberi kesempatan kita untuk kembali menilik ke dalam, mengevaluasi diri sendiri. Mengingatkan kita kembali tentang prioritas hidup dan impian yang bisa saja terlupakan akibat kesibukan yang padat. 

“Me Time” a la saya sederhana. Kadang ya nulis atau blogwalking. Dengerin musik sambil nyanyi dengan suara yang a la kadarnya, atau ke toko buku dan jalan-jalan ke Mall tanpa tujuan yang jelas. Beli sesuatu yang lucu di Mall atau nonton film sambil ngemil. 

Saya semakin sadar kalau “Me Time” itu mahal dan berharga ketika seringnya mendengar cerita dari teman-teman yang sudah menikah. Mereka cerita gimana sibuknya dunia mereka karena harus bekerja, mengurus anak dan pasangan, sampai-sampai nggak punya waktu untuk diri sendiri. 

Mau single atau menikah, sedikit atau banyaknya “Me Time” yang dimiliki… yah, disyukuri ajalah! Hidup itu singkat, jadi pintar-pintarlah mengatur waktu, jadi bisa bahagia dengan kesibukan tapi juga punya “Me Time”. Jadi, menurutmu “Me Time” itu perlu nggak, sih?

Advertisements