Book Review: Le Petit Prince

Buku pertama yang saya baca di tahun 2014 ini adalah “Le Petit Prince” atau “Pangeran Cilik”. Buku ini sudah lama saya beli tapi baru bulan lalu saya sempat membacanya. Sempat di sini berarti saya benar-benar meluangkan waktu dan niat untuk membacanya sampai selesai. Iya, saya sudah lama tidak membaca buku dan menyelesaikannya. Untuk itulah tahun ini saya perlu membuat resolusi, yaitu untuk membaca buku-buku yang bertumpuk di kamar saya. Berusaha menahan diri untuk tidak membeli buku baru sebelum saya baca semua buku-buku yang ada di kamar. Kali ini saya akan cerita tentang buku “Le Petit Prince”.

***

Le Petit Prince adalah sebuah buku yang ditulis oleh Antoine De Saint-Exupery. Buku ini hanya setebal 112 halaman saja. Buku yang sangat terkenal karena kisahnya yang menarik ini sudah diterjemahkan ke banyak bahasa dan tersebar di seluruh dunia. Ah, siapa yang tidak mengenal buku ini?

Le Petit Prince bukan hanya kisah tentang dan untuk anak-anak. Buku yang juga diperuntukkan untuk orang dewasa ini memberikan kesan menarik saat membacanya. Lewat tokoh si Pangeran Cilik, orang dewasa akan merasa tersentil dengan pemikiran dan kata-kata yang diucapkan seorang anak yang begitu polos dan murni. 

Ada beberapa bab yang menceritakan tentang perjalanan dan perenungan Pangeran Cilik tentang hidup dan bagaimana dia mencoba memahami dunia orang dewasa. Seperti saat Pangeran Cilik bertemu dengan seorang raja. Bagi seorang raja, semua orang adalah rakyatnya. Sang Raja berpesan kepada Pangeran Cilik, bahwa mengadili diri sendiri lebih sulit daripada mengadili orang lain. Jika kamu berhasil, berarti kamu betul-betul orang yang bijaksana. Di pertemuan dengan sang raja ini, si Pangeran Cilik menyimpulkan bahwa orang dewasa sangat suka dengan kekuasaan. 

Atau pertemuan lain dengan seorang yang sombong. Bagi orang-orang sombong, semua orang lain adalah pengagumnya. Orang-orang sombong hanya mendengar pujian semata. 

Pertemuan berikutnya yang membuat Pangeran Cilik merasa murung, bingung dan iba adalah saat dirinya bertemu dengan seorang pemabuk. Di pertemuan ini, Pangeran Cilik melihat bagaimana cara orang-orang dewasa mengatasi kesedihan mereka. 

Pertemuan Pangeran Cilik dengan seorang pengusaha juga menggambarkan bagaimana orang dewasa yang begitu sibuk, serius, dan tidak membuang waktu dengan main-main.

Selain bertemu dengan orang-orang dewasa dengan berbagai karakter, Pangeran Cilik juga berkelana di gurun pasir dan bertemu dengan bunga, ular, dan rubah. 

“Le Petit Prince” mengajak pembacanya mengarungi alam pikiran anak-anak. Bagaimana pikiran dan pendapat mereka sangat sederhana dan jujur. Di buku ini juga dikisahkan bagaimana cara berpikir dan sikap orang-orang dewasa yang rumit dan kadang tak masuk akal. Bukan orang dewasa yang mencoba mengerti anak-anak, tapi anak-anaklah yang (dipaksa) untuk mengerti keruwetan hidup orang dewasa. Buku ini menceritakan pemikiran dan perenungan yang diambil dari 2 sisi. Ada si anak yang tumbuh dewasa dengan kekecewaan terhadap orang dewasa, yang selalu dia simpan. Ada Pangeran Cilik dengan kehidupannya yang unik. 

Buku “Le Petit Prince” ini menarik. Buku dengan cerita kontemplasi dan traveling yang dikemas dalam satu cerita: tentang seorang pangeran cilik yang turun berkelana di bumi. 

Kutipan-kutipan menarik di buku ini:

Anak-anak mesti berbesar hati terhadap orang dewasa.

Kita yang memahami hidup, sama sekali tidak memedulikan angka-angka.

Memilukan sekali kalau melupakan teman.

Orang-orang dewasa amat ganjil.

“Mengapa kau minum?” “Supaya lupa”

“Benda-benda kecil keemasan yang membuat para pemalas melamun.” “Oh, bintang”

Karena orang dapat saja taat dan malas sekaligus.

Kesukaanku dalam hidup ini ialah tidur.

Advertisements