Day101: Hari Hari Penuh Syukur

Ini cerita gue waktu jatuh dari motor dan masa recovery nya, dan juga alasan kenapa selama bulan maret gue nggak nulis blog. 🙂

***

Kadang kalo lagi mengalami kejadian buruk, rasanya aku ingin cepat-cepat menekan tombol “SKIP”. Tapi sayangnya, dibalik peristiwa-peristiwa baik dan menyenangkan, pasti tetap ada kejadian nggak mengenakkan yang harus dilalui. That’s life! Dan hari itu pun datang. Aku kecelakaan. Kecelakaan tunggal tepatnya. Iya, aku jatuh dari motor dalam perjalanan ke tempat kerja. Kok bisa, sih? Nggak hati-hati ya? Jangan-jangan kamu melamun! Bener kok, seingatku aku sangat hati-hati tiap kali bawa motor, dan jalanan yang aku lewati itu memang buruk. Banyak lubang dan sedikit basah sisa hujan malam harinya.

Kamis, 28 Februari 2013

“UGD”

Ini bukan kali pertama aku jatuh dari motor. Seingatku ini kali kelima, dan semuanya kecelakaan tunggal. Yak ampun, Jo! Kasian amat. Dulu pernah tuh pingsan waktu lagi bawa motor. Bayangin PINGSAN! Sebelumnya belum pernah pingsan, ini sekalinya pingsan lagi sendirian dan bawa motor! Ngeriii. Puji Tuhan lho nggak ditabrak. Aku aja nggak tahu kenapa bisa jatuh dan pingsan. Sama sekali nggak ngerasain sakitnya, tahu-tahu bangun sudah digendong mas-mas. Aku jatuh dekat bengkel motor dan mobil di daerah Seturan Jogja. Langsung deh orang-orang yang nolong itu ngambil HP dan nanya ke aku siapa yang bisa dihubungi, dan aku jawab dengan lemas dan kebingungan, “Edo.” Mereka menghubungi adekku Edo yang lagi di rumah. Padahal beberapa menit sebelumnya aku barusan pamit sama Edo mau pergi ke gereja.

Edo pun akhirnya datang sama Om Ahmad, tetangga sebelah rumah. Kami ke rumah sakit di Babarsari pakai mobilnya Om Ahmad. Sediiihh. Dan di sana, dibersihin lukanya dan DIJAHIT dahinya, karena sobek. Pasrah. Selesai dijahit akhirnya boleh pulang. Dan aku baru sadar kalau pipiku lebam, jelek banget deh bentuknya. Teman-teman gereja pun datang menjenguk. Ibu juga sampai datang dari Cilacap untuk merawat.

***

Kejadian nggak enak pun terulang lagi. Kali ini di Semarang, dimana aku jauh dari keluarga. Pagi itu jam 7 kurang dan aku keluar dari perumahan Semarang Indah menuju tempat kerja. Di tengah perjalanan, motorku tiba-tiba seperti terpelanting, aku jatuh dan kaki kananku ketindihan motor. Aku melambai kesakitan sama orang yang berhenti dekat situ. Dan setelah dibantu untuk bisa berdiri, aku pun lihat ke bawah dan ternyata… darah mengucur deras dari kaki kananku dekat jari-jari. Bingung. Orang-orang yang menolong di situ menanyakan apakah aku bisa bawa motorku sendiri, dan mereka menyarankan aku untuk pergi ke Klinik 24 jam nggak jauh dari situ. Aku bilang saja, aku nggak mampu bawa motor. Akhirnya seorang bapak yang tinggal deket situ bersedia mengantarku ke Klinik itu. Waktu aku duduk di belakangnya, rasanya lemas, penglihatanku putih, tanda-tanda mau pingsan tapi coba kutahan. Ternyata Kliniknya dekat dan sesampainya di sana, aku harus kecewa karena petugas di sana bilang bahwa dokternya belum ada. Akhirnya, dengan kaki yang sudah berdarah dan lemas, aku memaksakan diri membawa motorku pergi menuju tempat kerja. Sebenarnya kedua kaki sudah bergetar, tapi aku nggak peduli.

Sesampainya di pos satpam, aku lihat temanku sedang absen dan dengan suara yang lemah dan kurang jelas, aku bilang aku baru saja jatuh. Dan aku segera memarkir motor dan berjalan tertatih menuju bangku dekat pos satpam. Temanku, Miss Dewi, mendekati dan dia panik lihat lukaku. Dia minta air putih pada satpam-satpam yang di pos, dan mereka bilang tidak ada. Waktu Miss Dewi ke lantai 3, salah satu satpam memberiku air mineral gelas. Setelah itu mereka menanyakan dimana aku jatuh.

