The Pursuit of Happiness Part 2

Selesai dengan The Pursuit of Happiness, saya merasa belum puas. Saya lalu coba menghubungi beberapa teman lama dan menanyakan apa sih “happiness” versi mereka. Beberapa menyambutnya dengan antusias, dan beberapa tidak membalas pesan saya, mungkin karena alasan kesibukan atau juga merasa tidak perlu membalas karena ini toh cuma proyek iseng-iseng. 😛

Anyway, meski ini hanya proyek iseng-iseng belaka, tapi itu membawa dampak positif untuk saya. Saya merasa bahagia saat membaca tulisan teman-teman saya di sini. Saya membuka satu-satu pesan yang datang di inbox facebook saya, membacanya dan kemudian membuka profile teman-teman saya, hanya untuk melihat bagaimana hidup mereka sekarang. Ada rasa haru sekaligus bangga saat melihat teman-teman saya menemukan kebahagiaan mereka. Saya sudah lama sekali tidak bertemu mereka, dan saya bersyukur karena teknologi bernama facebook ini, membuat saya bisa mencapai mereka meski ribuan kilometer jauhnya. Beberapa dari mereka adalah teman SD, teman SMP, teman kuliah, teman satu kampung halaman, temannya teman, temannya mantan, teman ketemu di interview kerja dan seorang kenalan di Jogja. Well, buat teman-teman yang sudah berkontribusi di sini, terima kasih banyak ya! Saya doain deh, yang masih single, segera menemukan jodohnya, dan yang sudah menikah dan punya anak, didoain anaknya nambah lagi. 😛 Here we go…

AKU BAHAGIA KETIKA…

Editorku sama sekali tidak perlu mengedit tulisanku. 😀 Aku bahagia ketika bangun pagi, badan segar, kerja jadi semangat. Aku bahagia ketika dapat liputan luar kota (atau luar negeri haha) dan meliput hal yang menyenangkan. Dan banyak lagi. 😛 (JB Satrio Nugroho. @jb_satrio. Journalist, tinggal di Jakarta)

Aku bahagia ketika bersama pacar, keluarga, dan teman-temanku. Bahagia bisa meraih yang aku inginkan. Melihat orang-orang bahagia. Aku melakukan hal yang aku suka. Aku bahagia waktu liat spongebob. Hihi. Ketika lihat barang yang aku suka. Lihat mantan. 😀 Berbuat amal ke orang lain. Bahagia waktu aku selesai mengerjakan tugas. Bahagia saat tahu sebentar lagi jam pulang kerja. Saat buka kado, dapat bunga, dan surprise. Bahagia waktu ketemu teman lama. Ketika dapat bonus kerja. Saat gajian. Yang bikin paling bahagia, ketika aku tahu Allah selalu menjagaku, membantuku keluar dari segala kesulitanku. (Reni Rere Pradhana, 21 yo, mahasiswi UDINUS Semarang)

Bahagia ketika ternyata aku kuat dalam menghadapi permasalahan, menyelesaikan setiap persoalan dengan baik, mampu menghadapi tantangan hidup, bisa melewati semuanya dan berkata, “Oow, ternyata cuma kayak gini aja, tho”.
Keingetan juga kata temenku bahwa, “Kebahagiaan bukan bergantung pada keadaan, tapi tergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi keadaan yang ada.” (Tabitha Nenden Komarasari. Cilacap)

Bahagia ketika bisa menuntaskan suatu proyek/tugas/jadwal, sampai benar-benar tuntas… tas… tasss. (Herlina Wijaya. Jakarta)

Buat aku, bahagia itu ketika apa yang aku harapkan tercapai & membuat kebahagiaan bagi orang lain juga. (Ferdian Metusala. Landscape Designer. Jakarta)smile

Bahagia itu liat senyum orangtua, saat impian tercapai, membantu orang, tapi yang paling bisa bikin bahagia adalah ketika saya tahu kalo saya salah. (Yosua Wisanto, 28 yo)

Aku bahagia ketika aku bangun tidur, ada suami dan anakku disampingku. Bahagia ketika anakku memelukku dan bilang, “Aku sayang sama mamah.” Aku bahagia ketika apa yang kukerjakan membuahkan hasil sesuai yang kuperkirakan. Aku bahagia ketika semuanya bahagia.” (Bernadeta Yuniarti, 27 yo, tinggal di Pangkalanbun, Kalimantan Tengah)

Aku bahagia ketika bebas dari rasa khawatir dan curiga. (Dorothea Diba, 27 yo, penyuka kata yang jago gambar)

Aku bahagia jika punya pasangan yang bisa saling mengisi. Aku bahagia jika keluargaku bisa akur dan mengerti satu sama lain. Aku bahagia jika dikelilingi sahabat-sahabatku. (Eugenia Cindy, 28 yo, Cilacap)

Aku bahagia ketika yang lain tertawa. 🙂 Communal happiness, dear. (Rachma Safitri, 27 yo, gemar memotret kehidupan, tinggal di Jogja)

Aku bahagia ketika melihat orang lain bahagia dan itu karena aku yang membuat mereka begitu. Bahagia ketika aku mampu berbagi tawa dan air mata kepada mereka. Bahagia saat tercapai semua apa yang aku inginkan dan harapkan. Mampu menjadi yang terbaik. Bahagia itu nggak  pernah bisa dibeli, karena kebahagiaan itu bukan barang. Kebahagiaanku bukan cuma milikku, tapi milik orang lain juga, karena mereka yang selalu hadir membuat kebahagiaan itu. That’s all in my mind about happiness. Happiness is a gift from God. My family and my friends… they always successfully did it to me. I’m happy for having them in my life. 🙂 (Bunga Daandel, 19 yo, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Satya Wacana Salatiga)

