Sensitif

KEMARIN, saya menulis ini di status fesbuk saya, “rasa kangen itu butuh alasan nggak sih?”, dan mulailah teman-teman saya berkomentar. Lucu-lucu, nyebelin, dan ada yang serius pula. Salah satunya komentar teman saya, Fonny, dia bilang, “Gak perlu alasan… kalo kangen brarti moment itu atau orang itu pernah berkesan di hati kamu.”

Hari ini, saya menulis ini di status fesbuk saya, “kalo cinta pakai logika, bakal mengurangi esensi dari cinta itu sendiri nggak ya?” Trus ada komentar serius pula dari teman saya, Hari, “Walaupun cinta tak slalu indah. Tapi ia tetap akan indah pada waktunya. Dan menurutku logika tak akan bisa memahami, justru itu yang membuatnya menjadi indah.” Ada juga yang nanya saya, memang esensi cinta itu apa? Ada yang mau jawab? 😉

Kenapa saya nulis soal kangen dan cinta —dalam 2 hari ini—, di status fesbuk saya?

Saya lagi kangen seseorang?

Saya lagi jatuh cinta?

Nggak tahu ya, kadang nggak mudah mendefinisikan perasaan.

Perasaan itu seperti perempuan. Sensitif 😉

***

P.S. Saya lagi ngikutin Brilliant Legacy nih. Hmm, ya mungkin karna itu, keseringan nonton drama asia, saya jadi mudah sensitif 😉

Advertisements