Day52: Pagi yang Lapar, Blueberry Strussel, dan Paman Hubert

Bingung mau posting apa hari ini. Pengin posting kulineran, tapi lagi nggak kulineran. Udah bosen juga bahas film di sini. Hari ini akhirnya nyelesein 1 cerpen anak yang sebenernya udah lama tulisan itu ngumpet di draft berjudul “Cerpen-cerpen Belum Jadi.” Akhirnya tadi kucoba selesein dan mau aku posting di sini. Udah lamaaa juga nggak nulis cerpen anak. Lega akhirnya bisa nyelesein meski nggak sempurna juga, tapi ya setidaknya berhasil nyelesein aja udah hebat banget buat aku! 😀 Silakan membaca… 🙂

***

Pagi yang Lapar, Blueberry Strussel, dan Paman Hubert

CASEY merasa sangat lapar pagi ini. Dia lalu teringat dengan Toko Kue dan Roti Hubert. Letaknya di ujung jalan Trompolis, dan Casey memilih untuk berjalan kaki saja. Agak seram bersepeda ke sana, karena jalanan padat dengan kendaraan. Selain jauh lebih aman dan sehat, Casey juga ingin menikmati udara pagi yang sejuk di Manhattan.

“Hubert” adalah toko kue dan roti yang cukup terkenal di kotanya. Tidak begitu besar, tapi sangat nyaman, ditambah lagi layanan yang ramah di sana. Paman Hubert—pemilik toko tersebut—dulunya seorang koki hebat di restoran besar di Houston. Sejak istrinya meninggal, Paman Hubert memilih kembali ke kota asalnya, dan membangun bisnis kecilnya di sini. Dalam satu tahun bisnis rotinya melejit. Di “Hubert”, kita bisa menemukan kue-kue yang enak, juga roti-roti yang lucu dan manis. Kue favorit Casey adalah Blueberry Strussel. Cake blueberry dengan aroma dan rasa yang lezat.

Paman Hubert adalah pria bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal, dan kedua tangannya selalu beraroma sedap. Ini karena setiap harinya Paman Hubert selalu memanggang kue. Paman Hubert suka sekali tertawa, seolah-olah dia tidak pernah bersedih. Meski Paman Hubert tidak memiliki anak, namun tidak pernah merasa kesepian. Karena di “Hubert”, setiap hari sabtu dan minggu, mereka mengadakan pesta untuk anak-anak. Seperti belajar membuat kue bersama Paman Hubert. Mencampur adonan, menghias kue, dan memanggangnya sambil menikmati kudapan yang diberikan para karyawan Paman Hubert. Musik-musik yang dimainkan sepanjang kelas memasak pun sangat memanjakan telinga anak-anak. Paman Hubert begitu sayang pada anak-anak, dan sebaliknya, anak-anak pun selalu tak sabar, menantikan kebersamaan dengan Paman Hubert.

Saat sampai di “Hubert”, Casey merasa sangat nyaman. Dia menyukai interior toko yang didominasi oleh warna cokelat, yang berkesan homey. Ketika sibuk mencari cake Blueberry Strussel, suara yang berat dan hangat menyapa dirinya dari arah belakang, “Selamat datang di Hubert, gadis kecil. Mencari kue apa?”

Casey mendongak, senyum ramah Paman Hubert menyapanya, “Aku mencari Blueberry Strussel. Ada di sebelah mana, paman?”

“Oh, kebetulan sekali. Setiap hari Rabu pagi, ada diskon khusus untuk Blueberry Strussel. Kau ingin berapa banyak? Satu keranjang penuh?”

“Iya, aku mau satu keranjang penuh. Apakah ada kue yang didiskon lagi, paman?”

Casey menatap Paman Hubert dengan harapan besar. Dia berpikir, akan sangat beruntung jika dia bisa membeli kue-kue yang sangat lezat itu dengan setengah harga.

“Hanya Blueberry Strussel yang mendapat potongan harga hari ini. Mungkin kau bisa datang Kamis pagi untuk Cinnamon Apple Pie, Jumat pagi untuk Kue Jahe—atau kalau kau mau tahu, kue-kue apa saja yang mendapat potongan harga dan kapan harinya, kau bisa lihat jadwalnya di meja kasir.”

Casey lalu mendekati meja kasir yang berada di dekat pintu masuk. Seorang perempuan muda menyapanya dengan hangat, “Ada yang bisa kubantu?”

“Aku mau bertanya tentang harga special dan kue-kue apa saja yang akan dibuat setiap bulannya, apakah aku akan mendapat harga khusus jika aku menjadi anggota dari toko ini?”

“Tentu saja. Ini…”, katanya sambil memberi sebuah kertas kosong bertuliskan “Hubert” di bagian atasnya. “Kau bisa menuliskan nama dan nomer yang bisa kami hubungi dan kami akan menelponmu jika kami punya menu baru dan info mengenal hari special di Hubert, dimana ada potongan harga kue favoritmu.”

“Wow! Ini keren sekali!” Casey membayangkan kue-kue Hubert yang lezat dan dia bersemangat mengisi kartu anggota tersebut. Terbayang di benaknya dia akan menghemat beberapa sen dari uang jajannya dan bisa membeli kue-kue Hubert yang banyak.

“Terima kasih. Kembalilah besok untuk mengambil kartu anggotamu.” Kasir itu tersenyum pada Casey.

Setelah selesai membuat kartu anggota, Casey segera mengambil Blueberry Strussel dan membayarnya. Saat dia hendak keluar dari toko, dia melewati tangga dan dia mendengar ada suara anak-anak yang tertawa riang yang membuat dia sangat penasaran, apa yang sedang terjadi di lantai dua. Casey pun segera naik ke lantai dua dan dia melihat beberapa anak sedang duduk di lantai dan ada Paman Hubert di sana.

“Hai, gadis kecil! Kau juga ingin membantu?” Paman Hubert tersenyum senang menyambutnya dengan tangan yang sibuk memasukkan roti-roti ke dalam plastik pembungkus.

“Ngg, aku nggak tahu ada apa di sini”, kata Casey kebingungan.

“Kami sedang membungkus beberapa roti dan kue untuk anak-anak di panti asuhan. Kalau kau punya waktu, kau bisa membantu kami membungkus roti-roti ini.”

“Yaa! Aku nggak sedang buru-buru.”  

“Siapa namamu, gadis kecil?” tanya Paman Hubert.

“Namaku Casey. Aku tinggal nggak jauh dari sini.”

“Oh, Casey. Apakah menurutmu anak-anak di panti asuhan akan menyukai roti-roti ini?”

“Tentu saja, paman. Mereka harus tahu dan merasakan juga bahwa roti-roti Hubert adalah yang terbaik di kota ini!”, ujar Casey bersemangat.

Kata-kata Casey membuat Paman Hubert dan yang lainnya tertawa.

Casey bersemangat membungkus roti-roti itu dan dia juga berkenalan dengan beberapa anak di sana. Casey berpikir pasti akan menyenangkan berbagi kue favoritnya dengan anak-anak di panti asuhan. Casey menikmati kegiatan barunya, membungkus roti-roti bersama Paman Hubert dan teman-teman baru. 

Advertisements