Day304: The Tree House and Memories

Hari itu Ayah selesai membuat rumah pohon untuk aku dan adik laki-lakiku, Owen. Kami berdua keluar dari rumah dan berlari dengan penuh semangat ke arah rumah pohon itu. Rumah pohon buatan Ayah tidak terlalu besar, tapi pas untuk aku dan Owen. Kami begitu bersemangat untuk mengisi rumah itu dengan mainan dan benda-benda kesayangan kami. Aku berpikir pasti menyenangkan memenuhi ruang kosong itu dengan koleksi bonekaku dan satu set peralatan minum teh yang biasanya aku lakukan bersama teman-teman perempuanku. Owen punya ide lain. Dia bilang dia akan membawa koleksi mobil-mobilannya. Ketika Ayah mendengar ide kami, Ayah tidak menentangnya, hanya saja katanya alangkah baiknya kalau kami membawa barang yang seperlunya saja. Jika kebanyakan barang maka rumah itu akan sempit. Setelah kupikir-kupikir lagi, usul Ayah ada benarnya juga. Aku kan bukannya mau pindah kamar, jadi untuk apa membawa seluruh barangku ke rumah pohon. Ayah bilang pada kami bahwa ketika kecil dulu Ayah selalu ingin rumah pohon, tapi Kakek dan Nenek tidak pernah mewujudkannya. Ketika besar, Ayah berjanji akan menjadikan impian masa kecilnya nyata. Ayah sangat bahagia ketika akhirnya bisa membangun rumah pohon di halaman samping rumah.

Kata Ayah, rumah pohon bisa dijadikan tempat untuk kami menemukan kesenangan lain, seperti membaca buku dengan suasana yang berbeda atau mengajak teman untuk menginap sehingga malam hari kami bisa melihat keindahan bintang. Ayah bilang pada kami untuk tidak berebutan saat mau menggunakan rumah pohon. Ayah membebaskan keputusan pada kami berdua. Aku bilang pada Owen jika sebaiknya kami menjadwalkan pemakaian rumah pohon dengan cara bergantian sesuai urutan hari. Misalnya hari senin adalah jadwal untuk Owen, disusul hari selasa untukku dan seterusnya bergantian sampai hari sabtu. Untuk hari Minggu adalah hari bebas untuk siapa saja yang mau memakainya. Tapi kupikir saat hari Minggu tidak ada yang akan memakai rumah pohon karena hari Minggu adalah hari sibuk di keluarga kami. Kami punya acara yang sudah menjadi tradisi keluarga kami. Setelah selesai kebaktian pagi hari di gereja, kami akan mengunjungi rumah nenek dan kakek atau pergi ke rumah paman dan bibi yang letaknya di luar kota. Itulah kenapa hari minggu menjadi hari yang menyenangkan buat Owen dan aku karena kami punya waktu seharian bersama Ayah dan Ibu. Kami bepergian dengan mobil kesayangan kami yang modelnya sebenarnya sudah kuno, tapi Ayah belum mau melepaskan mobil tersebut karena katanya mobil itu punya kenangan tersendiri baginya.

***

Hari ini teman-temanku tidak main ke rumah, jadilah aku mengundang Ibu dan Owen untuk menemaniku menghabiskan sore hari di rumah pohon. Kami ngobrol banyak hal, tertawa, minum teh, dan makan kue pia buatan Ibu. Ibu menceritakan kebiasaan-kebiasaanku dan Owen ketika kami masih di sekolah dasar. Kata Ibu, aku dulu sangat pendiam dan selalu jadi korban keisengan Owen dan teman-temannya. Ibu juga cerita saat aku masih di kelas 6, aku pulang dengan wajah yang sembab dan dengan suara yang tersisa, aku bilang aku merasa sangat sedih. Ibu bilang kalau waktu itu aku ditolak cintanya oleh anak laki-laki ganteng yang kusukai sejak kelas 3. Owen dan Ibu tertawa, sedangkan aku sibuk menjelaskan pada mereka bahwa cerita sebenarnya bukan seperti itu. Selain cerita tentang aku, Ibu juga cerita kalau Owen sejak kecil pintar menghafal nama lengkap orang. Waktu aku mendengar ini, aku pun meledeknya. Aku bilang kalau Owen pasti juga jago mengingat nama lengkap anak-anak perempuan yang ditaksirnya waktu di sekolah. Owen pun lalu melempar bantal kecil yang ada didekatnya ke arahku, beruntung aku sigap, bantal itu tidak mengenaiku tapi jatuh ke lantai.

Setelah puas mendengar cerita tentang masa kecil, aku dan Owen pun memaksa Ibu untuk bercerita tentang kisah pertemuannya dengan Ayah. Aku melihat raut wajah Ibu langsung berubah, sedikit tersipu namun dia cepat-cepat mengalihkannya. Ibu bilang dia bertemu Ayah di sebuah reuni teman-teman kuliah. Diantara teman-teman prianya, Ayah terlihat yang paling ramah dan penampilannya pun menarik. Aku dan Owen langsung menggoda Ibu ketika kami mendengar pengakuan ini. Ibu bilang dia sangat menyukai Ayah. Ayah dan Ibu hanya berpacaran selama 6 bulan dan akhirnya menikah. Dari semua cerita sore itu, yang paling menarik adalah pengakuan Owen pada Ibu bahwa Owen pernah memecahkan piring kesayangan Ibu. Beruntung Ibu sedang senang, jadi Ibu tidak menanggapinya serius. Kami ngobrol banyak sore itu. Kue-kue dan teh pun habis tanpa sisa. 

Ah, aku sukaaa sore seperti hari ini. Ayah terpaksa tidak bisa ikut menghabiskan sore bersama kami karena masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi itu tidak membuatku sedih. Dengan Ibu dan Owen menemaniku, aku merasa nyaman dan bahagia. Rumah pohon jadi tempat pelarian yang menyenangkan. Rumah pohon yang disediakan Ayah mampu menopang semua cerita-cerita yang terjadi di keluargaku, yang nantinya akan menjadi kenangan-kenangan yang berarti, yang akan selamanya kuingat. Bahkan sampai aku tua nanti.

***

*) Illustration from Google.

**) Night, serabi, and Norah Jones. The end of October! Yeah.

Advertisements