Day318: Run Jojo Run!

Sore ini, sepulang kerja aku dan temanku melakukan kegiatan rutin kami setiap kamis sore. Jogging. Aku jatuh cinta dengan olahraga ini sudah lama sejak tinggal di Jogja. Dulu aku jogging pagi hari dengan temanku, David. Tapi kesukaanku ini sempat hilang dan terlupakan sejak aku pindah ke Semarang. Ya, bersyukur di Semarang aku menemukan teman-teman yang juga suka berolahraga.

Sebenarnya aku berharap sore tadi hujan, jadi aku bisa pulang ke kost dan tidur. Tapi nyatanya tidak hujan, meski bisa dibilang sedikit mendung. Aku pun memaksa diri berangkat ke stadion dan berolahraga karena ingat janjiku pada diri sendiri untuk hidup sehat.  Aku tidak berambisius dan meski aku bilang aku mengantuk, aku tetap pegang janjiku untuk jogging paling tidak 30 menit.

Ini yang kulakukan tadi. Jalan kaki satu putaran sebagai pemanasan sebelum jogging. Lari dengan ritme yang lambat, lalu berhenti berjalan kaki untuk sekedar mengatur nafas. Lari lagi dengan ritme agak cepat, melambat lagi, lalu jalan kaki sambil sesekali menunduk memandang batu-batu kecil di depanku dan juga melayangkan pandanganku ke sekitar, memperhatikan anak-anak kecil yang berlatih sepakbola. Aku yang meski sudah kubilang berusaha untuk tidak berambisius, tapi tetap, semangatku untuk lari dan menyelesaikan sampai melebihi batas kemampuankulah yang membuatku akhirnya tersadar. Bukankah seperti itu mengejar mimpi. Seberat apa pun tantangan di depan, jika gigih dan tetap menganggap bahwa semuanya layak diperjuangkan, maka apa yang diharapkan akan terwujud.

Berlarilah hingga impianmu terwujud

Ya, paling tidak itu yang kupahami saat di stadion olahraga tadi. Aku jadi ingat kata-kata seorang teman, “Apa yang kamu suka, itu yang harus kamu tekan.” Iya, selama ini rasanya aku kurang maksimal dalam hal-hal yang aku suka. Lebih banyak menunggu momen daripada mengejar dan menciptakannya. Lebih banyak bergantung pada keadaan dan nrimo daripada berusaha keras dan berpikir kreatif. Kenapa semangat yang ada di stadion lari tidak kubawa saja ke kehidupan nyata. Berlari mengejar yang aku mau, yang selama ini jadi keyakinanku. Berlari dan membuat ceritaku sendiri. Berlari ke depan dan bukannya mundur. 

Ini mungkin saja sulit, tapi setidaknya aku sudah punya modal untuk mau berusaha, meski nggak pernah tahu tantangan apa yang ada di depanku. Apakah seperti batu kecil yang ada di stadion lari yang meski kecil namun mampu membuatku jatuh dan lututku luka, hingga aku menyerah dan pulang. Itu terjadi beberapa waktu yang lalu, dan aku menyalahkan diriku sendiri karena kurang waspada. Atau aku akan belajar dari seorang bapak separuh baya yang stroke yang beberapa kali kulihat dia di stadion. Bapak itu, meski dengan keterbatasannya dia tetap berjalan menyelesaikan satu putaran stadion, dengan seseorang yang setia mendampingi di sebelahnya. Bapak itu bahkan tidak peduli dengan para pelari yang berlari begitu cepatnya melintas di depannya. Bapak itu hanya berpikir untuk menyelesaikan sampai garis akhir, meski dia tahu kondisinya lemah dan sangat bergantung pada bantuan orang lain. Aku, yang bahkan fisikku bagus, sudah seharusnya malu. Aku, selama ini tidak pernah berusaha begitu keras dan maksimal dalam mengejar impianku. Seperti yang kulakukan dan yang dilakukan para pelari itu, melihat ke depan dan berlari sampai melebihi batas kemampuan, sampai garis akhir, sampai impian ada dalam genggaman. 

Yes, run Jojo run!

 

Advertisements