The Pursuit of Happiness

Beberapa dari kita mungkin sering mempertanyakan hal-hal yang substansial dalam hidup, seperti apa sih kebahagiaan itu. Apa sih yang paling bikin gue bahagia. Apakah gue sudah bahagia dengan hidup gue sekarang. Well, sometimes it difficult question to answer, but for some people, maybe it’s easy to answer. Mungkin ada juga orang yang terlahir happy, ada yang terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mempertanyakan hal-hal semacam itu, tapiii buat gue… pasti ada waktunya, ketika jenuh dan merasa bosan, kita akan kembali ke pertanyaan semacam itu. Apa sih yang paling bikin gue bahagia. Apa sih yang gue cari selama ini.

Akhirnya, Senin (8/10/2012), gue memutuskan untuk kasih pertanyaan ke beberapa orang terdekat gue-ya keluarga, teman lama, teman blogger, teman kerja, pacarnya adek, sampai temannya teman-tentang bagaimana sih konsep kebahagiaan menurut mereka. Gue kirim pertanyaan via sms, bbm, twitter, facebook, sampai meminta mereka untuk menuliskannya di kertas. Gue meminta mereka untuk melengkapi kalimat ini, “Aku bahagia ketika…” Atau “Gue (merasa) bahagia ketika…” Saat mereka hanya menjawab 1, gue kemudian meminta mereka untuk mencoba menuliskannya lagi, dan kemudian pertanyaan gue ubah menjadi, “Apa sih yang bikin kamu merasa paling bahagia?” Lalu mereka melanjutkan jawabannya dengan lebih detail, meski ada juga beberapa orang yang merasa cukup dengan 1 jawaban. Untuk sebagian orang, ini adalah pertanyaan yang nggak butuh mikir, tapi untuk yang lainnya, mereka butuh berpikir (agak) lama untuk menjawabnya. Inilah pertanyaan yang mudah namun sedikit membingungkan. πŸ˜‰ Inilah jawaban dari mereka.

AKU BAHAGIA KETIKA…

Aku bisa berproses dengan hidupku sampai saat bersama semua hal yang kualami. Suka, duka, sedih, senang, sehat maupun sakit. (Wempi, Jogja.)

Aku memegang kamera, dan minum hot chocolate saat hujan turun. Aku bahagia ketika menikah dengan orang yang paling aku sayangi dan hidup berdua dengannya selamanya. (Arif, fotografer, Semarang)

Aku bisa membuat orang lain tersenyum atau tertawa. Bahagia ketika membuat orangtua bangga sama kita. (Aryo Dhibass. Manado)

Anak dan suamiku bisa mencapai cita-citanya dan mencintai pekerjaannya sepenuh hati. (Batildis Rianitaeka, ibu dengan 1 anak, tinggal di Jakarta)

Melihat orangtua gue bahagia. (Christina HP, mahasiswi yang sebentar lagi wisuda. Jogja.)

Aku bahagia ketika orang yang berarti buatku selalu membuatku berarti untuk dirinya juga. Mungkin bahagia kita rasakan ketika mau bersama-sama menanggung beban dan mau menikmatinya tanpa mengeluh. (Daniel, Jakarta)

Gue bingung. Karena semua hal bisa bikin bahagia, kadang yang kita ingini belum tentu bisa bikin bahagia. Hanya sekedar memuaskan keinginan. (David, Kalimantan Timur)

Ngobrol dan bercanda sama keluarga di ruang makan dan ruang tivi. Bahagia ketika melihat kedua orangtua bangga dengan apa yang kita lakukan. Bahagia ketika pergi bareng teman-teman ngobrol ngalor ngidul sampai pagi. Bahagia ketika mendapatkan semua keinginan dengan jerih payah dan usaha. Bahagia ketika pacar tiba-tiba sms atau bbm “I Love You” ditengah-tengah kegiatan. (Deni, Jogja)

Aku bahagia ketika bisa menolong orang lain. (Ayu, perawat)

Actually, buatku bahagia itu simple. Aku bahagia ketika memasak babi iga kecap dan memakannya sampai habis. (Deras Sabdariva. @deras_hujan)

Aku bahagia ketika menemani Nobie kecilku belajar dan bermain bersama. (Lintang, ibu 1 anak, Jogja)

