Hari 1#: Kenyamanan hidup. Aku punya. Kamu?

Dalam hidup ini, ada yang namanya pilihan dan kenyamanan. Ada saat dimana gue nggak perlu mikir berat, nggak perlu ngomong panjang lebar, nggak perlu memaksa diri untuk senyum manis. Buat gue, kenyamanan hidup ada pada saat kita menyukai diri kita sepenuhnya. Apa adanya. Baik itu saat kita lagi seneng, bingung, atau merasa sangat patah hati karena gebetan rasanya begitu jauh digapai, hampir seperti menginginkan bintang di langit. *oke, yang terakhir ini curcol.

Kenyamanan hidup bukan soal seberapa hebat kita bisa menggunakan atau memiliki gadget terbaru. Punya pacar super duper keren, yang pas dibawa kemana-mana, banyak dilirik perempuan-perempuan muda. Atau punya jatah berlibur banyak, sibuk mikirin negara mana yang belum dan wajib dikunjungi. Buat gue, kenyamanan hidup adalah sekarang. Dimana gue bebas mengekspresikan diri, tanpa repot-repot meminta pengakuan orang lain. Mensyukuri hidup dengan makan makanan enak, dan blabla lainnya. Ini soal mengenali diri dengan baik. Ini soal refreshing kok, cuma dengan cara yang berbeda aja. (Oh, dari tadi ngomong panjang lebar tuh cuma mau cerita soal refreshing?)

Haha. Hmm yah, semacam refreshing, tapi dengan cara gue sih. 😀

… dan kenyamanan hidup itu berupa,

Jalan ke swalayan terdekat dan ngabisin waktu, sibuk milih mana camilan yang pas buat nonton, mana camilan yang pas buat nulis. Atau bisa sebegitu detailnya ngebandingin harga barang yang ini sama barang yang itu. Berseri waktu liat tulisan “Diskon!”

Makan choki-choki dan nonton berita soal Obama yang ngasih kuliah umum di UI. Jadi membayangkan gimana rasanya naik air force one itu.

Bikin status fesbuk, senyum-senyum baca komen, balesin komen sambil ngemil cheetos jagung bakar. Eniwei, lebih enak yang keju amerika, ah. *oke, gak penting

Browsing biografi tokoh sukses, karena nggak mampu beli buku biografi yang super tebal dan mahal itu. Syukurlah, ada penyelamat bernama “Google Biografi.” Aku suka yang gratisan dan membuat pinter seperti ini. Hahay.

Pulang kerja dan nonton acara komedi.

Tidur dengan satu bantal, bed cover warna merah, kitab suci di sebelah kiri atau kanan kepala, lalu doa malam dengan mata yang sedikit mengantuk. Maafkan saya, Tuhan.

Mengobrol mesra lewat handphone dengan ayah dan ibu yang sudah berminggu-minggu (atau bulan) tidak bertemu. Beginilah nasib anak perantauan.

Makan pagi, siang, dan kadang makan malam.

Tidur pulas di malam hari dan esoknya alarm berbunyi di pukul 5, kembali ke rutinitas harian. Kerja keras mencukupi tabungan buat beli ini itu atau liburan ke kota impian.

Melakukan hobi atau bermalas-malasan di akhir pekan.

Hidup itu simple, ya. Tapi lebih kaya maknanya dari sekedar makan, tidur, dan bekerja. Hidup itu seperti kertas gambar, yang setiap harinya bebas kita gunakan untuk mengekspresikan diri. Tinggal pilih mana crayon yang kamu suka, lalu warnai sesuka hatimu. Hidup dan kenyamanan didalamnya bicara banyak hal. Soal mengucap syukur dengan cara yang istimewa, bangga pada diri sendiri, atau mungkin kesenangan berbagi dengan orang lain. Kenyamanan hidup, ah… aku punya, kamu?

 

[Loenpia City, 11.11.10]

Advertisements