Ayah

Ayah, dia orang yang kukagumi karena disiplin dan semangat kerja kerasnya. Ayah, tidak mudah menyerah bahkan ketika akhir tahun 2008, dirinya divonis terserang stroke. Aku sering berpikir saat lihat Ayah. Dia terjebak di tubuh yang lemah. Habisnya, meski sedikit tertatih saat jalan atau beraktivitas, dia tetap semangat bantu Ibu untuk cuci piring dan baju. Ayahku, dia orang yang tidak kenal kata menyerah.

Dulu aku dan Ayah sering berbeda pendapat. Aku keras, Ayah juga. Kami sering tidak sepaham. Tapi sejalan dengan waktu, aku mulai mengerti Ayah. Ayah terlalu sayang sama anak-anaknya, sehingga dia memegang terlalu erat dan punya pengharapan yang besar untuk ketiga anaknya. Ayahku bukan ambisius atau perfeksionis, dia hanya ingin menjadi Ayah yang terbaik untuk ketiga anaknya. Dan, dia masih berjuang untuk itu. Aku melihat sendiri usahanya.

Ayah, dia seorang pemimpin yang baik. Dia seorang teman yang punya rasa humor, meski kuakui dia adalah pemikir, dan suka pasang muka yang serius. Tapi, dia punya sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya. Aku melihatnya saat di RS Bethesda Jogja. Saat Ayah dirawat di sana, banyak teman dan sahabat lama datang dan mendukung dalam doa dan kata-kata penghiburan. Aku kagum pada Ayah. Dia mungkin bukan orang yang hebat dan populer, tetapi dia mengajarkan banyak hal yang harus aku tahu saat menghadapi dunia. Seperti saat aku tidak mengerti bagaimana bersyukur itu, Ayah pernah bilang padaku, “Jangan selalu lihat ke atas terus, sesekali lihatlah ke bawah.” Ayah mungkin tahu aku suka membandingkan hidupku dengan teman-temanku yang lebih mampu secara finansial, maka Ayah memberitahuku untuk bersyukur, bahwa masih banyak yang tidak seberuntung kita.

Atau saat aku mulai jenuh dengan rutinitas, Ayah menyemangatiku, “Hidup tuh dinikmati.” Sering aku lupa untuk menikmati semua yang sudah aku punya, dan lebih fokus pada apa yang belum aku punya. Dan itulah mengapa aku nggak pernah merasa benar-benar bahagia. Aku dan Ayah, dulu mungkin kami pernah punya hubungan yang kurang dekat, tetapi sejak Ayah stroke, kami mulai lagi hubungan sebagai anak dengan orang tua. Aku mengagumi bagaimana semangat Ayah untuk bangkit dan melawan penyakitnya. Dia lebih dari sekedar orang tua untukku. Dia motivatorku. Dia, Ayahku, Jusup Hariadi. 

Advertisements