Day346: 7 Hari Bersama Ayah

Apa yang kamu lakukan kalau tahu Ayahmu sakit dan nggak bisa berjalan dan bicara sempurna seperti saat sehat dulu? Ini yang selalu kupikirkan setiap ingat Ayah. Ayahku mungkin berbeda dengan Ayah teman-temanku, tapi aku nggak peduli. Bukannya aku nggak bisa bersyukur, tapi kadang saat melihat seorang anak pergi berdua dengan Ayahnya, melihat-lihat buku di toko buku, rasanya aku ingin melakukan hal yang sama. Aku ingin melakukan banyak hal yang seharusnya dilakukan Ayah dan anak perempuannya. Aku ingin bercerita tentang pekerjaanku, makanan kesukaanku, dan hal-hal yang kubenci. Aku juga ingin mendengarkan cerita-cerita Ayah tentang kesukaannya di masa mudanya.  Tentang bagaimana dia mendapatkan pekerjaan pertamanya atau cerita tentang perjalanannya mendaki gunung. Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Ayah. Hanya berdua.

Saat ini, semua itu seperti keinginan yang sangat mahal. Ayah memang nggak sesehat dulu. Penglihatan dan pendengarannya tak setajam dulu. Gerak tubuhnya juga tak segesit dulu. Rambut hitamnya entah menghilang kemana, yang terlihat hanya rambut putih yang tak terhitung jumlahnya. Ayah juga tak bisa makan makanan yang enak-enak lagi. Tak pernah lagi naik motor atau mobil. Ayah hanya bisa berjalan, itu pun pelan-pelan. Hanya tongkat yang jadi teman setianya, oh, dan juga jam tangan. 

Aku sudah berhenti bertanya pada Tuhan dengan pertanyaan, “kenapa harus Ayahku” atau pertanyaan-pertanyaan lain yang merupakan protesku. Aku bangga melihat Ayahku dan bagaimana keluargaku saat ini. Melihat bagaimana perjuangan Ayah melawan penyakitnya. Melihat bagaimana perjuangan Ibu dan cinta Ibu pada Ayah dan keluarga. Bagaimana Tuhan justru melengkapi semua hal yang sepertinya terlihat tidak sempurna ini. Dari banyak hal yang bisa dijadikan alasan untuk mengeluh, toh aku memilih untuk bersyukur. 

Dulu waktu aku kecil, Ayah suka menceritakan dongeng sebelum tidur. Dongeng yang dia karang sendiri dan berhasil membuat aku dan adikku terkagum-kagum mendengar ceritanya. Dongeng Ayaku mengalahkan berjuta-juta dongeng yang terkenal. Bertahun-tahun setelah itu, aku merindukan masa-masa itu. Masa dimana Ayah masih muda dan aku bisa bermanja-manja dengannya. Ya walaupun aku juga pernah beberapa kali menangis karena kesalahanku yang membuat Ayah marah dan kecewa padaku. Hubungan kami nggak selalu manis. Kalau ada pil ajaib yang bisa membawaku kembali ke masa lalu, aku pasti akan minta pada Tuhan untuk membawaku kembali ke masa kecil dan remajaku untuk bisa menghabiskan sebagian waktu dengan Ayah.

Kalau saja aku punya 7 hari bersama Ayah, aku pasti akan sangat bahagiaaa! Mungkin begini… Hari pertama, aku akan pergi memancing bersama Ayah. Setelah dapat ikan yang besar, kami akan bikin pesta ikan bakar. Hari kedua, pergi berkuda, melukis, dan menghabiskan sore bersama dengan minum teh dan ngobrol di teras rumah. Hari ketiga, pergi ke pasar dekat rumah, masak menu baru, nonton sepakbola, dan mengundang teman-teman Ayah dan Ibu untuk berkumpul di rumah. Hari keempat, pergi nonton konser musik, membeli banyak buku di toko buku dan pesan kopi kesukaan di cafe favorit. Hari kelima, perjalanan ke luar kota dengan mobil, pergi ke pantai dan melihat sunset sambil curhat banyak hal sama Ayah. Hari keenam, melakukan hal-hal seru seperti rafting atau outdoor activity lainnya. Hari ketujuh, pergi ke gereja bareng keluarga dan menyusun foto-foto perjalanan di album foto keluarga.

Berandai-andai itu menyenangkan dan masih saja kulakukan sampai sekarang. Hanya 7 hari saja. Aku janji bakal jadi anak yang baik, Tuhan…

***

Pinjam gambar dari sini

Advertisements