Perjalanan Melelahkan dan Senyum yang Tertunda

Semalam kereta yang membawa saya ke Cilacap datang terlambat. Saya harus memaklumi karna ini masih dalam rangka arus balik. Saya naik kereta dari Stasiun Lempuyangan Yogya. Begitu masuk stasiun, saya disambut dengan pemandangan kerumunan orang yang berdesakan, memaksa masuk gerbong kereta yang salah satu pintu gerbong keretanya ditutup. Saya melihat beberapa kamera yang sibuk mengabadikan moment itu. Saya menebak mereka-mereka yang sedang sibuk jepret-jepret itu adalah wartawan-wartawan yang sedang meliput arus balik. Dan ternyata benar dugaan saya itu, waktu akhirnya saya melihat sosok seseorang yang saya kenal. Andes, teman di atma jaya, sahabat baik mantan pacar saya 🙂 Dia rupanya juga kebagian tugas untuk meliput arus balik di stasiun sore itu.

“Ngliput juga, pak?” tanya saya sambil mengamati kartu identitas di baju hitam Andes, tertuliskan Indosiar.

“Iya nih.”

Kami sempat ngobrol sebentar sebelum akhirnya dia melanjutkan tugasnya, mencari berita.

“Aku pikir ada kerusuhan apa tadi. Itu kereta apa sih?”

“Kereta progo jurusan jakarta.”

“Trus kenapa pintu gerbong kereta nya ditutup?”

“Ditutup sama penumpang dari dalam. Sudah penuh.”

Hoo, jadi kerusuhan orang-orang yang tadi saya lihat itu karna mereka memaksa masuk naik kereta. Dan karna sudah gak muat lagi, alias sesak penuh orang, makanya penumpang-penumpang dari dalam menutup pintu gerbong kereta. Dan mereka yang mau naik kereta Progo itu, jadi tidak bisa masuk karna akses mereka masuk ditutup. Petugas stasiun (yang teriak berulang kali lewat mikrofon pengeras itu) akhirnya memperingatkan para penumpang yang tidak kebagian tempat itu untuk tidak memaksa masuk tapi menunggu gerbong tambahan yang sudah disediakan oleh pihak Stasiun Lempuyangan.

Melihat pemandangan itu, saya cuman bisa geleng-geleng kepala. Selanjutnya saya sibuk memperhatikan orang-orang yang menanti dengan cemas, menunggu kereta yang akan membawa mereka pulang. Anak-anak, remaja, orang tua sampe orang-orang yang udah sepuh tumplek smua di stasiun Lempuyangan yang sore itu kotor karna penuh dengan sampah. Seorang ibu bertanya pada saya, “Mau kemana mbak?”

“Cilacap, bu.”

“Oh, kalo saya mau ke surabaya.”

Lalu dia bercerita bahwa dia sudah menunggu lama di stasiun. Dia kehabisan tiket, maka dia harus naik kereta yang sore harinya. Dan lalu, sebuah informasi (yang bikin saya kecewa) disampaikan petugas di pusat informasi, yaitu berita kalo kereta Logawa yang akan membawa saya pulang ke Cilacap, baru akan tiba 1 jam lagi. Biasanya jam 5 sore saya sudah berangkat, tapi ini 1 jam saya disuruh sabar menunggu.

Gelisah karna nggak ada kerjaan, saya mencari koran yang bisa membantu saya meredam kejenuhan. Males sekali rasanya mencari penjual koran di antara keramaian orang-orang sore itu. Tapi akhirnya kubeli juga koran tempo dengan hanya seribu rupiah. Maklum, udah sore, jadi harga koran turun.

Nggak ada berita yang menarik, hanya laporan arus balik dan berita tentang ekonomi amerika yang sedang seret. Saya akhirnya memilih membaca (sambil berdiri kar’na gak kebagian tempat duduk di stasiun) tulisan ‘sehari bersama Cut Mini’. Laskar Pelangi masih hangat dalam memori saya, jadi saya bersemangat membaca artikel yang membahas tentang cut mini dan cerita di balik perannya sebagai Bu Mus di Laskar Pelangi The Movie tersebut.

