Sehat Itu Mahal, Neng!

Hari ini adalah hari ke-8 di taun 2015. Semua baik dan yang paling penting juga yang paling disyukuri adalah aku sehat. Hari ini salah satu teman kerja ijin nggak masuk kerja karena harus pergi ke rumah sakit untuk periksa. Di tangan dan mukanya terdapat bintik-bintik merah dan dokter bilang kalo dia kena campak atau sering dikenal dengan “gabagen” dalam bahasa Jawa. Karena aku yang ngasih saran untuk berobat ke salah satu rumah sakit di Semarang, akhirnya dia BBM waktu antri di RS itu.

Di pesan yang dia kirim, dia cerita biaya yang dikeluarkan untuk berobat yang menurutnya mahal dan dia bilang, “Sehat itu mahal harganya ya kak.” Trus aku jawab… “Disyukuri aja, Na.” Dia lalu balas, “Iya kak. Disyukuri aja. Jadi sekarang lebih menghargai badan, yang penting sehat.”

Dia adalah temen kerja yang menurutku anaknya ceria dan setauku jarang sakit. Aku sendiri jarang sakit dan meskipun suka kalo disuruh berkunjung atau jenguk orang di rumah sakit, tapi ogah banget kalo harus sakit dan sampai dirawat di rumah sakit. Selain tau kalo sakit itu nggak enak, males juga kan kalo harus ngeluarin uang buat biaya obat dan perawatan. 

Yah mana ada sih orang yang pengin sakit. Suka sebel sama orang-orang yang menganggap enteng kesehatan. Contohnya orang yang merokok. Jujur aja, dulu waktu kuliah, saya nganggap cowok yang merokok itu laki banget. Jadi waktu dulu punya pacar yang merokok, saya santai, meski ngerasa terganggu juga tapi saya bersikap cuek. Tapi sekarang, setelah liat Ayah stroke dan saya tau banget Ayah saya perokok berat, saya jadi sebel banget liat perokok. Baik itu laki-laki atau pun perempuan, yang merokok di area publik, buat saya itu sangat mengganggu. Dan buat saya, hal itu nggak ada keren-kerennya sama sekali. Dan makin nyesek ketika lihat iklan rokok wira-wiri di tv dan papan reklame raksasa yang ditemui di jalan-jalan dengan tulisan “Merokok Membunuhmu”.

Mau dibilang merokok itu senjata ampuh mengusir kebosanan atau menghilangkan stress, buat saya, rokok tetaplah rokok yang bukannya membuatmu lebih baik tetapi yang diam-diam membunuhmu. Membunuh kantong dan kesehatanmu. 

Balik lagi sama kata-kata temen di BBM, “Sehat itu mahal harganya.” Kata-kata yang sering diucapkan ketika seseorang lagi sakit. Kata-kata yang diucapkan ketika seseorang sudah menghabiskan banyak uang untuk berobat dan melunasi obat-obatan yang dibelinya dari rumah sakit. Kalau memang sehat itu mahal, seberapa besar usaha kita untuk memperhatikan kesehatan diri sendiri? 

* Maaf kalo terkesan menggurui soal rokok, ini hanya opini pribadi saja. 🙂

Advertisements