Aku rela menjadi sederhana

Ada orang-orang sederhana, dengan pemikiran yang sederhana, gaya hidup sederhana, tapi sangat menyenangkan.

Mereka memaknai hidup dengan sedikit kata-kata, selebihnya adalah perjuangan.

Berjuang untuk sepiring nasi dan berbagi telur dengan kakak atau adik.

Berjuang untuk menggapai mimpi, meski terdengar muluk, tapi mereka tak punya pilihan lain selain mencoba terus, dan terus… berharap ada perubahan dan kehidupan yang nyaman.

Berjalan kaki dengan berteman peluh dan matahari, menjadi kesenangan juga rintihan kecil mereka.

Tapi, mereka bahagia dengan keterbatasan dan tak pernah lupa berbagi dengan orang lain.

Memiliki keluarga bagi mereka adalah sebagai penyemangat untuk mereka dapat bertahan.

Merasa begitu puas karena dicintai dan bisa mencintai. Tentu dengan bahasa cinta yang begitu sederhana.

Kehangatan keluarga kecil, ketidakpastian hidup, senyum yang kadang muram, semangat yang hampir pudar, juga harapan yang selalu baru setiap harinya… Entah kenapa, mereka begitu mudah mengucap syukur.

Kupikir, Tuhan begitu menyukai orang-orang seperti ini. Orang-orang yang sederhana, yang begitu tulus.

Kalau dengan menjadi sederhana, bisa begitu dekat dengan Tuhan, maka aku rela menjadi sederhana.

Semarang, November 06, 2010. 10.38PM

Advertisements