Carol dan Kartu Natal Ajaib

“Aku nggak mau makan, Mom! Aku mau langsung berangkat sekolah saja,” Carol berkata pada Mom dengan nada yang terdengar kesal.

“Kau tidak bisa berangkat ke sekolah kalau kau tidak mengisi perutmu dulu. 3 Suap dulu dan kau baru boleh ke sekolah. Lihat, adekmu juga menghabiskan sarapan paginya.”

Carol tidak suka dipaksa sarapan, tapi peraturan di rumahnya berkata bahwa sarapan itu wajib. Orang tuanya berpikir bahwa penting untuk mengisi perut sebelum pergi ke sekolah, karena bagaimana bisa berpikir dan berkonsentrasi jika perutmu kosong. Carol mau saja sarapan, tapi dia tidak suka kalau serealnya dingin. Dia sudah pernah berkata pada Mom, bahwa dia saja yang membuat sarapannya sendiri. Tapi Mom tidak mengijinkannya.

Carol memperhatikan adiknya, Joel. Joel menghabiskan sarapan dengan kedua tangannya, masing-masing memegangstick drum. Dia mengayun-ayunkan kedua stick-nya itu, seolah-olah sedang bermain drum. Carol menegurnya, “Kalau makan sambil bermain, kita akan telat sampai di sekolah nanti.”

“Aku kan nggak sepertimu, yang lama kalau makan. Kau sama seperti anak-anak perempuan di sekolahku, mereka lama kalau makan. Sepertinya 15 menit tidak pernah cukup untuk lunch. Habisnya, anak perempuan itu, mereka makan dan juga bergosip. Dasar perempuan,” Joel menjawab dengan santai, yang kemudian membuat Carol kesal.

“Eh, aku tidak seperti teman-temanmu yang centil-centil itu ya!!” bentak Carol. Dia tidak mau disamakan dengan teman-teman adiknya, yang menurutnya anak-anak perempuan di kelas Joel itu tipe yang suka berdandan dan bergaya centil. Hobinya ke ruang olahraga dan mencari perhatian kakak kelas yang ganteng dan jago basket. Carol tentu saja kesal kalau Joel mengira bahwa semua perempuan itu sama, lama menghabiskan makan dan suka bergosip. Carol berusaha membela dirinya, bahwa meskipun kadang dia menghabiskan makannya agak lama, tapi dia kan tidak suka bergaya centil apalagi bergosip.

Mom yang mendengar obrolan pagi hari yang mulai tidak menyenangkan itu, kemudian berusaha menenangkan. “Oke, cukup. Sebaiknya kalian cepat habiskan sarapan, lalu ambil tas dan bekal makan siang kalian, dan segeralah berangkat. Dan kau, Carol, jangan membentak adikmu seperti itu. Bersikaplah sopan.”

“Tapi, Mom, Joel itu…” Carol tidak sempat membela dirinya lagi, karena Mom menyuruhnya untuk segera berangkat sekolah. “Cukup. Taruh piring kalian di bak cuci dan cepatlah berangkat.”

Carol merasa yakin bahwa hari ini dia akan mengalami hari yang tidak menyenangkan. Semua sudah terlihat dari pagi ini saja. Rasa kesal pada Joel adiknya semakin bertambah. Sudah seminggu ini tidur malamnya tidak pernah nyenyak karena Joel main drum sampai malam. Joel berlatih untuk kompetisi musik di sekolahnya akhir bulan ini, Mom dan Dad pun mengijinkan. Carol juga kesal pada Mom, karena dia menganggap Mom nggak adil. Carol selalu merasa Mom lebih berpihak pada adiknya daripada dirinya.