Aku bahagia ketika aku tidak terlalu memikirkan masa lalu dan tidak terlalu mengkhawatirkan masa depan. Kebutuhan hidup tercukupi, dan kalau bisa lebih, haha. Punya istri yang cantik, murah senyum, setia, giat, cerdas. 😀 Bahagia saat aku bisa membantu dan berguna buat orang lain. (Donny Cornelius Saputra, 28 yo, Cilacap)

Aku bahagia ketika aku bisa mencapai cita-cita yang aku perjuangkan. Aku bahagia ketika aku mencintai dan dicintai. (Yoan Christo)

Aku bahagia ketika semua keadaan dalam keadaan baik-baik saja. No pain, no pressure, no sickness, etc. Semua orang pasti pengin bahagia tanpa adanya 3 hal di atas. Tapi kebahagiaan sebenarnya menurutku saat kita bersyukur. Aku bahagia ketika aku bisa bersyukur ke Tuhan untuk apa yang Dia berikan pada kita. (Chicilia Nuning Prasetya, owner butik online, tinggal di Jogja)

Hmm… apa ya, yang kepikiran pertama kali, aku merasa bahagia ketika bisa membuat orang lain bahagia atau saat melihat orang lain bahagia. (Yeni Setiawan, @sandalian, blogger, menikmati hari-harinya sebagai bapak, tinggal dengan keluarga kecilnya di Jogja)

Aku bahagia ketika memberi, menolong, dan menghargai. (Stevanny Pattipeilohy. Editorial Assistant at PT. Radio Swara Sasando FM)

Gue bahagia ketika gue bisa bersama keluarga dan orang-orang yang gue kasihi. Bahagia ketika Tuhan memperhatikan gue lewat sentilan-sentilan-Nya. Bahagia waktu pekerjaan gue beres. Bisa bahagiain orang lain. Sebenernya banyak sih, asal kita bisa syukuri apapun itu dari hal yang kecil. (Dimas Ario Asmoro. Jakarta)

Aku bahagia ketika bisa melawan rasa kebencian dan meredam amarah. Aku bahagia ketika masih mampu bersyukur dalam kepahitan hidup. Dan aku bahagia ketika terlahir di dunia ini dengan segala warna-warninya. (Veronica Niken Handayani)

  • Aku bahagia ketika yang aku lakukan, sekecil apapun, bisa membahagiakan orang lain. 
  • Aku bahagia ketika my husband simply said, “I Love You.”
  • Bahagia ketika adik-adikku bilang, “Mbak… Aku kangen. Aku sayang mbak Nana.”
  • Bahagia ketika papiku mengelus kepalaku dan tanpa berkata apa-apa ketika aku pulang, dan aku tahu papi sayang aku.
  • Ngumpul sama saudara-saudara, cerita hal-hal yang nggak penting.
  • Bahagia saat selesai bebenah rumah. Yayyy!
  • Bahagia saat pulang kampung, main ke tempat Nenek, terus ngomel-ngomel karena Nenek main terus kemana-mana. Mainnya itu ya nengokin teman yang sakit, kegiatan ini itu, ngebis dan jalan kaki kemana-mana sampai masuk angin.  And she’s 74. Selebihnya ya, duduk-duduk sama Kakek Nenek di rumah. Ngumpul sama Kakek Nenek sambil ngeteh bareng itu membahagiakan!
  • Mendengarkan Mami ngomel gara-gara anak ke-4 (Dandi 13,5 tahun) dan Orel (5,5 tahun) berantem tiap hari.
  • Melihat Dandi nangis gara-gara disuruh ngerjain PR, hahaha… Dan si Orel bilang, “Lho, sudah tua kok masih nangis? Kan malu, tho?”
  • Bahagia waktu menggendong babies, kids, dimana aja, anak siapa saja. Yes! I’m in love with kiddos. 😀
  • Ngerumpi sama Ibu Mertua ngomongin Bapak Mertua dan anak-anaknya, suami dan adik ipar. Haha.
  • Suami pulang kantor. Yayyy! Bahagia ada temannya lagi setelah seharian sendirian di rumah.
  • Bahagia saat hujan-hujan ngeteh berdua sama suami.
  • Berkumpul sama sahabat, ngerumpi dan ketawa-ketawa mengenang masa lalu
  • Menghadiri pesta pernikahan, aku seneng aja lihat penganten. Hahaha. Seneng lihat kebaya-kebaya cantik dan awesome make up, sayang gue nggak bisa resepsi lagi ya. 
  • Bahagia saat jalan sama suami tanpa rencana, dadakan nonton kek, dadakan jalan kemana kek, jalan aja…nggak pake beli-beli. Serasa waktu berhenti sesaat. Cieee. 
  • Bahagia pas butuh sesuatu, pas ada promo dan bisa beli. Haha. 
  • Habis perjalanan jauh dari Banten, nemu kasur di Salatiga/Boyolali, terus tidur deh!
  • Makan ronde bareng keluarga di pinggir jalan
  • Bahagia ketika aku bisa bantu orang lain, dan membuat mereka lebih baik dan lebih bahagia tentunya. 🙂
  • Aku bahagia ketika menjalani hidupku tanpa merepotkan orang lain, tanpa memikirkan hal bodoh yang akan membebaniku sendiri. Just live my life and be a happy person. Yayyy! 🙂 (Diana Prawitasari. Perempuan yang hobi bercerita, tinggal di Cilegon)

*Judul di atas meminjam dari judul salah satu film Will Smith, “The Pursuit of Happyness”, yang populer tahun 2006. Itu salah satu film favorite saya. 

Advertisements