Day20: Kutipan Favorit dari Novel “When Tomorrow Comes”

Aku lagi baca buku Peter O’ Connor yang judulnya, “Gerhana Terakhir (When Tomorrow Comes)”, tapi baru 1 bab, sih. 😀 Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang kakek dan cucu perempuannya melintasi Australia demi memenuhi keinginan terakhir si kakek, yaitu melihat gerhana matahari total. Dan ini kutipan-kutipan favoritku dari novel itu:

Hanya sedikit hal yang pasti dalam hidup ini, tapi berdasarkan pengalamanku ada satu hal yang selalu benar,  yaitu waktu yang kita buang tak mungkin diperoleh kembali. Kita masing-masing hanya diberi satu kali kehidupan, dan kalau kita menyia-nyiakan hidup itu untuk hal-hal yang tidak sungguh-sungguh kita cintai, yang kita dapatkan hanyalah tragedi.

Tapi akhirnya, setiap orang harus berpikir untuk dirinya sendiri dan membuat keputusan sendiri.

***

Sewaktu muda, aku memikirkan banyak hal.

Pikirku aku membutuhkan kebebasan,

Tapi kata orang aku butuh pengarahan.

Pikirku aku bisa membuat pilihan sendiri,

Tapi kata orang aku punya kewajiban.

Pikirku aku seharusnya mengikuti impianku,

Tapi kata orang aku harus mengikuti peraturan.

Sewaktu muda, aku memikirkan banyak hal,

Tapi aku sudah lebih tua kini, dan semua pikiranku sudah tiada.

***

Waktu meninggalkan rumah, aku masih anak-anak yang naif. Tapi setelah menyaksikan begitu banyak temanku tewas dan tersadar betapa singkat dan berharganya kehidupan itu, aku tak sanggup diam saja menerima hidup yang digariskan orang lain untukku. Aku tahu bertahun-tahun lagi aku akan terbangun sebagai pria tua yang penuh penyesalan. Orang yang tak pernah berani mencoba melakukan hal-hal yang luar biasa. Yang tak pernah berani menghidupkan impiannya.

***

Aku pun berpikir tentang hidup dan betapa seringnya kita menganggap enteng kehidupan ini. Dalam puisi ini aku mencoba menjabarkan sikap yang sering kita perlihatkan, untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa, bagaimanapun, besok itu selalu terlambat.

Besok…

Aku akan menjadi orangtua yang lebih baik dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anakku,

Dan lebih mengutamakan keluargaku daripada pekerjaanku,

Aku akan mengurangi makan sembarangan,

Dan mulai berolahraga seperti seharusnya.

Akan kukurangi acaraku keluar dengan teman-temanku,

Dan meluangkan lebih banyak waktu mengobrol dengan istriku.

Aku akan menyisihkan waktu untuk menelepon kakek-nenekku,

Dan belajar lebih sabar menghadapi orang lain.

Aku akan belajar menerbangkan pesawat seperti yang selalu kuinginkan,

Dan sadar bahwa tak ada yang mustahil asal aku bekerja keras untuk menjadikan mimpiku kenyataan.

Tiap hari aku akan berbuat baik tanpa pamrih kepada satu orang tak dikenal,

Agar dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Aku hanya akan mengucapkan kebenaran,

Walaupun itu merugikan diriku, karena itulah perbuatan yang benar.

Tapi tidak hari ini.

Hari ini terlalu banyak tagihan yang harus kubayar,

Hari ini terlalu banyak pekerjaan tambahan yang harus kuselesaikan.

Pokoknya hari ini aku tak punya waktu.

***

Sekarang aku mengerti pentingnya ini, sebab kalau kita terus menerus menomorduakan impian dan keyakinan kita, kita harus punya keberanian untuk bertanya pada diri kita sendiri:

Kalau kita buang semua bagian diri kita yang merupakan hasil dikte orang lain, apa yang tersisa?

***

Kita bangga akan individualitas kita, tapi kita berusaha menjadi apa yang diharapkan orang lain dari diri kita.

***

Untuk menghibur diri, kita menciptakan hal-hal yang kreatif untuk menyenangkan diri kita, agar kita tetap gembira, agar kita tetap sibuk. Agar kita tidak perlu memikirkan apa saja kehilangan kita.

***

Kita hidup dalam sangkar yang terbuat dari tuntutan, rutinitas, dan kebiasaan, dan setelah begitu lama hidup dalam batas-batas ini, kita lupa bahwa kita sesungguhnya terperangkap.

***

Hidup terdiri atas serangkaian momen.

Bagaimana kita memilih untuk melewatkan momen-momen ini.

Dan bermakna tidaknya kenangan-kenangan itu, inilah yang memberi arti bagi hidup kita.

Advertisements