Carol pun berangkat sekolah dengan wajah yang cemberut. Teman sebangkunya, Betsy, menepuk pundak Carol dan membuat Carol sedikit berteriak, “Hey! Tidak bisa ya tidak membuatku kaget?!” Carol memandang Betsy dengan tatapan kesal. Tapi Betsy tidak takut dengan tatapan Carol, karena dia tahu kalau pagi hari Carol terlihat lesu, berarti ada sesuatu terjadi di rumahnya. “Ah, kau saja yang sedang asyik melamun, sampai-sampai aku datang saja kau nggak tahu. Ada apa sih? Semalam Joel main drum lagi dan membuatmu nggak bisa tidur?”

“Aku sedang malas cerita,” Carol mengeluarkan buku bahasanya, dan memeriksa tugas rumahnya itu sambil menunggu bel masuk sekolah berbunyi.

“Ya sudah kalau tidak mau cerita. Aku saja yang cerita, ya,” Betsy bersemangat. “Kemarin aku dapat 4 kartu natal. 2 kartu dari sepupuku di Australia, 1 dari teman lamaku yang sekarang tinggal di Papua karena ikut ayahnya yang ditugaskan disana. Dan, hmm, tebak 1 kartu lagi dari siapa?”

“Dari siapa memangnya? Bobby, si cowok jaket merah yang kau kenal di tempat les?”

“Ha-ha-ha, bukan. Kalau itu sih, aku nggak yakin dia akan mengirimiku kartu natal. Ini dari seseorang yang special.”

“Siapa sih?,” Carol penasaran.

“Jane. Anak perempuan dari panti asuhan yang beberapa minggu lalu aku dan teman-teman gerejaku berkunjung ke tempatnya. Dia sungguh manis mengirimiku kartu natal, dan aku benar-benar terharu membacanya. Dia bilang, dia sangat senang waktu aku dan teman-temanku datang. Dia sangat bersyukur untuk kado Natal terindah yang dia dapat tahun ini. Katanya, bukan hadiah pakaian atau kue-kue natal yang aku dan teman-temanku bawa, justru kehadiran kami yang menjadikan Natal Jane berarti. Katanya, bisa tertawa bersama kakak-kakak yang manis saja sudah jadi kado Natal terbaiknya. Karena sudah lama dia menginginkan suasana Natal yang ceria dan hangat. Bagi Jane, Natal adalah waktu untuk berbagi kasih dan menghabiskannya dengan orang-orang yang kau sayangi. Ah, Jane berhasil membuatku menangis kemarin. Dia benar-benar anak yang manis ya?”

Carol terdiam. Dia tidak berkomentar apa-apa soal kartu natal yang didapat Betsy, dan juga Jane –si anak perempuan dari panti asuhan. Sampai jam pelajaran terakhir, Carol terus memikirkan soal Natal. Perasaannya campur aduk. Hatinya sedih.

Sesampainya di depan rumah, Carol membuka kotak pos. Dia berpikir, siapa tahu dia juga mendapat kartu natal seperti Betsy. Dia memeriksa 10 surat yang  dikirimkan ke rumahnya. Ada surat dari asuransi, surat pajak, juga sebuah kertas promosi dari supermarket, berisi barang-barang rumah tangga yang berkualitas sekaligus harga diskon yang tertera. Dan yang membuat Carol tertarik adalah sebuah surat dengan amplop berwarna merah, dengan sebuah tinta emas yang tertulis di depan, “Untuk Carol.” Carol kemudian merobek amplop itu karena dia tak sabar untuk segera membacanya.

Isi kartu Natal:

