Day308: [Jojo Jalan Jalan] Menikmati Pesona Alam Gunung Ungaran

Sebagian bekal snack, minuman, dan first aid yang dibawa

Ini postingan pertama Jojo Jalan Jalan (JJJ). Kenapa dinamakan Jojo Jalan Jalan? Pertama, karena postingannya tentang jalan-jalan. Awalnya mau kasih nama “Cerita Si Ransel”, “Cerita Perjalanan”, “Weekend Seru”, “Jalan Jalan Sore”, dan akhirnya batal karena nama-nama itu sudah banyak yang pakai. Akhirnya pakai nama “Jojo Jalan Jalan”, karena menurut gue lebih simple, asyik, dan kece! πŸ˜€ Dan kenapa dinamakan Jojo? Ya karena itu nama gue. πŸ˜€

Gue belum pernah naik gunung sebelumnya. Alasan pertama gue naik gunung adalah gue pengin mencoba sesuatu yang baru. Sesuatu yang menantang. Gue lebih ke #anakpantai, jadi pas lihat temen-temen kerja pada janjian naik gunung Rinjani, gue bener-bener nggak tertarik. Tapi secara tiba-tiba di bulan Oktober, gue pengin nyoba naik gunung. Dan pas banget bulan Oktober ada long weekend, yaitu libur tanggal merah Idul Adha dan hari kejepit Idul Adha. πŸ˜€ Setelah awalnya merencanakan ke Merbabu, dan batal karena ini itu, akhirnya gue, dan 2 temen kerja gue (Selvi dan Wenne) mendaki ke Gunung Ungaran.Β 

Kenapa memilih ke Gunung Ungaran? Pertama, karena letaknya yang dekat dengan kami yang tinggal di Semarang. Kedua, karena Gunung Ungaran punya ketinggian 2.050 meter, cocok untuk gue yang pendaki pemula.Β 

Gue sama temen-temen berangkat dari Semarang hari Minggu, 13 Oktober 2013. Ngumpul di parkiran tempat kerja dan pesan taksi menuju Banyumanik. Bis sudah nggak masuk ke kota lagi, jadi satu-satunya transportasi untuk ke pangkalan bis Banyumanik adalah dengan naik taksi. Bisa sih pakai angkutan kecil gitu untuk ke sana, tapi nggak efisien waktu. Dari Banyumanik, kami naik bis Solo dan turun di Lemah Abang. Di Lemah Abang kami naik angkutan umum menuju Jimbaran. Bukan Jimbaran Bali lho ya. πŸ˜€ Di Jimbaran kami berhenti untuk makan di RM Sri Rama. Setelah itu jalan kaki dari Jimbaran menuju base camp Mawar, base campnya para pendaki Gunung Ungaran. Jalan kaki ini membutuhkan waktu 2 jam 15 menit! Itu termasuk jalan santai. Di jalan kami sempat berhenti untuk beberapa kali istirahat, minum, dan foto-foto. Dari Jimbaran-base camp ada 3 jenis jalan yang kami lalui. Pertama jalanan aspal yang banyak pengendara motor dan mobil, lalu setelah itu kami melewati rumah-rumah penduduk dan jalannya menanjak, dan yang terakhir jalanan dengan pemandangan Β tanaman-tanaman yang memanjakan mata. Foto-fotonya seperti di bawah ini.Β 

Setelah perjalanan 2 jam lebih dan beberapa kali tanya penduduk-penduduk sekitar, akhirnya kami menemukan Base Camp Mawar. Sebelum masuk base camp, harus lebih dulu lapor di pos. Kami pun dikenakan biaya menginap Rp 3000/orang. Waktu pertama masuk, kondisi base camp kotor dan di sana juga cuma ada karpet tipis yang dijadikan alas tidur. Temen-temen gue pun bergantian membersihkan lantai ruangannya. Ruangannya cuma satu dan sempit, dan masih harus berbagi dengan para pendaki yang lain.