“Gue bahagia ketika minum teh hangat sambil ngobrol sama pacar.”
“Gue bahagia ketika ngasih sesuatu ke orang yang gue sayang dan mereka bahagia karena pemberian gue.”
“Gue bahagia ketika merasa bersyukur dan cukup sama pemberian Tuhan.” (Eka Dwibhakti, Jakarta)

Saya merasa bahagia ketika:
saya bisa bersyukur dengan keadaan saya saat ini
saya bisa menikmati apa yang sedang saya jalani saat ini
saya bisa berbagi dengan orang lain
saya dicintai.Β (Clara YP. Kefamenanu)

Aku merasa bahagia ketika anakku sehat.
Aku merasa bahagia ketika aku mendapat rejeki. (Novi Karel. Cilacap)

Aku merasa bahagia ketika berada di dekat orang-orang yang aku cintai. Bahagia ketika orang yang aku cintai memelukku, menatap mataku dan tersenyum. Bahagia ketika melihat kedua orangtuaku bercanda mesra. Bahagia ketika apa yang aku harapkan menjadi kenyataan. (Fransiska Putri Pertiwi. Full time wife and mommy. Tinggal di Serang)

Gue (merasa) paling bahagia ketika my handsome little boy sehat… Hahaha. πŸ˜€ Edisi emak-emak nih. (Annawaty Manihuruk, sedang bahagia menjadi seorang Ibu. Tinggal di Jakarta)

Aku bahagia ketika menyusui dan dipeluk. πŸ™‚ (Fonny Dharmawan. Tinggal bahagia dengan keluarga kecilnya di Sydney, Australia)

Aku merasa bahagia ketika menghabiskan waktu dengannya. (Linda Sari Yusono, sedang menyelesaikan gelar S2 nya, domisili di Semarang)

Aku bahagia ketika aku dimampukan untuk bersyukur dan tersenyum saat aku menghadapi masalah yang menekan hidupku. πŸ™‚ (Dewati Pamungkas Jati. Penari Tambourine)

Aku bahagia ketika mandi air hangat di malam hari. Yang bikin aku merasa paling bahagia itu, punya mama, suami, sama Winnie, anjingku. Bisa ngobrol bareng mereka setiap pagi sambil ngopi itu bahagia banget. (Cynthia Tabita, blogger, hidup bahagia di Jogja)

Aku merasa bahagia ketika mimpiku jadi kenyataan. (Iwan Setya. Petualang. Jogja)

Aku bahagia ketika dapat membuat dia tersenyum lagi setelah seharian atau lebih, melipat-lipat wajahnya karena stress/lelah, kemudian dia memelukku erat dan dalam sambil mencium keningku. (Pinasti Hening Pramesti. Jogja)

Aku bahagia ketika apa yang aku harapkan, yang aku inginkan tercapai. (Hilda Arnelia R. Mahasiswi di Semarang)

Aku bahagia ketika aku melihat orang lain bahagia, orang tersenyum karena aku. Aku bahagia ketika aku mensyukuri apa yang aku punya. Bahagia saat aku mendapatkan ketulusan hati dari orang-orang di sekitarku. Bahagia saat aku meraih harapanku. Bahagia ketika aku bisa berbagi dengan orang lain. Aku bahagia ketika aku tahu Tuhan tidak pernah meninggalkan aku. Aku bahagia menemukan seseorang yang sayang dan tidak pernah meninggalkan aku. (Miss Devi, 26 yo, guru tari. Tinggal di Semarang)

Aku bahagia saat merindukan seseorang dan kami dapat bertemu. Bahagia ketika merasakan bahwa saudara adalah harta yang tak ternilai. Bahagia ketika kita mendapat jalan keluar ditengah kesesakan. Dan ketika kita tahu bahwa kebaikan yang Tuhan berikan sebenarnya lebih banyak daripada penderitaan kita. Bahagia ketika (Miss Kezia Fitri, guru tari dan bahasa jawa, yang sekarang melanjutkan kuliah untuk mendapatkan gelar S1)

Aku bahagia ketika aku dapat berkumpul dengan orang-orang yang kusayang dan dapat membahagiakan orang-orang tersebut. (Miss Evelyn, guru tari dan penari tambourine, hobi makan, tinggal di Semarang)

Aku bahagia ketika Renad masih memanggilku mami. (Miss Retha, headmaster, sedang hamil anak kedua, tinggal di Semarang)

Aku bahagia kalau apa yang aku inginkan tercapai. (Miss Dewi, guru Readiness, domisili di Semarang)

