X + Y = Matematika Cinta

Aku dan dia berjarak.
Dalam dunianya, cintaku bagai matematika.
Rumusnya membungkam partikel-partikel dalam otakku.
Berpikir adalah kelemahanku.
Maklum, aku hawa.
Tercipta sensitif.
Tak cocok mungkin bertemu kuadrat, hingga perkalian dihatimu.

Jalan pikiranmu, sama halnya seperti pelajaran pembagian yang kudapat di kelas empat.
Mencari yang terkecil mungkin mudah, tapi pernahkah kau berpikir, lebih baik tidak membaginya begitu saja?
Ruang dihatiku cukup besar, tak perlu kau membaginya menjadi begitu sempit.

Perasaanmu, sama halnya seperti pembulatan, yang kudapati di kasir swalayan, tempatku berbelanja.
Kau membulatkan semuanya begitu singkat.
Kau lupa, setiap proses, setiap waktu yang kita miliki, adalah hal yang berharga.
Kau tak bisa membulatkan semuanya menjadi satu bagian begitu saja.

Sikapmu, seperti rumus-rumus yang baru terbentuk, seolah aku belum pernah menemukannya.
Menjadikan segalanya mudah adalah tujuanmu.
Tapi kau harus tahu, wanita suka kejutan.
Dan candle light dinner, buat kami itu baru pemulaan 😉

Obsesimu, sama halnya seperti menghafal rumus, dan salah besar ketika kau menyelesaikannya di kertas ujian.
Kau mungkin pria cerdas dan sedikit ganteng.
Tapi aku heran.
Bagaimana bisa kau berpikir, mendapatkan wanita semudah membalikkan adonan martabak?
Kami bukan makanan.
Kalau kau lapar, kami juga punya aturan sendiri.

***

01.20 8des09 @ rumah Jogja

Advertisements