Miss Dewi akhirnya datang dengan 2 staf cleaning service, Miss Titin dan Mr. Adi. Mr. Adi sudah siap mengantarku ke rumah sakit dengan motornya. Sementara itu, teman-temanku pada datang. Aku pun naik motor dan kepalaku kusandarkan ke punggung Mr. Adi. Aku nangis. Antara bingung, shock, sedih, dan malu. Karena takut aku kenapa-kenapa, Miss Titin pun ikut mengantarku dan dia duduk di belakang menjagaku.

Aku diantar ke Rumah Sakit Telogorejo Semarang, yang letaknya di belakang Mall Ciputra Simpang Lima. Ini kali pertama aku pergi ke tempat ini. Dan sebuah tulisan yang seumur hidup tidak pernah kusuka pun ada di sana… UGD. Aku diantar ke UGD dengan sebuah kursi roda yang dituntun seorang petugas rumah sakit. Jam 7 pagi dan yang kulihat di sana adalah dokter dan perawat yang berkumpul di bagian pendaftaran, dan mereka seperti sedang rapat kecil.

Aku pun diantar ke sebuah ruangan dimana AC nya sangat dingin. Aku masih duduk di kursi roda menunggu perawat memasangkan seprai. Aku pun berbaring di tempat tidur dan perawat itu mulai membersihkan luka-lukaku. Aku bersyukur hari itu aku pakai jaket sehingga tanganku aman. Kaki kiri dekat jari-jari lecet dan kaki kanan yang parah. Saat perawat satu sedang membersihkan lukaku, datang perawat laki-laki lain yang menanyakan apakah aku alergi terhadap obat tertentu atau aku punya penyakit khusus. Aku bilang tidak ada. Setelah itu dia memeriksa tekanan darahku. Dan saat itu pun listrik mati. Krik.. krik. Di dalam ruangan bersama 2 perawat laki-laki. Aku pun dibiarkan menunggu. Nggak terlalu lama listrik pun menyala. Dan perawat itu kembali membersihkan kakiku dari pasir-pasir yang menempel. Dia bilang, “Orang biasanya nangis waktu dibersihkan kaya gini, mbaknya kok nggak. Tahan sakit ya.” Aku cuma senyum. Mau sedikit bangga, tapi kok rasanya miris. >.<

Seorang dokter wanita datang dan dia bilang kakiku harus dijahit. Apa? DIJAHIT? Oke, pasrah. Dokter tanya apakah ada orang yang bisa dihubungi untuk diminta sebagai saksi, aku bilang nggak ada. Jadilah dokter nanya apakah aku mau, dan aku bilang iya. Pas dia nyebut harganya, responku dalam hati… ‘Oh, okaaayy!”. 😀 Akhir bulan… gaji sudah ditransfer dan harus bayar biaya… Ah, sudahlah. Nggak mau dibawa ribet. Yang penting gimana cepat sembuh! 😀

Jadi sebelum dijahit, dokternya masih harus bersihin lukaku dulu karena kotor banget, masih banyak pasir.  Dan pas disuntik bius di kaki itu rasanyaaa… SAKIIITT. T.T Dan habis itu dijahitlah. Si Dokter bilang jahitannya nggak bisa bagus, tapi dia mengusahakan yang terbaik. Kalau sudah dibius kan harusnya nggak terasa, tapi waktu itu aku sempet ngerasa kayak kesetrum gitu. Nggak tau kena alat apa kakiku, rasanya kayak kesetrum, kaget.

Dokternya nanya, “Terasa ya? Sakit?” Terus aku bilang aja yang sebenarnya kalau aku itu kedinginan karena AC nya dingin parah. Terus mereka nawarin selimut, aku jawab mantap dengan agak malu, “Mau.” 😀

Selesai acara jahit menjahit yang butuh beberapa menit itu, Dokter pun bilang kalau 2 hari lagi aku harus ke klinik untuk dilihat apakah infeksi atau nggak. Habis itu aku disuntik tetanus sama perawatnya.

Aku diantar ke bagian administrasi dengan kursi roda yang dituntun perawat. Aku bingung siapa yang nunggu aku di depan, dan perawatnya pun membantu mencari di ruang tunggu. Terus temanku Miss Naniek muncul. Aku pun langsung nyerocos nanya ada ATM nggak, mau ngambil uang, dan temenku itu cuma bilang, “Tenang, kak. Aku bawa, kok.” Lega. Habis itu aku buka tas ranselku dan menyadari bahwa aku nggak bawa handphone, ketinggalan di kamar kost. Padahal aku nggak pernah sampai lupa bahwa HP, tapi kenapa hari itu terasa semua ‘special’.

