:sore dan kamu

Seringkali aku ingin berkata “TIDAK” pada situasi yang tidak aku inginkan. Tapi lebih banyak aku menemukan, bahwa hati ini sebenarnya tidak pintar memilih. Ada banyak situasi yang tidak menyenangkan, tetapi harus tetap dijalani. Suka atau tidak suka, itu urusan nanti. Dan berapa pun banyaknya pengalaman yang tersimpan di kerut keningmu, kamu tetap harus memberi hatimu keleluasaan berpikir dibanding logikamu. Logika tidak selamanya salah, hanya saja, kecerdasan hati dalam memilih dan menyikapi suatu peristiwalah yang menentukan hasil akhirnya.
Sama halnya dengan kamu dan aku. Kamu adalah kamu dengan logika berkerut-kerut, sedang aku sebaliknya. Waktu pernah menjanjikan hal baik untuk kita, tetapi rencana tak selalu berjalan seperti yang kita mau. Dalam gelap sekalipun, pasti ada cahaya yang tersembunyi dan siap muncul kapan saja diperlukan. Tetapi kamu lain. Kamu tak lagi seperti yang aku kenal dulu. Meski mencoba tertawa dan mengalihkan rasa sedih kamu menjadi bahan becandaan sore itu, kamu tetap saja tak pintar berbohong. Mata kamu bicara banyak hal, sayang. Dan aku… aku benci dibohongi.

Aku mencoba menemukan kamu dalam kepingan diam sore itu, dan ternyata sia-sia. Keheningan menjawab semuanya, dan kamu bilang, “Bukan kamu atau aku yang salah. Tapi, mari kita lupakan dan terus melangkah. Perpisahan adalah awal dari sebuah ending yang manis. Dan aku percaya itu.” Aku lupa tepatnya, saat kamu bicara, aku ada disana atau hatiku tiba-tiba menghilang ke 2 tahun sebelumnya. Saat hanya ada kamu, aku, dan vespa butut kesayanganmu.

Kamu selalu tahu, aku benci menangis. Dan terakhir kali aku menangis adalah saat aku mendapat nilai buruk di ulangan matematika. Dan itu sudah lamaaa sekali. Aku benci, kenapa harus kamu…

***

Dear kamu, aku menulis ini bukan karena ingin mengingat kamu. Aku hanya mau bilang, aku sudah berhasil. Melupakan kamu dan melangkah ke tempat dimana seharusnya aku ada, itu menyenangkan. Cerita yang kita punya dulu adalah salah satu chapter yang aku suka, meski tidak menjadi favoritku sepanjang masa. Tetapi, seperti yang pernah kamu bilang, “Waktulah yang mendewasakan kita. Hati selalu bisa memilih, tetapi cinta sejati hanya milik mereka yang mau menemukannya.”

[sept 2011. song: raisa-serba salah]

Advertisements