Goodbye, My Cappuccino

Bangun pagi dengan kepala pusing. I NEED MY CAPPUCCINO. Aku mencoba mengingat, sejak kapan tepatnya aku kecanduan kopi, bahkan di setiap paginya… Oh, sejak aku bertekad melupakan dia. Si cina.

Hari ke 270
Aku belum benar-benar melupakan si cina. Dan setiap kalinya, aku mengutuk diri, bertanya-tanya hatiku ini terbuat dari apa sih, kok rasanya lembek. Ini bukan diriku. Aku merasa ada yang salah dengan jatuh cinta, ketika akhirnya kau merasa benar-benar jatuh dan tidak bisa kembali menyentuh bumi. Seperti itulah aku sekarang, si cina membuatku sedikit mabuk dengan kekuatan sihirnya. Eh, dia penyihir?

Momento Cafe
Aku bersikeras. Aku butuh kopi baru. Melupakan cappuccino sama halnya melupakan dia. Dan Allegra —teman minum kopi, yang juga playboy cap gajah—, mulai berkomentar.
“Segitunya ya lo, usaha keras buat nglupain cowok, yang bahkan nggak ngelirik lo. Masih banyak laki-laki yang siap nerima lo. Lo cuma perlu buka mata lebar-lebar.”
“Lo bisa bilang gitu, karna lo laki-laki, Le… Coba lo jadi gue.”
“Lo kan bukan cewek, mi.”
“Sial lo.”

Aku memanggil seorang pelayan, yang dari wajahnya, belum pernah kulihat. Mungkin pelayan baru… Ah, apa peduliku. Aku memesan Mochaccino Walnut dan Apple Pie.

Cinta itu layaknya short movie, dengan dua aktor yang sama-sama gila. Saling memuja cinta awalnya, kemudian ketika selesai waktu, mereka berusaha menyembuhkan luka masing-masing. Dan aku salah satunya.
Alle, salah satu sahabat gila, yang tidak percaya cinta itu ada. Dia menganggap, cinta seperti sebuah script, yang semua orang sudah tahu akhirnya. Alle menikmati cinta dengan caranya sendiri.
“Gue nggak pernah mau ribet sama urusan hati. Kalau gue suka, ya gue bilang aja suka. Trus kita jadian, dan kalau keduanya sudah mulai nggak sejalan lagi, ya bubar. Cari yang lain, dan mulai lagi dari awal.”
“Gampang banget sih hidup lo.”

Aku ingat, bulan April, itu musim jatuh cinta, dan si cupid bodoh mengirim si cina untukku. Awalnya, tidak ada perasaan apa-apa. Dia teman yang enak buat diajak jalan, humoris, dan matanya sipit. Sampai akhirnya, aku merasa ada yang aneh. Mungkin terlalu cepat aku mendefinisikan ini cinta, karna belum setahun aku mengenal si cina. Tapi cinta, dalam bentuknya yang tidak sempurna pun, mampu membius siapa saja yang siap jatuh hati. Dan aku, korban yang kesekian. Arrrggh.

“Ini Mochaccino walnut dan Apple Pienya, mbak.” Seorang pelayan cafe membuyarkan lamunanku.
“Si cina jadi ke Jakarta?”
“Iya, kata si Manda sih gitu. Dia mau ambil S2nya.”
“Lo nggak nyusul ke Jakarta juga, Mi?”
“Ngapain gue ke jakarta? Siapa dia memang, kekasih bukan, saudara apalagi…” Kataku meringis.

Kucium aroma mochaccino walnuthmm, this is good. Aroma dan rasa kopi baru ini, sejenak membuatku lupa bahwa cappuccino adalah kopi andalanku. Aku slalu berkutat dengan hal yang itu-itu saja, tidak melihat bahwa diluar sana, banyak hal yang menarik. Banyak kopi yang harus kunikmati, dan pastinya ada pria yang lebih baik dari si cina. Seperti kata Alle, aku hanya perlu membuka mataku lebar-lebar.

Selamat tinggal, cappuccino. Kopi baru ternyata membuat diriku jauh lebih nyaman. Dan melupakan kamu, membuatku semakin menyadari, bahwa hidup jauh lebih berharga dari apapun.
***

Rumah Jogja, januari 2010.

Advertisements