Aku bahagia ketika aku bisa membahagiakan kedua orangtuaku dan melihat mereka bahagia karenanya. (Miss Hanna, guru Readiness, berdomisili di Semarang)

Aku bahagia ketika mensyukuri apa saja yang sudah kumiliki. (Miss Ery, guru preschool di Jogja)

Aku bahagia ketika Yesus angkat dosaku. Itu kebahagiaan yang tak ternilai. Kebahagiaan yang lain itu bonus. (Erna. Semarang)

Aku bahagia ketika bertemu dengan pasangan hidupku. (Ani. Batam)

Aku bahagia ketika berada dalam hadirat Tuhan. (Dyah Putri Maharani, 18 yo, mahasiswi akuntansi di Undip Semarang)

Aku bahagia ketika pribadiku bisa menerima apa adanya aku, dengan apa yang kumiliki, yang ada yang mengelilingi hidupku, dengan semua kelebihan dan kekurangannya. That’s all. (Fendi, pacar si adek)

Aku bahagia bisa membahagiakan orang-orang yang kusayangi. Aku bahagia ketika cita-cita dan impianku terwujud. (Echa)

Aku bahagia ketika aku tahu aku adalah milik Kristus. (Jonathan)

Aku bahagia ketika saatnya nanti aku melihat anak yang kulahirkan menangis, sehat, mungil, dan itu adalah anugerah. (Karin, pegawai bank di Jogja)

Aku bahagia ketika bersama anak-anakku. Saat bermain bersama, saat memandikan mereka, saat menyuapi mereka. Tapi yang paling membuat bahagia, saat tahu perkembangan anak-anakku secara langsung. Ada 1 yang nggak ketinggalan, bahagia mempunyai keluarga yang sangat perhatian, saling menyayangi, saling mencintai. (Natalia Sri Wardani. Ibu dengan 2 anak, tinggal di Klaten)

Aku bahagia ketika ada di samping seseorang yang dia juga bahagia di sampingku. (Joana Dee. Temannya Daniel)

Aku bahagia ketika ada sahabat, orang tersayang buat berbagi saat senang, susah, lagi beruntung, lagi sial, dan lain-lain, yang membuat semuanya jadi ringan, karena kita tahu ada yang memback-up waktu aku sudah capek. Lagian senang, kalau dinikmatin sendiri kan juga nggak seru. (Vie. Temannya Daniel)

Aku bahagia ketika aku dapat membuat keluargaku bangga dengan apa yang aku perbuat. (Ling Ling. Temannya Daniel)

Aku bahagia ketika berjalan sesuai dengan keinginanku. (Vanny. Temannya Daniel)

Aku bahagia ketika aku melihat orangtuaku selalu sehat, bahagia, dan bangga denganku. Dan ketika aku banyak uang. πŸ˜€ (Mila. Mahasiswi semester akhir di Semarang)

Aku bahagia kalau bisa membeli mobil dengan duit sendiri, walaupun nyicil-nyicil. πŸ˜€ (Titin. Tegal)

Aku bahagia ketika hidup ini menyenangkan dan semua berjalan dengan rencana. Bahagia ketika kita bisa liburan ke tempat-tempat yang keren dan pantai yang eksotis. Β (Tyo)

Kalau rohani, aku bahagia ketika Yesus ada dalamku. Kalau secara umum, aku bahagia ketika keluargaku bahagia. (Susi, penari tambourine, dosen)

Aku bahagia ketika aku dikelilingi dengan orang-orang yang aku sayang dan yang menyayangiku dengan tulus. (Vien)

Aku bahagia ketika semua keluargaku sehat. Yang bikin paling bahagia, (kalo) bisa tinggal di Jogja dan jadi warga Jogja. (Viki, mamanya Itan, istrinya Unak. Tinggal di Putussibau, Kalbar)

Aku bahagia ketika lagi tidak ingin apa-apa. Itu terinspirasi dari kata-katanya Buddha ketika ada yang berkata aku ingin kebahagiaan, Buddha menjawab, pertama hilangkan “I” karena ego, yang kedua hilangkan “want” maka yang tersisa hanya “happiness”.Β (Unak, papanya Itan, suaminya Viki. Putussibau, Kalbar)

Aku bahagia ketika jatuh cinta dengan orang yang mencintai aku juga. πŸ˜€ (Oneng, pacarnya Said, tinggal di Jakarta)

