Day150: Memahami atau dipahami?

Berusaha memahami setiap orang dengan keunikan karakter mereka terkadang melelahkan. Kalau bertemu dengan teman yang kegilaannya sama, pasti tak perlu banyak waktu untuk menyesuaikan diri. Memang menyenangkan memiliki teman baru, tapi itu berarti kita juga harus siap dengan segala konsekuensinya. Disukai atau dibenci. Inilah yang kulakukan setiap bertemu dengan orang baru. Berusaha memahami. Memahami karakter mereka, bahasa mereka, dan kesukaan mereka.

Sejak lulus SMP, aku sudah tinggal jauh dari rumah. Ayah mendukungku untuk masuk ke sebuah sekolah khusus putri di Jogja, dan karena waktu itu asrama penuh, maka aku memutuskan untuk nge-kost di sebuah kost-kostan putri yang letaknya di samping sekolah. Sebagai anak rumahan yang pendiam dan pemalu, nggak mudah bagiku untuk berinteraksi dan beradaptasi waktu itu. Di kost maupun di sekolah, aku bertemu banyak anak perempuan dari berbagai daerah dengan logat mereka yang unik-unik. Ada yang berasal dari Papua, Jakarta, Kalimantan, Kupang, Jawa Timur, dan masih banyak lagi. Sebagai orang Jawa, aku terbiasa mendengar dan berkata yang halus. Namun ketika bertemu dengan teman dari daerah lain yang berbicara ceplas ceplos dan (menurutku) sedikit kasar, sudah pasti aku butuh penyesuaian. Begitu juga saat bicara tentang kebiasaan-kebiasaan yang mereka bawa dari rumah, pastilah sebagai anak kost yang tinggal satu atap, aku butuh lebih dari sekedar memahami teman-temanku itu. Aku harus menerima mereka, dengan segala keunikannya. Tentu saja akan ada momen-momen salah paham, tersinggung, dan kesal. Tapi ketika kamu tinggal jauh dari rumah, belajar untuk mandiri, di saat itulah kamu tidak punya pilihan lain selain memahami dan menerima lingkungan di mana kamu tinggal.

Aku menghabiskan masa remajaku di Jogja dan bersyukur punya kesempatan bersekolah di sana. Tidak hanya menyelesaikan sekolah menengah atas, tapi juga sampai perguruan tinggi. Jogja adalah kota tempat aku tumbuh. Banyak kenangan dan kesenangan yang tidak terlupakan di sana. Banyak hal-hal baru yang kutemui, yang berusaha kupahami dan kuterima. Keragaman Jogja dengan segala keunikan budaya dan karakter manusia-manusia di dalamnya membuat hidupku semakin kaya.

Begitu menyenangkan tinggal jauh dari rumah, karena di sanalah kita ‘dipaksa’ belajar untuk peka terhadap lingkungan. Peka terhadap karakter orang, budaya setempat, dan bahasa di mana kita tinggal. Dipaksa mungkin tidak enak, tapi jika itu satu-satunya pilihanmu, maka seharusnya itulah yang harus kita lakukan. Toh tidak pernah ada ruginya memahami orang lain, karena setelah kita benar-benar mampu memahami orang lain atau lingkungan sekitar, maka tanpa kita sadari itu akan membawa kita pada kesediaan untuk menerima. Menerima baik dan buruknya karakter, juga sisi positif dan negatifnya pengaruh lingkungan di kehidupan kita. 

Hidup selalu menawarkan pilihan. Bersyukurlah jika saat ini kamu tinggal di lingkungan nyaman dengan teman-teman yang menyenangkan, tetapi toh tetap saja kamu tidak bisa menghindar dari teman-teman yang menurutmu sikap atau karakternya menyebalkan. Kalau saja dunia penuh dengan orang-orang dengan pemikiran atau hobi yang sama, betapa membosankannya. Mungkin itulah kenapa Tuhan selalu menempatkan kita di antara dua tipe teman, yang menyenangkan dan menyebalkan. Unik dan aneh. Dengan begitu kemampuan kita memahami orang lain pun semakin meningkat, seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan tempat kita tinggal.

Pertanyaannya adalah, ingin memahami atau dipahami terlebih dulu? Mungkin jawabannya terletak pada kerendahan hati masing-masing individu.

 

Advertisements