“Carol yang manis, kita nggak pernah tahu rasanya memiliki, sebelum kita merasakan kehilangan. Tapi sekarang, kau tidak sedang merasakan kehilangan. Tanpa kau sadari, kau adalah anak perempuan yang beruntung. Kau punya keluarga yang utuh. Mom dan Dad yang sangat baik dan peduli padamu, adik yang bisa saja kau ajak bermain kalau kau mau, dan keceriaan bersama keluarga yang bisa kau rasakan-yang mungkin tidak dimiliki oleh anak-anak yang tak seberuntung dirimu. Carol yang manis, kadang kau lebih memilih mengeluh, daripada bersyukur. Misalnya saat pagi hari, mamamu membuatkan sereal cokelat untukmu. Kau kesal, karena serealmu dingin. Kau lebih banyak berteriak dan membentak adikmu Joel, daripada membalas ucapannya dengan lembut. Seringkali kau lebih memilih cemberut daripada tersenyum. Carol yang manis, selalu ada pilihan-pilihan yang tersedia setiap harinya. Apakah hari ini kau akan berbuat manis, atau memilih menyakiti hati orang yang kau sayangi? Semua tergantung pada hatimu. Semua pilihan yang kau ambil, semua baik, tergantung bagaimana kau bisa jujur pada dirimu sendiri. Carol yang manis, mungkin kau akan lebih banyak tersenyum, ketika kau berhasil belajar untuk bersyukur dan tidak selalu menyalahkan orang lain. Natal kali ini, buatlah orang-orang disekelilingmu tersenyum, melihat dirimu yang hangat dan penuh kasih.”

 

Salam sayang,

Santa

Air mata Carol hampir tumpah. Tangannya bergetar membaca isi kartu natal itu. Seseorang bernama Santa ini, menuliskan sebuah pesan, yang menyentuh hati Carol. Carol pun bergegas masuk ke rumah. Dia ingin segera bertemu keluarganya, dan meminta maaf. Dia berlari ke dapur mencari Mom, tapi tidak ada. Dia lalu mencari ke kamar tidur dan juga ruang kerja Dad-nya, tapi tak ada mereka disana. Akhirnya, dia pergi ke ruang atas, tempat keluarganya biasa berkumpul, dan dia kaget mendapatkan Mom, Dad, dan Joel sudah disana. Mereka sedang memasang pohon natal dan juga membuka kotak-kotak berisikan aksesoris natal.

“Tunggu! Kalian nggak boleh menghias pohon natal itu dulu. Kalian hampir melupakanku, ya?” Carol pura-pura memasang wajah cemberut.

“Hey, sweety, kau sudah pulang. Tentu saja kami nggak lupa. Seperti biasa, kita akan menghias pohon natal ini bersama-sama. Adikmu hanya membantu Dad membuka kotak-kotak itu kok. Sisanya, biar kau dan Jo yang menghias pohon ini sampai terisi penuh,” kata Dad.

Thank, Dad,” Carol tersenyum pada Dadnya. “Hmm, perhatian sebentar, aku mau bicara sesuatu.”

“Ada apa, sayang?”

“Aku mau minta maaf pada Mom, karena pagi ini sikapku nggak sopan dan aku banyak mengeluh. Aku tahu itu pasti membuat Mom sedih. Maafkan aku, Mom,” Carol mendekati Mom dan memeluknya.

“Iya, sweety,” Mom lalu mencium kening Carol.

“Dan aku juga mau minta maaf pada Joel. Walaupun kadang dia menjadi adik laki-laki paling menyebalkan di dunia karena sering kentut dan main drum yang membuat tidur malamku nggak nyenyak seminggu ini, tapi aku sebenarnya sayang padanya.”

“Apa?? Kau bilang aku suka kentut? Huh.”

“Kita berbaikan ya Natal ini. Sini, kupeluk dulu.” Carol menggoda Joel dan itu membuatnya malu. Melihat Joel yang malu-malu seperti itu, Carol malah semakin bersemangat menggodanya.

“Ah, aku nggak mau dipeluk Carol, Mom. Nggak mau!!” Joel berlari dan Carol berusaha mengejarnya. Dad dan Mom tertawa melihat tingkah mereka.

Carol menyadari bahwa dia sangat menyayangi keluarganya, meskipun kadang ada hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi di rumah. Tapi, tidak ada hal yang paling membahagiakan di dunia ini, selain berkumpul dengan keluarga dan menghias pohon natal bersama.

Semarang, Desember 2010.

***

Have yourself a Merry Little Christmas. Happy Christmas 2010. God bless. =)

Advertisements