Malam hari suasana di base camp ribut dan berisik. Bayangin saja, ruangan sempit tapi diisi dengan banyak orang dengan kegiatan yang bermacam-macam. Ada yang makan, ngobrolin rencana pendakian, dan yang mencoba tidur. Nah. gue dan temen-temen gue yang terakhir itu. Beneran nggak bisa tidur karena berisik banget. Kepala gue pun pusing, saking pengennya merem tapi nggak bisa. Rencana awal gue sama temen-temen mau berangkat mendaki jam 11 malam tapi batal karena masih ngantuk dan kalau gue alasannya karena kepala gue pusing. Jelas-jelas batal lihat sunrise dari puncak, deh.Β 

Gue pun berusaha tidur meskipun susah. Yang paling nggak enak tidur di base camp malam itu adalah gue menggigil. Dingin bangeeett! Meski udah pakai kaos kaki, celana jeans, dan jaket, semua itu masih kurang. Memang enakan bawa sleeping bag, deh. Persiapan gue sama temen-temen memang kurang maksimal waktu itu.
Karena alarm temen, gue bangun jam setengah 5 pagi. Jam 5 gue keluar dan duduk di teras base camp, dan menikmati sunrise (14/10). Sayang, kamera gue nggak begitu bagus untuk mengabadikan sunrise. Sementara gue menikmati sunrise sendirian, 2 temen gue malah masih pada tidur.Β 

Tanpa mandi, kami pun berangkat mendaki gunung jam 6.30. πŸ˜€ Kira-kira baru 20 menit jalan, tiba-tiba gue ngerasa kepala gue pusing. Gue mikir penyebab pusing yang tiba-tiba itu. Bisa saja karena menggigil semalam dan kebangun-bangun, darah rendah, atau juga karena belum makan nasi. πŸ˜€ Temen gue, Wenne, dengan baik hatinya meminta gue mengurangi barang-barang di ransel gue dan menaruhnya di ransel temen gue itu. πŸ™‚Β 

Perjalanan mendaki Gunung Ungaran pun dimulai. Pemandangan yang cantik membuat gue sibuk foto-foto. Ya motret pemandangan, ya motret diri juga. πŸ˜‰ Berhubung mendakinya siang, gue udah siap banget jadi gosong. Gue nggak bawa topi dan sengaja nggak pakai jaket. Cuma pakai masker untuk menutupi hidung karena banyak debu dan pasir.

Di perjalanan, kita bisa melewati kebun teh dan kebun kopi. Bertemu mata air, rumah penduduk, dan para pendaki yang turun gunung. Waktu awal-awal naik semangatnya gede banget, di tengah perjalanan udah mulai konsentrasi lihat jalan. Sambil menikmati pemandangan, gue sama temen juga ngobrolin macem-macem. Kalau ngobrol kan jadi nggak berasa capeknya. πŸ˜‰

Gue JATUH CINTA sama alam dan pemandangan di Gunung Ungaran ini! Pemandangan yang serba hijau benar-benar memanjakan mata.

Petualangan yang sebenarnya dimulai saat mau mendekati puncak. Secara fisik gue masih kuat, tapi gara-gara kepikiran masih harus turun gunung dan melewati perjalanan yang panjang (ini gara-gara mendaki 1 hari sih, jadi dikejar waktu banget). Juga ketakutan bakal telat sampai base camp dan nggak dapat angkutan pulang di Jimbaran, gue jadi pesimis dan ragu untuk bisa nerusin sampai puncak. Saat lagi putus asa dan mau nyerah, gue ketemu 2 mas-mas yang juga sama-sama mau ke puncak. Namanya mas Puri dan Sigit. 2 orang itu yang kasih semangat ke gue dan temen-temen buat nerusin perjalanan sampai puncak. Salah satu dari mereka pun nawarin untuk bawain ransel kami. Baiknyaaa… πŸ˜€

Akhirnya setelah butuh 5, 5 jam (untuk perjalanan normal tapi santai rata-rata orang mungkin 4 jam saja) untuk naik, gue dan 2 temen gue sampailah di Puncak Gunung Ungaran. Seperti para pendaki yang lainnya, kami juga berfoto dengan Sang Merah Putih. Untuk pertama kalinya dalam hidup gue. :”) Waktu itu di Puncak sepi. Cuma ada rombongan gue, sama 2 mas “Malaikat Gunung” (sebutan dari temen gue πŸ˜€ ) dan sepasang cowok-cewek. Dan kami di puncak cuma SETENGAH JAM doang, habis itu turun lagi! Cepet banget kan. Untuk turunnya, lebih cepat daripada naik. 3 jam 15 menit.Β 

