Life is Waiting

Beberapa hari lalu ngobrol sama temen kantor, dan kepikiran tentang ini… 

Hidup itu soal menunggu.

Menunggu kapan bisa jatuh cinta lagi.

Menunggu kapan lulus sekolah. 

Menunggu pekerjaan.

Menunggu pacar nelpon.

Menunggu kapan dilamar.

Menunggu kapan bisa pergi ke luar negeri seperti orang-orang.

Menunggu tanggal gajian.

Menunggu kapan punya rumah sendiri.

Menunggu kapan dikasih anak.

Menunggu kelahiran anak.

Menunggu kapan bisa punya “me time”.

Dan soal menunggu lainnya… yang masih banyak lagi.

Jujur, ada kalanya jenuh, bahkan sering. Banyak hal yang dilakukan untuk mengatasi kejenuhan. Mencoba untuk luar biasa sibuk dengan harapan bisa lupa bahwa dirinya sedang menunggu. 

Menunggu itu bicara soal WAKTU yang kemudian memaksa diri sendiri untuk bisa… SABAR. Kata yang begitu mudah diucapkan tapi sering gagal mempraktekannya. Begitu mudahnya nyuruh orang untuk bisa sabar, tapi begitu mati-matian ketika mencoba merealisasikannya ke diri sendiri.

Nyatanya waktu menunggu untuk tiap orang berbeda-beda. Beberapa orang mungkin menyalahkan Tuhan, kenapa mereka dibuat menunggu terlalu lama. Tapi tidak sedikit juga mereka yang justru menikmati masa menunggu mereka dengan melakukan hal-hal yang asyik dan produktif. Golongan kedua inilah yang sudah menemukan dan tahu bahwa kebahagiaan mereka tidak ditentukan oleh keadaan atau seseorang, tetapi berasal dari diri sendiri. 

Menunggu memang bukan perkara mudah. Banyak hal yang kemudian bisa dipelajari… belajar sabar, nrimo, berserah. Segala macam perasaan pun muncul ketika menunggu. Kesal, nangis, marah, kecewa, takut, kuatir, atau tersenyum bahagia. Menunggu itu melelahkan. Tapi jika tahu bahwa kita tidak sendirian dan fakta bahwa banyak orang di sekitar kita juga sedang menunggu… itu membuat lega diri sendiri. Sungguh. 

Hidup itu soal menunggu. Mau tidak mau, senang atau tidak senang, menunggu faktanya membuat kita jauh lebih dewasa. Ya, apa pun kasusnya. Jadi, selamat menunggu, teman! 

Advertisements