Menjemput Kesederhanaan

aku ingin pergi kemana hatiku suka, tanpa siapa pun akan melarang.

aku akan berada di suatu tempat yang asing dan menyapa penduduk disana dengan senyum hangat.

aku akan pergi ke warung kopi terdekat dan mampir untuk menulis. tentu saja akan menulis sesuatu untuk blog ini.

dan lihatlah, disinilah aku ada sekarang. di sebuah desa kecil yang teduh dan damai. pepohonan dan bunga-bunga yang cantik itu bersanding indah dengan warna langit. sesaat aku berpikir, aku sedang di surga pasti!

ada banyak kesederhanaan yang kutemui disini. konsep kesederhanaan yang sama sekali berbeda dengan yang kubayangkan.

hal baru pertama yang kudapat adalah bagaimana mereka menanyakan kabarku lalu mereka ingin aku bercerita bagaimana suasana kota itu. tentu saja, aku mau bercerita apa saja. apa saja yang mereka ingin dengar. dan mereka begitu antusias dan selama aku bercerita aku ditawarkan segelas kopi hitam dengan beberapa camilan. haha. aku bahkan sempat sakit perut karena sebelumnya aku belum pernah minum kopi hitam. yang aku tahu selama ini hanyalah caramel latte yang selalu kupesan saat pergi ke coffee shop. yeah, anyway, meski mereka kadang nggak ngerti teknologi yang sering kubicarakan –twitter dan bbm– tetapi tetap saja kebersahajaan hidup yang mereka perlihatkan, membuatku jatuh cinta.

seperti misalnya, kakekku. usianya 70 tahun tapi masih sehat dan hobi lari paginya pun masih dilakukannya sampai sekarang. dulu aku mengenali kakekku, Joshua, dari foto yang dipasang Mommy di ruang keluarga. tapi sejak aku merencanakan untuk belajar mandiri dan memilih belajar di sekolah berasrama, aku jadi sering berkunjung ke rumah kakek yang berjarak 4o km dari asrama. aku menyukai kakek dan cerita-ceritanya selama dia masih muda. aku selalu suka bagaimana kakek mengajariku banyak hal. seperti memancing, membuat ikan bakar, menikmati hujan dengan duduk di teras rumah sambil minum teh panas, lalu ini yang paling kusuka… kakek mengajariku melukis. iya, aku baru tahu kalau kakekku ternyata pelukis di jaman mudanya. aku diajak ke sebuah pondok kecil yang masih berada di pekarangan rumah, dan kakek memperlihatkan beberapa lukisan miliknya. yang kuingat, siang itu saat kami sedang melihat lukisan yang sama -lukisan perempuan penari bali-, kakek berkata, “ini lukisan yang dulu kubuat saat aku jatuh cinta pada nenekmu.” aku tersenyum mendengarnya.

setelah hujan reda, kami pergi ke pasar malam yang letaknya tak jauh dari situ. kakek mengijinkan aku mencoba permainan Kincir Angin dan Komedi Putar. dan malam itu aku mencoba 2 permainan itu… aku sukaaa… SERUUUU! yah, meski aku bermain sendiri dan kakek setia menunggu di tepi wahana permainan, tapi aku senang saat kakek memperhatikanku dan sesekali tersenyum. tidak seheboh di kota, tapi lagi-lagi hal sederhana dan suasana malam khas a la desa, membuatku betah dan merasakan homy.

kakekku, Joshua Timothy, adalah kakek super hebat. dia tidak banyak menasehatiku. saat kami duduk bersama di meja makan atau saat memancing, dia lebih senang mendengarkanku cerita tentang kehidupan di asrama. dan seperti anak remaja lainnya, aku selalu excited saat bercerita ini itu, sampai tidak bisa berhenti. aku tahu, kakek adalah pendengar yang sangat baik. sorot matanya menggambarkan bagaimana kakek adalah orang yang menyenangkan. pernah suatu sore kakek berkata, “aku tahu, kamu adalah cucu kebanggaan kakek. kamu mewarisi keberanian ayahmu, dan aku tahu, kamu akan menjadi seorang yang luar biasa. jadilah dirimu apa adanya, teruslah belajar, dan nikmati setiap proses kehidupan dengan sikap yang rendah hati. ingatlah, seorang pemenang bukan hanya mereka yang memenangkan pertandingan, tetapi mereka yang cerdik membuat taktik dan target. jadilah lebih dari seorang pemenang, cucuku.”

malam sebelum tidur, aku diam-diam berdoa untuk kakek. Joshua Timothy. nama yang selamanya di hati.

***

kemana pun kaki ini pergi melangkah, aku tahu ada kenangan yang kugores di hati setiap orang dan sebuah pelajaran sederhana yang kuperoleh. terima kasih kakek, karena bersamamu, aku mengenal dunia yang lebih luas. 🙂                                

*illustrasi diambil dari sini

Advertisements