Day179: Anjing Menggonggong, Kenangan Tak Pernah Berlalu

“Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint: buku Catatan si Anak Magang Film “Cinta Dalam Kardus” yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013.”

Ini udah hari ke 1825 sejak kita putus. Berusaha move on? Iya udah. Ngelupain kamu itu ibarat nyuruh aku ganti minum kesukaanku cappuccino sama minuman lain. Susah. Butuh waktu. Kamu sih enak udah nggak di Jogja lagi. Tapi aku, aku masih di kota ini. A lot of memories in this city. Kalau aku kasih tau beberapa, kamu masih ingat nggak?

Seperti, waktu Panji datang ke kost dan ternyata bawa kamu. Itu pertama kali kita kenalan. Pertanyaan kamu pertama setelah kita saling berjabat tangan adalah, “Kamu suka L’Arc-en-Ciel’ nggak?” Oya, kamu masih inget nggak konser Sheila on 7 di kencan pertama kita? Itu kan waktu pertama kamu gandeng tanganku waktu Duta nyanyi lagu kesukaan kita, “Kita”.

“Di saat kita bersama, di waktu kita tertawa menangis merenung, oleh cinta. Kau coba hapuskan rasa, rasa di mana kau melayang jauh dari jiwaku, juga mimpiku.”

Pacaran sama kamu nggak perlu susah-susah buat nyamain selera, karena kita punya beberapa kesukaan yang sama. Suka Converse, makan mie rebus cabe rawit di burjo deket kontrakanmu, lagu-lagu Coldplay, ikut konser musik apapun di kampus apalagi seringnya gratis karena kamu jadi cameraman di acara itu. Dari sekian banyak kesukaan kita yang sama, ada satu perbedaan yang awalnya sulit kuterima tapi akhirnya bikin aku sampai sekarang susah buat ngelupain kamu. Kamu tahu apa itu? Anjing.

Kamu tahu kan aku paling nggak suka sama anjing. Kamu juga tahu kan aku punya alergi sama bulu. Tapi kamu nggak pernah peduli. Kamu beli anak anjing dari temen kamu, terus kamu taruh di kontrakanmu. Kamu kasih nama Monky, yang kata kamu singkatan dari nama kita berdua. Monik dan Kiky. Kamu masih inget nggak sih ekspresiku waktu kamu ngomong itu? Aku kesal. Enak aja namaku dijadiin nama anjing. Tapi ya itulah kamu, nggak pernah nanggapin serius waktu aku kesal atau ngambek.

Hari-hari kita pun jadi bertiga. Aku, kamu, dan Monky. Aku jadi kesal sama Monky karena dia udah ambil perhatian dan waktu kamu. Tapi kalau dipikir-pikir, ngapain juga coba jealous sama anjing. Huh. Aku yang awalnya anti banget sama anjing, kamu paksa buat suka. Mulai dari belajar mandiin, kasih makan, sampai ngebersihin kotoran Monky. Nah, yang terakhir itu yang paling aku nggak suka. Obrolan kita pun udah nggak melulu soal film, musik, atau buku, tapi juga soal Monky.

Kita jarang banget berantem. Tapi sekalinya berantem besar, itu hari dimana kita akhirnya memutuskan untuk jalan sendiri-sendiri.

Selama sama kamu, ada beberapa barang yang kamu kasih ke aku. Sebagai hadiah ulang tahun, atau kejutan di saat kamu sedang iseng. Semua barang yang kamu kasih, aku simpan di kardus lho. Waktu masih jadian, aku taruh kardus itu di kamar, tapi sejak putus, aku taruh di gudang. 🙂

Dari semua barang, ada satu yang selalu ngingetin aku sama kamu. Monky. Udah tambah besar dia. Dia masih setia nemenin aku di sini. Biarkan Monky menggonggong, dan kenangan (kita) tak pernah berlalu.

Monky ^^

Monky ^^

Advertisements