Aku bahagia ketika semua orang-orang yang aku sayangi dan musuh-musuhku bahagia dan tidak pernah mengeluh. πŸ˜€ (Yustina Himawati. Jogja)

Ini pertanyaan sulit buatku. Aku lagi cari bahagia, belum tahu rasa bahagia seperti apa. Kalau senang-senang dikit taulah. Aku bahagia ketika aku ngerasa hatiku mulai diubah. Aku tahu hatiku beku sebenarnya, tapi sekarang ada hal-hal atau kejadian-kejadian yang ternyata hatiku meresponi secara beda. Nggak seperti waktu-waktu lalu, flat nggak tersentuh. Aku senang karena hatiku mulai cair. (Miss Wenne, guru Readiness, Semarang)

Aku bahagia ketika sang jagoanku lahir dan melengkapi keluarga kecilku. Kalo tanggal tua, bahagia ketika m banking saldonya nambah! πŸ˜€ (Miya, ibu dengan 2 anak, entrepreneur, wanita karier, tinggal di Bantul, Jogja)

Aku bahagia ketika aku bisa menjadi diriku sendiri, dan juga ketika orang yang sedang bersamaku menjadi dirinya sendiri. πŸ™‚ (Nda Hutabarat, editor, tinggal di Solo)

Aku bahagia ketika aku bisa mendampingi anakku di masa keemasannya. πŸ™‚ (Nino, singer, domisili di Jogja)

Aku bahagia ketika aku memiliki orang yang dapat berbagi kebahagiaan denganku. (Mahisa Ayu Dya. Ibunya Langit, tinggal di Bali)

Aku bahagia ketika kita bisa menikmati hidup dengan enjoy, baik kerjaan, di rumah, maupun di lingkungan. Kalau tanpa beban, itu nggak mungkin, tinggal bagaimana kita menikmatinya aja. (Nova Kunfianto. Cilacap)

Aku bahagia ketika keinginanku terpenuhi, doa (permohonanku) terkabulkan. Aku bisa menjadi aku. (Lukas. Jogja)

Apa lagi coba, selain waktu yang berkualitas dengan keluarga. Haha, sederhana ya, tapi turunannya bisa banyak banget dari situ. πŸ˜€ (Pramudya Argo, penyuka kopi yang tinggal di Jakarta)

Aku bahagia ketika mampu melawan rasa takut dan pesimisku akan suatu hal. Bahagia ketika sanggup berdamai dengan situasi yang tidak disukai. (Chrissensia Rany Cahyaningtyas, blogger, domisili di Jogja)

Aku bahagia ketika berkumpul bersama keluarga tercinta. Bagiku itu yang paling buat bahagia. (Reni Agustina, tinggal di Jogja)

Aku bahagia ketika aku bisa mengontrol kehidupanku. (Sany Jubrata, singer-songwriter, tinggal di Jakarta)

Aku bahagia ketika melihat suamiku sangat menyimak dan mendengarkan ceritaku yang panjaaaanggg. Secara aku cerewet. Hehehe. (Lilies Rolina. Announcer at Sheradiofm Surabaya)

Aku bahagia ketika punya kebun buah-buahan, jadi nggak perlu kerja kantoran. πŸ™‚ Tinggal di desa yang nggak banyak polusi dan nggak ada macet. (Lisna Anindyojati Yuwono, sedang menikmati menjadi seorang istri. Jakarta)

Gue bahagia ketika melihat ibu gue tersenyum, melihat mantan bahagia, bisa cukup makan dan tidur. (Imam. @theSunan)

Gue bahagia ketika menjadi diri sendiri. (Haqi Achmad, 22 yo, Scriptwriter. @haqiachmad. Jakarta)

Duh pertanyaannya susah, karenaΒ basically I’m a happy person. Easily happy with little things.Β Kalo suruh milih satu jadi bingung. πŸ™‚ Gue (merasa) bahagia ketika berhasil mengalahkan rasa takut atau keragu-raguan. Bahagia kalau visa digranted. Bisa ngerasain hangatnya sinar matahari. Nemu ide petualangan baru. Nyium aroma Eucalyptus tree.Β (Anida. @nidnod. Indonesian Female Backpacker)

Bahagia itu kita yang ciptain. Ada yang memandang bahagia adalah saat kemarin, sekarang, atau masa depan. Kamu yang mana?

Advertisements