Memaknai Perpisahan

Bulan Desember lalu, salah seorang teman kerja memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan dan pulang ke kampung halamannya. Alasan pertamanya karena ingin menemani orangtua, sebab dia anak tunggal dan sudah lama sekali tinggal di perantauan. Keinginannya adalah menunjukkan baktinya pada orangtua mengingat tidak pernah ada yang bisa menebak umur seseorang. Alasan kedua adalah ia ingin menemukan passion-nya. Meskti terhitung terlambat untuk usianya yang sudah tidak muda lagi, tapi semangat yang ada di dirinya mengalahkan semuanya. Toh, lebih baik terlambat daripada tidak mencoba sama sekali.

Saat ini saya mau bicara tentang perpisahan. Sebuah kata yang mungkin tidak disukai untuk sebagian orang, atau mungkin dihindari. Perpisahan bisa bermacam-macam. Perpisahan karena pindah rumah ke luar kota, sekolah ke luar negeri, keluar dari pekerjaan, hilang kontak dengan teman, putus dengan pacar, perceraian, atau dipisahkan dengan kematian. Setegar apa pun seseorang, ketika diperhadapkan dengan perpisahan, tentulah akan merasa sedih dan kehilangan.

Sebelum teman saya itu kembali ke kota asalnya, saya berjanji dengan diri sendiri untuk travelling bersamanya. Saya yang belum pernah dan tidak pernah berpikir sama sekali untuk naik gunung, akhirnya memutuskan menantang diri sendiri untuk melakukan perjalanan mendaki gunung. Buat teman saya, naik gunung adalah hobi yang sudah lama ditekuninya. Buat saya, naik gunung adalah sebuah hal baru. Sebuah pengalaman yang menakjubkan. Sebuah momen untuk lebih mengenal diri dan akhirnya menyadari bahwa perjalanan menuju puncak membutuhkan kegigihan dan pengorbanan yang luar biasa. Melelahkan namun semua terbayar ketika sudah berhasil sampai di puncak. 

Kembali ke topik perpisahan. Dengan travelling, saya kini lebih bisa menghargai dan memaknai arti pertemuan dan perpisahan.

People come. People go. 

Tidak peduli seberapa besar keinginan dan usaha kita untuk bisa selalu bersama orang-orang yang menyenangkan dan berkesan di hati, akan ada saat-saat kita (terpaksa) harus melepaskannya.

Saya semakin sadar seiring usia saya yang semakin bertambah. Dari TK, SD, SMP, SMU, kuliah, lalu saat ini kerja… pernahkah kamu hitung berapa jumlah teman dan sahabatmu? Ada beberapa teman dan sahabat yang masih saling terhubung hingga saat ini, tapi kualitas pertemanan tentulah tidak sama lagi seperti saat masa-masa sekolah dulu. 

Semakin usia bertambah, semakin seseorang termakan dengan kesibukan.

Entah itu kesibukan yang produktif atau pun tidak. Siapa yang peduli. Seiring kebutuhan, maka seseorang pun butuh hal-hal baru untuk memenuhi hasrat atau sekedar memuaskan dirinya. Pindah ke kota baru, bertemu dengan orang-orang dan lingkungan kerja yang baru, dan banyak hal yang lalu menyita waktu. Seperti pasangan, keluarga (jika sudah menikah), atau mengelola bisnis. Tidak ada yang salah, hanya saja orang lalu menyadari…

bahwa perpisahan adalah tentang kisah pertemuan berikutnya.

Seperti malam ini, saya semakin paham bahwa memaknai perpisahan dengan bijak adalah langkah yang tepat untuk menyambut sebuah pertemuan baru. Sedih karena perpisahan itu biasa, tapi mampu melihat ke depan dengan senyum dan hati yang optimis, itu baru luar biasa.

for every goodbye, God also provides a hello. – Donna Gable Hatch

 

Advertisements