ah, lagi-lagi soal paradigma berpikir

“Apa kabar gue?”

“Baik. Thanks. Sedang belajar banyak tertawa.”

Saya mencoba bertanya kabar hati saya, tersenyum, dan mencoba untuk menertawakan diri sendiri.

Nyatanya, itu sesuatu yang sama sekali nggak mudah.

Hal-hal yang sekarang saya temui, memaksa saya untuk menyalahkan keadaan yang tidak menguntungkan, bahkan marah pada setiap kalimat, yang saya sendiri bingung untuk mengucapkannya.

Banyak hal membuat tertekan, namun disisi lain, diri ini memaksa untuk bertahan.

Begitu kuat energi negatif yang saya rasakan, dan saya harus segera banting setir, sebelum akhirnya makin terpuruk.

Joging di pagi hari, belajar berenang, ikut kelas memasak, menulis sebuah proyek, tertawa bersama sahabat, semuanya saya lakukan, hanya untuk menemukan apa yang selama ini saya pikir hilang… KESENANGAN dan menikmati diri sendiri.

Ada hal-hal yang menyenangkan dalam hidup, dan ada yang tidak.

Ada senyum yang sangat tulus dari seorang teman, meski ada juga yang memberi saya wajah cemberutnya.

Ada kejutan, gelisah, dan rasa penasaran yang luar biasa terhadap hal-hal di depan saya.

Lalu saya merasa tergelitik, “Kenapa seringkali kita memilih bercermin di air keruh, atau mematutkan diri pada kaca yang berdebu?”

Ah, lagi-lagi soal paradigma berpikir. Pola pikir yang membentuk kita mengambil respon terhadap sesuatu.

Dan, saya (kenyataannya) masih harus banyak belajar soal ini.

***

Selamat datang, May! Saya siap untuk segala sesuatu yang baru di bulan ini. God bless u and me. 😉

Advertisements