Kumau Kamu

Mendinding tiba dalam hamparan kalut yang beriringan. Kemana cahaya surga berdimensi waktu merombak menjadi kamu. Lunglai terbawa rasa sampai ke ujung nadi. Aku pilu. Bukan mabuk.

Membelah bumi dengan angkara malam. Fatamorgana meniup cerita, meliuk dalam desir kesiaan. Putih menikam tanpa merasa melukai. Hening dan diam seakan terlahir kembar.

Kupaksa embrio bercerita. Mengapa kadang kulihat biru, lalu esok menjadi merah. Ada yang salah ketika matahari lupa menyapa atau kamu yang sengaja meniadakan bias.

Riuh dan semakin mengaduh. Denting saja tak cukup mengurainya, layaknya mimpi dalam dekapan seorang putri. Melawan waktu sama perihnya tak merasakan kamu.

Aku menggigil. Tak peduli cangkir lusuh dalam genggaman siapa. Demi apapun, kumau kamu.

***

Desember 2009, Jogja.

Advertisements