Day108: Lari

pepito

Tahun ini aku mencoba untuk konsisten dalam hal apa pun. Termasuk berolahraga. Sudah dua kali ini aku lari pagi bareng teman-teman kerja setiap hari sabtu. Akhirnya sepatu lariku terpakai lagiii! Senang. πŸ™‚

Kemarin sore sehabis pulang kerja, aku dan teman kerjaku janjian untuk jogging. Saat lari, aku suka mengamati sekelilingku. Ada beberapa atlet lari yang berlatih sore itu. Seru melihat bagaimana mereka berlatih. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Cara mereka lari pun berbeda denganku. Aku lari dengan ritme yang asal-asalan dan tanpa target. Kalau sudah capek, aku akan jalan dan setelah cukup tenaga untuk lari lagi, aku meneruskan lari. Beda dengan para atlet itu. Mereka punya target dan ritme lari yang terarah. Mereka bisa mengatur nafas dengan baik dan ayunan kaki mereka seperti melangkah tanpa ragu. Kadang mereka lari sangat cepat, namun sesekali lambat.

Temanku sempat menanyakan alasan kenapa sekarang aku jadi suka jogging. Aku bilang ada dua alasan. Pertama, karena aku ingin menurunkan berat badan. πŸ˜€ Kedua, karena aku mau belajar untuk konsisten. Ada 3 hal yang masih kukerjakan dan berharap itu bisa konsisten kulakukan. Seperti, mengirim devotional quote setiap pagi ke keluarga dan teman-temanku. Berolahraga dan menulis blog setiap hari. Dari ketiga hal itu, yang paling konsisten kulakukan adalah kirim devotional quote. Menjadi konsisten sama apa yang kita lakukan memang nggak mudah. Selalu ada 1001 alasan untuk menunda mengerjakan sesuatu. Kalau sudah merasa jenuh dan malas, aku suka ingat-ingat lagi tentang kisah orang-orang yang kukagumi, yang menjadi inspirasiku. Aku mudah sekali kagum terhadap orang lain, apalagi melihat bagaimana kualitas hidup mereka.

Aku ingat tentang dua hal yang kudapat saat lari. Pertama, pelajaran tentang berusaha lebih keras lagi. Saat aku capek dan rasanya nggak sanggup lagi meneruskan lari, aku lihat bagaimana pelari-pelari di sana masih berjuang untuk bisa mencapai target mereka. Setiap orang berusaha untuk tetap berlari, tetapi sedikit yang mencapai garis finish karena mereka lebih memilih menyerah daripada berusaha lebih keras lagi.

Kedua, tetapkan langkahmu senyaman mungkin. Tidak terlalu lambat, tetapi juga jangan tergesa-gesa. Jika kita mengikuti ritme hidup yang lambat, kita akan tertinggal. Hidup perlu target, jadi tidak hanya sekedar hidup lalu tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi jika kita tergesa-gesa dan selalu terburu-buru, kita jadi lupa untuk menikmati hal-hal yang menyenangkan yang ada di sekeliling kita.

***

Pada akhirnya, selain badan jadi sehat, dengan lari, aku jadi merasa lebih fresh. Aaaahh, doakan aku bisa konsisten olahraga ya! πŸ™‚

Advertisements