Thank you, God, for everything!

Pernah nggak sih kamu ngerasain hal-hal seperti…

Kamu pengin nulis sesuatu tapi nggak ngerti apa yang pengin kamu tulis.

Semua numpuk di kepala!

Kamu ingin nglakuin hal-hal lain diluar kebiasaan atau rutinitas kamu, tapi kamu bingung harus mulai dari mana.

Keinginan untuk teriaaakk dan nangis secara bersamaan. Tenggelam dalam tawa yang lepas sama temen-temen kamu. Peristiwa-peristiwa yang ekstrim dan semua hal keren yang udah kamu lakuin… semua itu nggak pernah bikin kamu merasa puas.

Kamu ingin sesuatu yang lebih… yang bikin bahagia, sedangkan kamu sendiri nggak pernah tahu bahagia itu apa.

Kadang menghabiskan beberapa cangkir kopi cuma buat menenangkan diri dan membiarkan imajinasi mempermainkanmu, dan saat itu waktu terus berputar.

Tanpa sadar, kamu merasa tua ketika berhadapan dengan hal-hal yang sederhana.

Saat ketemu dengan sahabat-sahabat lama, dan kamu merasa kangen dengan masa lalu.

Berpapasan dengan bapak tua yang sedang menyapu jalan.

Ketemu dengan anak-anak kecil, lihat mereka tertawa, keceriaan yang mereka punya…

Kadang terlalu sibuk, sampai lupa menyapa kebahagiaan-kebahagiaan kecil.

Mungkin hal-hal sederhana datang untuk mengingatkan kita agar tetap berpijak bumi.

Ada banyak mimpi dan keinginan, ambisi dan tuntutan hidup yang harus dipenuhi.

Satu-satu menuntut perhatian kita. Semua harus selesai dalam hitungan bulan, minggu, hari, bahkan menit.

Semua yang awalnya begitu menyenangkan, sejalan dengan waktu, semua terlihat membosankan.

Begitu berambisi pada sesuatu, kadang lupa untuk menikmati proses.

Kadang ingin menjadi seperti air, yang mengalir tanpa tahu tujuan.

Kadang ingin menjadi batu, yang punya pendirian kuat, sehingga tak akan mudah terbawa arus.

Kadang ingin menjadi langit, yang memiliki daya tampung yang luas, sehingga bisa menyimpan semua uneg-uneg orang lain.

Kadang ingin menjadi awan, yang terus bergerak dan tidak hidup monoton.

Kadang ingin menjadi bintang, yang meskipun dunia sekitarnya gelap, tapi dia tetap bersinar.

Dan terlalu banyak keinginan yang harus dipenuhi…

Dalam hati aku selalu berkata, aku benci menjadi dewasa.

Dewasa menuntut hal-hal yang rumit, sedangkan kanak-kanak dalam diriku selalu protes jika aku mulai menjadi yang bukan diriku.

Dewasa mengajarkan aku untuk jadi pribadi yang tidak pernah merasa puas.

Dewasa memintaku untuk khawatir pada hal-hal yang besar.

Aku selalu bertanya, kapan terakhir kali bersyukur.

Kadang waktu mengajarkan banyak hal. Dimana rasa syukur diperlukan di saat kita berada di titik jenuh.

Waktu yang membuat kita berjalan, berlari, bahkan terbang meraih setiap mimpi, tapi waktu juga yang membuat kita sadar, bahwa hidup itu pendek.

Selalu ingat pesan Ayah, agar tidak terus-terusan melihat ke atas, namun sesekali harus memandang ke bawah.

Aku ingin bisa seperti anak-anak yang sangat mudah mengucapkan doa, “Thank you, God, for everything. Thank you for food and drink. Thank you for our family.”

Jika memang bersyukur adalah kunci untuk merasa hidup dan bahagia, mungkin aku harus lebih sering melakukannya.

***

* Ilustrasi diambil dari Google

Advertisements