Dan begitulah perjalanan gue ke Gunung Ungaran dengan 2 cewek. Yang kalau ketemu pendaki-pendaki lain ditanya, “cuma bertiga aja, mbak?” “Kok nggak ada cowoknya?” Mereka belum tau ya, kami ini 3 cewek perkasa. πŸ˜€ Oke, selamat menikmati foto-foto trip ke Gunung Ungaran ini ya. πŸ™‚

Akhirnyaaa… PUNCAAAKK!! Pas lihat Merah Putih dari jauh, spontan menitikkan air mata. Perjuangan melawan capek, panas, dan lapar, akhirnya terbayar. πŸ˜€ :”)

Tas Carrier gue. Dulu beli harganya 400 ribu di Mall Citraland Semarang. Lupa tahun berapa. Nyaman dipakai, enak di bahu.


Tips hal-hal yang diperlukan untuk mendaki gunung (untuk 1 hari dan tidak camping di Puncak) :

  1. Persiapan fisik. Sebelum ke Gunung Ungaran, gue olahraga jogging dan aerobik. Itu aja cuma beberapa kali dalam seminggu. Lebih bagus sih kalau tiap hari rutin olahraga minimal 20 menit. Nge-gym juga bagus, tapi gue belum pernah coba.
  2. Persiapan mental. Selain butuh fisik yang oke, mental yang siap juga sangat diperlukan. Perlu diingat bahwa naik gunung, bahkan sampai puncak, itu kegiatan yang nggak mudah. Harus siap dengan segala resikonya.
  3. Uang tunai. Buat transportasi, biaya nginap di base camp, dan makan.
  4. Snack dan minum. Kalau minum, disarankan bawa air mineral 2 botol besar, masing-masing 1500 ml. Selain itu, Pocari Sweat, Milo, dan You C1000 juga bagus. Untuk makanan, baiknya membawa roti, permen coklat, dan biskuit. Tambahan, madu dan tolak angin.
  5. Medicine and first aid. Ini disesuaikan dengan kebutuhan pribadi.Β Kalau first aid, gue sedia betadine, koyo, dan hansaplast
  6. Perlengkapan. Terdiri dari:Β baju hangat, jaket, kaos kaki 2, legging (untuk dipakai waktu tidur, jadi dipakai double dengan celana jeans), sarung tangan, syal, topi kupluk yang bisa menutupi sampai telinga. Bisa pakai sepatu hiking, sandal gunung, atau sport shoes. Masker juga diperlukan mengingat siang hari yang panas dan kondisi hutan yang banyak debu dan pasir. Carrier bagΒ yang nyaman dengan bawaan yang cukup, tidak berlebihan. Ada istilah traveling, “The Lighter The Merrier”. Semakin sedikit barang yang kita bawa, semakin bahagia kita di jalan. Dan ini terbukti di gue. Bawaan gue di tas carrier dikit, jadi nggak capek di bahu, dan mendaki pun juga nggak berat. Paling ya capek di kaki dan lapar. Hihi. Berat ransel berdampak sama fisik kita lho, mengingat kita kan naik dan turun gunung.
  7. DOA. Sebelum berangkat mendaki harus banget berdoa ya teman-teman! πŸ™‚

Pengeluaran:

  1. Snack, minuman, dan first aid : Rp 58.600
  2. Transportasi (bis, angkutan umum, taksi, ojek) : Rp 74.000
  3. Makan di RM Sri Rama Jimbaran : Rp 22.000
  4. Biaya menginap di Base Camp Mawar : Rp 3000


3 komentar gue untuk trip ke Gunung Ungaran ini. “Seru!”, “Bener-benar menguji emosi dan kekuatan”, “Kapan naik gunung lagi ya?” Ya begitulah, sepertinya gue ketagihan pengin naik gunung lagi. πŸ˜€

Semoga foto-foto dan tulisannya menginspirasi untuk naik gunung ya. πŸ˜‰ Sampai bertemu di Jojo Jalan Jalan episode berikutnya. πŸ˜€

Advertisements