Kotak Hati dalam Toples Trapesium

Aku membuka sebuah bungkusan warna merah, ini darimu, kamu berikan saat malam tahun baru. Kubuka dan kulihat, sebuah toples… toples trapesium? Ini aneh, aku belum pernah melihat sebelumnya. Kamu slalu begitu, hadir membawa keanehan demi keanehan, dan menjadikannya sebagai sesuatu yang normal. Setidaknya, untuk kamu dan aku.

Di dalam toples trapesium ini, masih ada lagi yang harus kulihat. Aku makin tak sabar, dan kamu berhasil membuatku penasaran. Aku mencoba membukanya, tapi tutup toples ini agak susah dibuka, sedikit berat. Dan aku nggak akan menyerah. Seperti kamu, aku belajar darimu, tak akan menyerah untuk urusan hati. Katamu, “Sekali cinta, ya tetap cinta. Meski banyak rintangan, terobos saja. Toh, aku percaya, kamu hanya milikku seorang.” Sungguh, kamu berhasil membuatku tertawa. Kamu begitu percaya diri soal perasaan, cinta-mencintai, tak pernahkah kamu patah hati?

Tak lama, setelah sebelumnya sempat berdebat denganmu, aku berhasil membukanya. Kali ini, kutarik paksa benda yang ada di dalam toples itu. Dan kamu sedikit berteriak dengan cemasnya, “Kamu nggak akan merusakkannya, kan?”

Kulihat dan kuamati, apa lagi sih ini… sebuah kotak dan benda bentuk hati didalamnya. Aku semakin tidak mengerti apa maksudmu. Kamu tersenyum menang. Kamu berhasil membuatku cemberut. “Tolong jelaskan padaku”, akhirnya aku memintamu.

Kamu diam. Wajahmu terlihat sedikit malas dan kesal, ini karna aku tak mencoba memecahkan ini sendirian.

Katamu, “Toples trapesium ini mungkin aneh bagimu, sama halnya seperti hubungan kita. Kamu dan aku mempunyai karakter yang sama sekali berbeda. Tapi lihatlah, di dalam toples itu… sebuah kotak hati. Kotak ini memiliki empat sisi, dan disetiap sisinya bertuliskan sebuah kata, dan kalau digabungkan, akan menjadi sebuah kalimat, “Aku mencintaimu Jojo, selalu.” Dan hati itu, bentuk hati yang ada dalam kotak tersebut, itu adalah hatiku. Kamu lihat kan, bentuknya sempurna, tidak ada cacat sedikitpun. Seperti itulah aku, mencintaimu full“, katamu dengan tersenyum.

Aku diam, sedikit menahan tawa, kaget. Kamu melihat rona pipiku, dan aku semakin salah tingkah.

“Selamat tahun baru, sayang. Aku mencintaimu, selalu.”

… dan sebuah kecupan di keningku, mengalahkan kembang api yang berjuta-juta indahnya malam itu. Aku suka malam tahun baru, bersamamu, dan sebuah babak baru yang siap menanti kita.

***

Januari 2010, rumah jogja, 14.39.

Advertisements