Marah-marah itu nggak baik

Buat saya, nggak mudah untuk selalu bersyukur dalam setiap kondisi. Ada saatnya ketika merasa capek dan jenuh, saya bisa tiba-tiba diam dan merasa marah. Kadang saya luapkan kekesalan itu atau hanya saya simpan dalam hati. Dan perasaan tidak enak pun kemudian muncul. Tidak enak karena membuat orang lain menjadi jengkel karena tingkah saya yang marah-marah semaunya atau rasa bersalah yang besar. Saya tahu, dibutuhkan kerelaan hati untuk bisa mengontrol emosi dengan baik. Dan setiap masalah atau kejadian yang datang pun sesungguhnya bukan membuat hari menjadi buruk, tetapi lebih bagaimana mengajarkan kita untuk bersabar dan menjadi dewasa dalam segala hal. Dan itu nggak mudah. Itu adalah proses yang panjaaangg. 

Hari ini pun saya belajar lagi bagaimana mengontrol emosi dan rendah hati. Setiap saya merasa marah, saya ingat kata-kata saya ke murid-murid saya beberapa waktu yang lalu. Saya bilang ke mereka agar nggak jadi anak yang suka marah-marah, nanti nggak punya teman. Kata-kata itu balik lagi ke saya. Dan beneran deh, siapa juga yang mau temenan sama orang yang suka marah atau ngeluh. Marah itu hal yang wajar, tapi kalau ujungnya bikin orang lain merasa terganggu sama sikap kita, itu yang mulai nggak wajar. 

Banyak hal yang jadi pikiran saya akhir-akhir ini, dan saya akui, saya pun mulai kehilangan selera humor. Tapi saya bersyukur, saya punya teman-teman yang baik, yang suka bawa atmosfir positif buat saya, dan percaya deh… kebaikan dari seseorang itu menular. Kalau seseorang baik ke kita, otomatis kita pasti ingin berbuat yang sama ke orang lain kan? Dan kebaikan pun akhirnya menang mengalahkan rasa amarah.

Saya mau taruh kata-kata ini di dalam memori saya dan berharap itu jadi semacam alert saat saya mulai marah. Bahwa sebenernya… marah-marah itu nggak baik. Orang yang suka marah itu cepat tua dan keriput. Saya maunya jadi orang yang baik aja, biar disayang banyak orang. *teriak amin dalam hati* 😀

Advertisements