Day214: Frisha dan Kursus Membuat Cookies

IBU pintar sekali membuat cookies. Aku ingin bisa membuat cookies enak seperti buatan Ibu. Liburan panjang sudah tiba, dan ini kesempatan bagus untukku. Kursus membuat cookies bersama Ibu. Kata Ibu, “Tapi janji ya, kau harus bisa membuat cookies terenak setelah kursus ini selesai.” “Aku janji”, kataku bersemangat, meski nadanya terdengar sedikit ragu.

Dan inilah resep yang akan kami coba hari ini, Ibu mendapatkannya dari internet.

Tiramisu Cookies

Bahan A:
225 gr Margarine
175 gr Gula halus
1 sm Rhum Tiramisu
1 btr Telur

Bahan B:
225 gr Tepung Terigu
25 gr Susu Bubuk
50 gr Keju
1/2 st Baking Powder

Bahan C:
1 st Coffee Caramel

“Ibu, apa yang harus kulakukan nih?”, kataku kebingungan, melihat banyaknya bahan-bahan kue di meja dapur.

“Margarine, gula halus, rhum tiramisu, dan telur dikocok dulu, kira-kira 2 menit. Baru setelah itu masukkan tepung terigu, susu bubuk, keju, dan baking powder. Lalu aduk rata. Semua bahan-bahan itu sudah sesuai ukurannya, kau hanya tinggal melakukan, yang Ibu katakan tadi”, kata Ibu yang sedang membersihkan oven.
Aku pun melakukan yang Ibu katakan. Aku merasa hebat, akhirnya Frisha Dira turun ke dapur, dan membuat cookies. Aku benar-benar ingin menjadi perempuan yang pandai membuat kue, dan suatu saat akan kuberikan pada cowok yang kusuka. Hmm, seperti pada Satria Dewangsa? Nggak mungkin, dia kan cowok populer yang jadi sasaran ganas cewek-cewek di sekolahku. Nggak mungkin Satria bakal suka padaku.

“Lho, kok melamun? Nanti nggak jadi-jadi cookiesnya”, kata-kata Ibu membuyarkan lamunanku.

Oke, bukan saatnya memimpikan Satria Dewangsa, saatnya bikin cookies.

“Bu, kenapa ibu bisa bikin cookies? Dulu Nenek yang mengajarkan yah?”, tanyaku sambil mengaduk adonan.

Ibu tersenyum, lalu katanya, “Dulu nenekmu tidak bisa membuat kue. Kar’na kakek terus-terusan menggoda dan membandingkannya dengan Silvia Mey –tetangga samping rumah yang jago membuat kue—, akhirnya Nenek pun mengikuti berbagai kursus membuat kue. Nenek suka cookies, dan di rumah sering berlatih membuat cookies, hingga menghasilkan cookies yang enak. Dan tebak, Kakek semakin sayang dan cinta pada Nenek, berkat cookies-cookies itu.” Kata Ibu, lagi-lagi tersenyum, kali ini senyumnya lebih cerah, seakan rindu pada rumah dan Nenek.

“Wah, Nenek hebat ya, bu. Lalu kenapa, Ibu juga memilih membuat cookies? Apakah Nenek yang memaksa?”
“Tidak ada yang memaksa Ibu untuk membuat cookies. Ibu suka makan kue, dan Ibu pikir alangkah hebatnya kalau bisa membuat kue sendiri. Dulu uang jajan Ibu tidak banyak, jadi Ibu harus membuat kue sendiri. Dan senangnya, Nenekmu slalu mau mengajarkan Ibu membuat macam-macam kue, dan membagi tips bagaimana membuat cookiesmu enak”

“Apakah Nenek juga seperti Ibu, yang selalu mencari resep di google?”, kataku meledek Ibu.

“Hahaha… Nggak. Tentu saja, Nenekmu melihat dari buku-buku resep. Nenek punya banyak buku resep masakan, resep berbagai macam kue, dan semuanya sudah pernah dicoba. Sekali-kali kau harus meminjam buku resepnya.”

“Iya bu, pasti”, kataku semangat.

“Sudah selesai, yah?” Ibu melihat adonan kueku. “Sekarang, bagi adonan menjadi 2/3 bagian warna, lalu masukkan ke kantung plastik split. Kemudian 1/3 bagiannya diberi satu sendok teh coffee caramel. Dan setelah semuanya selesai, kita bisa mencetak adonan, sesuka bentuk yang kita mau.”

“Mudah ya”, kataku sambil melirik Ibu.
“Kita lihat bagaimana besok, kalau kau yang membuatnya sendiri,” kata Ibu menantangku.

“Oke, siapa takut”, kataku dengan gaya yang sok berani. Padahal jelas, aku nggak yakin, akan seperti apa rasanya, kalau aku membuat kue sendiri tanpa ibu.

“Bu, kita mau membuat cookies dengan bentuk apa? Bentuk pohon natal bisa nggak?”

“Sebentar ya, ibu lihat dulu, apakah ibu masih menyimpan cetakan kue bentuk pohon natal itu”, ibu lalu membuka laci meja dapur, mencoba mencarinya.

“Ini, ada… Dan juga bentuk boneka, hati, dan lonceng gereja. Kau pilih saja yang kau suka.”

“Aku mau semua bentuk ya, bu. Wah, ini menyenangkan. Kue-kueku pasti cantik.”

Aku membentuk semua kue-kue itu dan lalu memasukkannya ke dalam oven. Setelah 45 menit menunggu, akhirnya kue-kue itu pun jadi. Ayah yang mencium aroma kue dari ruang kerjanya, menghampiri kami di dapur.
“Siapa yang membuat kue? Frisha atau Ibu?” tanya Ayah dengan wajah yang sedikit kelelahan. Mungkin karena pekerjaannya yang membuatnya harus bergadang sampai larut, dan bangun pagi untuk kembali melanjutkan.

“Aku Yah, aku yang membuatnya!”, teriakku senang.

“Dan ibu, guru kursusnya”, kata Ibu menimpali.

“Oke, kapan bisa Ayah coba, kue buatan anak Ayah yang cantik ini?”

“Sekarang, Yah. Ini coba cookies bentuk pohon natal… lalu yang ini ya, Yah”, kataku bersemangat.

Kulirik Ibu disampingku, dan katanya, “Nilai 80. Besok harus bisa 100 ya.”

“Siap, bu!”

Aku melihat cookies buatanku… PUAS. Ternyata tidak begitu sulit membuat cookies. Liburan masih panjang, dan artinya, masih banyak waktu untuk kursus membuat kue bersama Ibu. Hmm, aku pikir, mungkin aku akan memberikannya pada Satria, satu hari nanti. Di hari valentine? Siapa takut. 😉

***

(*) Sebuah tulisan lama tahun 2009. Lama sekali ya. 

Advertisements