Naniek pun bantuin aku menyelesaikan urusan administrasi dan habis itu kami ke parkiran, nunggu Mr. Adi bawa motor. Aku ikut motornya Naniek. Balik ke tempat kerja, dan istirahat di kelas tempat aku biasa ngajar. Hari itu nggak ada kelas PPG, jadi kosong. Teman-teman kerjaku satu persatu datang ke kelas dan njenguk. Aku harus mengulang cerita tentang kejadian kecelakaan itu.

Sempat ngobrol dan ketawa-ketawa sama teman-teman, dan akhirnya jenuh tiduran, aku pun pergi menyelesaikan kerjaan hari itu. Bikin laporan mingguan tentang perkembangan murid-muridku selama seminggu. Hari tu harus di-print dan ditaruh di masing-masing folder anak.

Kerjaan selesai dan sore itu aku nunggu travel untuk ke Cilacap. Aku dapat ijin dari wakil kepala sekolah untuk pulang kampung karena dia tahu kalau di Semarang nggak ada yang merawat. Karena 2 kaki diperban, jadilah aku nggak bisa pakai sepatu dulu.

Travel datang dan disambut dengan sopir travel yang ngomel-ngomel karena ternyata dia sudah nunggu lama di depan. Di travel ternyata aku perempuan sendiri, yang lain penumpang laki-laki semua. Aku duduk di belakang sopir jadi kaki bisa kuluruskan. Tiap ngelamun gitu masih terbayang kejadian waktu jatuh dari motor. Sehati-hatinya kita melangkah, pasti ada hal-hal yang terjadi di luar kuasa kita. I always believe that He never give us a bad things. Selalu ingat Yeremia 29:11.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Jumat, 1 Maret 2013

“Home Sweet Home”

Aku nyampai di Cilacap jumat dini hari. Turun di depan rumah dan waktu turun mobil dibantu ibu. Ibu kaget liat keadaanku. Begitu sampai rumah yang kucari adalah kasur. Setelah perjalanan Semarang – Cilacap yang kurang lebih 7 jam itu, aku benar-benar capek. Dan tahu sendiri kalau naik travel, deg-degan pasrah. Sopir travelnya hobi ngebut dan nyalip. Kalau naik travel itu bawaannya doa mulu. 😀 Nyampai rumah nggak bisa tidur, dan badan agak demam. Seluruh badan pegel semua. Kalau bahasa populernya itu, “njarem”. Aku minta Ibu untuk beli minyak tawon buat ngolesin badan-badan yang pegel. Sore harinya ke klinik temennya Ibu. Dia kerja di puskesmas tapi buka praktek di rumah juga. Namanya Nora.

Kakiku masih sakit buat jalan, jadi harus dibantu. Naik taksi langganan rumah, sopirnya bernama pak Yoto. Usianya kira-kira 50-an. Orangnya baik dan ramah. Waktu di klinik, perbanku dibuka dan dibersihkan.

Karena kesulitan dan sakit buat jalan, akhirnya aku digendong pak Yoto. Dari kamar klinik ke taksi, dan dari taksi ke kamar. 😀 Untung badanku kecil. Hihi.

Berhubung aku belum bisa jalan, Ibu menaruh toilet duduk yang bentuknya seperti kursi itu di kamarku. Dulu beli itu untuk Ayah, karena Ayah stroke dan toilet kursi itu untuk membuat Ayah tidak perlu pergi ke kamar mandi. Karena dulu keadaan Ayah tidak sebagus sekarang. Sekarang sih Ayah sudah bisa melakukan aktivitas apa pun sendiri.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7)

Sabtu, 2 Maret 2013

“Count your blessings.”

Hari ini bangun dengan badan yang masih pegel-pegel. Pagi hari ke klinik lagi untuk dibersihkan. Sakiiitt! Kaki kiri lecet biasa, yang sakit itu kaki kanan yang habis dijahit. Hari ini merepotkan Pak Yoto, karena harus menggendong aku lagi. 🙂

Oya, waktu aku aktifin hp ku, aku dapat bbm dari wali muridku yang cerita tentang kejadian lucu di rumahnya. Ibu ini punya anak kembar, namanya L dan B. Ibu ini cerita kalau si B ini nanyain aku di mana, kenapa Miss Yoan nggak masuk. Baiknyaaa. :”) Ibunya punya menjelaskan alasannya dan ngajak si B berdoa buat aku. Nggak disangka, si B langsung ambil posisi berdoa, padahal biasanya B susah berdoa. Waktu doain orang lain, si B protes dan maunya cuma doain aku aja. Giliran namaku disebut, si B bakal diam. Terus kalau mulai doain orang lain lagi, si B protes lagi dan bilang, “Mii, doain Miss Yoan, aja.” 😀 Kesimpulannya, bukannya berdoa malah protes terus. Hihi.

