Mengobrol dengan Tuhan

Pernahkah dalam hidupmu kamu berbicara dengan Tuhan?

Maksudku, seperti mengobrol dengan seorang teman.

Aku pernah. Beberapa kali.

Aku pernah menyapa-Nya di pagi hari, setelah alarm jamku berbunyi dan dengan mata yang masih sangat mengantuk, aku menyapa-Nya, “Selamat pagi, Tuhan. Terima kasih untuk hari yang baru.”

Lalu kesibukan itu menemuiku dan membawaku sangat jauh dari-Nya.

Aku kembali menyapa-Nya saat di kamar, menjelang tidur malam. Aku membuka alkitabku dan bertemu dengan Dia di sana. Aku suka sekali membaca kisah tentang Dia. Dia sangat mengagumkan.

Aku sedih, setiap kali dipisahkan dari-Nya. Tapi dengan banyak hal yang terjadi dalam hidupku, aku menyadari satu hal bahwa ternyata aku selalu diberi kesempatan untuk bertemu dan ngobrol dengan-Nya.

Seperti saat aku bertemu murid-muridku di sekolah. Aku melihat Tuhan ada di mata anak-anak kecil itu. Jiwa mereka begitu polos dan mereka sangat menyenangkan. Tawa dan pelukan mereka, semua yang dimiliki anak-anak, mengingatkanku pada Tuhan. Tuhan berbicara padaku melalui mereka.

Aku lalu bertemu Tuhan di kesempatan lain. Seperti di perjalanan pulang ke rumah sore itu, aku bertemu seorang bapak tua yang suka duduk di pinggir jalan. Dia sendirian dan kesepian. Hatiku selalu sedih melihat bapak tua itu. Pernah suatu hari aku memberinya sebungkus nasi dan teh manis. Aku hanya ingin berbagi apa yang kumiliki dengan bapak itu. Di saat itu, Tuhan berbicara padaku, “Aku mengasihimu dan mengasihi orang itu.” Aku rasanya hampir menangis setiap aku bertemu bapak tua itu. Dia tidak punya rumah. Saat siang, dia kepanasan. Saat hujan, dia kedinginan. Aku sedih. Aku terus memikirkan dimana keluarga bapak tua itu. Bagaimana bisa dia berada di jalanan. Tuhan lalu diam-diam berbisik sesuatu, “Kamu hanya perlu bersyukur. Kamu memiliki keluarga yang menyayangimu. Kamu punya kasur yang begitu empuk untuk tidur dan selimut yang melindungimu saat kamu merasa kedinginan.”

Aku tahu, Tuhan. Hanya saja rasanya tidak adil, melihat orang lain di luar sana yang hidupnya menderita. Dan malam itu aku ngobrol banyak dengan Tuhan, aku meminta Dia untuk memberikan kehangatan untuk bapak tua itu agar tidak menggigil saat hujan dan tidak kelaparan. Hatiku mulai tenang. Aku tahu Tuhan benar-benar menjaga bapak tua itu.

Ada banyak waktu dan orang-orang yang kutemui di setiap harinya yang mempertemukanku dengan Tuhan. Tuhan selalu ada di hati setiap orang yang kutemui, itulah sebabnya aku percaya bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya orang jahat itu.

Aku tidak butuh waktu khusus untuk mengobrol dengan Tuhan. Aku tidak perlu menunggu pagi atau malam hari untuk menemui-Nya. Karena setiap menitnya aku bisa bebas ngobrol dengan Tuhan, yah seperti aku suka memberitahu Tuhan tentang makanan apa yang ingin kumakan, bercerita tentang pekerjaanku, atau bertanya pada Tuhan apa yang harus kukatakan pada orang asing yang kutemui saat dalam perjalanan.

Aku menyukai saat-saat mengobrol dengan Tuhan, dan aku rasa Dia juga menyukainya. Aku tidak mau lagi melepaskan satu menitku untuk melakukan hal-hal yang tidak penting, karena waktuku sangat berharga. Aku berhenti untuk memberi-Nya ide dan membiarkan Dia menjamah hatiku.Ā 

šŸ™‚ šŸ™‚ šŸ™‚

“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” Kolose 4:2

Advertisements