Akhirnya setelah nunggu lama, kereta saya datang juga dan saya ikutan berebut untuk naik. Dan yah, saya nggak kebagian tempat duduk. Rasanya sudah mau turun saja saat itu dan batal pulang. Tapi akhirnya, saya memilih untuk tetap pulang sore itu. Dalam hati, biarin gak dapet tempat duduk, yang penting saya harus nyampe rumah hari itu. Kalo mau tau, muka saya udah masam waktu itu. Gimana gak, saya udah bayar tiket tapi nggak kebagian tempat duduk. Tapi lagi-lagi saya dipaksa harus bisa memaklumi keadaan. Maklum kalo ini masih rangka arus balik, dan lebih maklum lagi kalo saya naik kereta ekonomi.

Satu jam kemudian saya baru dapat tempat duduk. Awalnya duduk dengan 4 laki-laki berbadan tegak yang sepertinya mereka itu tentara. Nggak lama mereka turun dan berganti dengan seorang ibu duduk di samping saya dan sepasang kekasih. Malam itu saya udah capek, jadi saya sedang malas menyapa orang. Saya tidak berhasrat memulai pembicaraan dengan orang-orang, saya hanya menjawab seperlunya kalo mereka bertanya ke saya.

“Iya, saya turun di Cilacap.”

Selebihnya, saya sibuk dengan buku saya. Mau sms-an pun, pulsa sudah mepet. Satu-satunya teman ya hanya buku itu. Sebelum akhirnya berhenti sebentar di Kroya, seorang laki-laki pindah duduk di depan saya, menggantikan sepasang kekasih yang tadi duduk dekat saya. Laki-laki itu sedang sibuk dengan telponnya, dan dari logatnya berbicara di telpon, saya menebak dia berasal dari Jawa Timur. Dan setelah kami ngobrol, ternyata benar dugaan saya tadi, laki-laki itu memang berasal dari Jawa Timur, tepatnya Kediri.

“Saya baru pertama kali ke Cilacap.”

“Oya? Kalo saya malah belum pernah ke Jawa Timur. Padahal temen-temen saya beberapa ada yang berasal dari sana.”

Kami pun lalu larut dalam pembicaraan. Nama laki-laki itu Abdul Rozak. Saya menebak-nebak usianya 30an, berkulit hitam pekat yang katanya hasil dari kerja di lapangan itu. Dia pernah bekerja di tembaga pura papua. Dan itu bikin saya ngiri. Ngiri karna keinginan saya untuk bisa pergi ke beberapa daerah di indonesia (seperti yang dilakukan laki-laki itu), belum kesampaian. saya ingin sekali keliling indonesia.

“Saya memang nggak sekolah tinggi, tapi saya banyak pengalaman.” Laki-laki yang mukanya mirip orang india itu, terlihat bangga membagi cerita hidupnya dengan saya. Saya pun lalu menceritakan keinginan saya untuk keluar jawa, dan meninggalkan ‘zona aman’ saya. Yah, mungkin satu hari nanti.

Laki-laki itu juga sempat memuji saya yang berani kemana-mana sendirian. Apalagi waktu saya bilang kalo kadang di kereta ekonomi ini mati lampu, jadi gelap gulita sepanjang perjalanan. Biasanya baru nyala waktu di Kroya. Saya asal nyeletuk aja, “kalo ada yang berani ganggu saya, ya saya hajar.” Laki-laki itu tertawa. Wajahnya sudah tampak kelelahan karna dari siang sampai malam dia berada di kereta. Sudah bosan dan bau, katanya.

Jam 10an saya nyampe di stasiun Gumilir Cilacap dan saya turun duluan. Laki-laki itu baru turun di stasiun berikutnya. Jadi, saya berpamitan dan mengucapkan terima kasih. Terima kasih kar’na mau berbagi cerita dengan saya. Kami berjabat tangan, dan saya tersenyum. Hmm, Senyum yang tertunda 🙂

Thanks to Cappuccino yang setia nemenin saya slama nulis 🙂

Advertisements