Hari ini aku pindah kamar dari kamarku yang dekat ruang keluarga/ruang tivi ke kamar depan, kamarnya Edo. Kamarnya Edo lebih luas sedikit dari kamarku. Enaknya di kamar depan adalah bisa mendengar aktivitas tetangga dan kesibukan di luar sana.

Hari ini teman-teman guru Ibu datang menjenguk, disusul malam harinya teman-teman gereja Ibu yang berkunjung. Salah satunya adalah Tante Herlin, teman akrab Ibu yang juga seorang pendeta. Dia kasih cerita yang lucu, kata-kata penyemangat, dan dia juga bilang kalau Tuhan itu nggak pernah kasih berkat yang second.

“… anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4)

Minggu, 3 Maret 2013

“Focus on happy things”

Hari ke-3 dan masih terbaring lemah di tempat tidur dan jelas aku belum bisa pergi ke gereja hari ini. Hari ini badan sudah berkurang pegel-pegelnya. Adekku, Tina, main ke kamar. Terus dia buka-buka album foto yang isinya foto-foto lama, dan kita ketawa-ketawa sambil saling menghina muka jadul masing-masing. 😀

Sore hari ke klinik dan gerimis. Dan sebelum ke klinik, aku pasti gelisah. Sudah ngebayangin sakitnya luka kaki dibersihkan dan dipencet-pencet. Dan yah, pasti nangis. 😦 Selesai dibersihkan ngobrol-ngobrol deh sama mbak Nora nya. Orangnya selalu bersemangat gitu tiap kali cerita.

Malam harinya tetangga-tetangga pada jenguk, deh. Maluuu. Tanteku dan anaknya juga datang. Oya, ada satu tetanggaku yang baik, namanya Bu Vena. Waktu itu dia cerita tentang anaknya yang berhasil di Jakarta, padahal anaknya itu hanya lulusan SMU, lho. Bu Vena juga bilang kalau kita harus TAAT. Iya, taat sama Tuhan dan keberhasilan bakal ngikutin di belakangnya.

Senin, 4 Maret 2013

“His grace is amaziiinng.”

Sudah nggak pegel-pegel lagi. Kayaknya memang pegel-pegel terdahsyat tuh cuma 2 hari.

Aktivitas selama sakit: baca bible (hihi), chicken soup, dan renungan harian yang diterjemahkan dari “The Upper Room”. Isinya tentang pengalaman iman orang-orang di berbagai belahan dunia. Bukunya kecil dan tulisan dari tiap orangnya sangat singkat.

Hari ini bisa mandi sendiri di kamar mandi! Horeee! 😀 Kemarin-kemarin nggak mandi, hanya disibin sama Ibu. Berhubung masih sakit buat jalan, jadi pas mau ke kamar mandi aku duduk di kursi yang ada rodanya, dan Ibu dorong kursi itu sampai ke kamar mandi. Hihi.

Sore harinya ke klinik lagi. Waktu dibersihkan dan diganti perban nggak begitu sakit seperti kemarin. Selesai dibersihkan, kami bertiga duduk di ruang tamu dan ngobrol-ngobrol sebentar. Suka banget sama ruang tamunya karena pemandangannya langsung sawah. 🙂

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:13

***

Sebenernya masih panjang ceritanya, tapi kupersingkat aja ya. Jadi, total masa recovery ku adalah 3 minggu dan selama itu aku ijin nggak masuk kerja. Dari jatuh, dijahit, yang paling sakit sih waktu diangkat jahitannya. 😦 Aku masuk kerja lagi akhir bulan maret, dan hanya masuk 3 hari karena setelah itu ada libur paskah. Waktu di Semarang, aku dan Ibu cari kos baru yang dekat sama tempat kerja, dan akhirnya setelah ketemu yang sreg, aku pun pindahan kos. Kos baruku sekarang sama kantor hanya berjarak 5 menit kalau jalan kaki. Sekarang sih nggak bawa motor lagi, sudah dijuaaall. 😀

Hikmah dari semuanya adalah seneng bisa kenal sama orang-orang baru seperti Pak Yoto, supir taksi yang baik dan mbak Nora. Makasih juga untuk temen-temen Mama yang udah repot-repot jenguk. 😀 Hikmah lainnya adalah selalu berhati-hatilah waktu berkendaraan di jalan raya. 😀 Musibah bisa datang kapan aja, yang pasti sebelum pergi-pergi musti doa duluuu. 🙂

Advertisements