Laskar Pelangi: Fenomena Pendidikan di Indonesia

Akhirnya nonton LP (Laskar Pelangi) juga. Termasuk telat nonton juga, karna saya baru nonton setelah 1 minggu film ini tayang di bioskop. Seperti biasa, saya nonton di 21 Ambarrukmo Plaza (Amplaz) di Yogya. Bioskop satu-satunya yang ada diΒ  Yogya, maka nggak heran kalo beli tiket LP ini saya musti ngantri panjaaang. Selain memang banyak orang yang menantikan film LP ini, film ini pun diputar bertepatan dengan libur lebaran. Maka pemandangan antrian tiket kemarin siang dipenuhi oleh keluarga, anak-anak, remaja dan orang tua.

Rencana awal nonton hari jumat, karna ternyata tiket hari itu abis, maka saya dapet tiket nonton hari sabtu ini jam 11.30. Pertama, sama seperti Anna, saya juga mau ngaku dosa kalo saya belum baca novel LP ini. Satu-satunya novel Andrea Hirata yang saya punya adalah Sang Pemimpi. Itu pun hadiah ulang tahun saya kemarin. Bahkan sejujurnya saya belum sempat membacanya. Heheh. Kedua, runney udah ngingetin saya buat bawa tissue sebelum nonton film ini. Katanya film ini bagus banget, bikin mewek juga, jadi saya disuruh siapin tissue kalo2 nanti saya nangis waktu nonton. Dan Runney benar, film ini memang bagus banget. Sepanjang film saya menikmati setiap detail cerita dan adegan-adegan kecilnya. Tertawa dan menangis secara bersamaan. Tertawa melihat Ikal yang jatuh cinta dengan A ling. Tertawa melihat gaya Mahar dan idenya membuat tarian a la orang papua di karnaval. Tertawa melihat kepolosan mereka, sekaligus menangis terharu waktu melihat kesungguhan dan keinginan besar mereka untuk bisa belajar dan bersekolah. Menangis waktu liat mereka harus bekerja membantu orang tua bahkan di hari liburan mereka.

Kemiskinan dan kesempatan belajar, adalah dua fenomena yang terjadi di negri ini. Siapa yang punya uang, maka dialah yang dapat mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Sedang orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan harus melupakan pendidikan dan berjuang keras untuk membiayai kebutuhan hidup mereka, yang bahkan untuk makan saja mereka harus berpeluh keringat di bawah terik matahari, entah itu menjajakan hasil dagangan mereka atau menawarkan sebuah jasa. Anak-anak kurang mampu yang seharusnya bersekolah dan menggapai cita-cita mereka setinggi langit pun, harus melupakan impian mereka dan membantu orang tua mencari uang. Sedih melihatnya, bahkan saya merasa tersentil dan tersindir ketika melihat anak-anak Laskar Pelangi itu berjuang untuk tetap belajar sekalipun kelas mereka banjir, sampai-sampai kambing pun ikut masuk kelas. Dulu waktu saya sma di sekolah putri berasrama di yogya, saya kerap bolos kalo saya belum siap ikut ulangan hari itu. Dan kebiasaan bolos saya itu masih saya bawa sampai saya di perguruan tinggi. Kalo lagi males kuliah atau terpengaruh ajakan teman untuk rame2 jalan ke Mall, saya pasti bolos. Padahal biaya kuliah itu nggak murah dan orang tua saya berjuang keras menyekolahkan saya, tapi emang dasarnya saya nya aja yang bandel. Saya nggak sadar kalo banyak anak di luar sana sangat mendambakan pendidikan dan kesempatan bersekolah setinggi-tingginya. Sedih waktu liat Lintang harus berhenti sekolah karna bapaknya meninggal, dan sebagai anak laki-laki tertua dia harus mencari nafkah dan menjaga adik-adiknya. Padahal dia cerdas apalagi kalo sudah pelajaran matematika. Lintang inilah cermin anak-anak Indonesia yang cerdas dan harusnya bersekolah sampai jenjang yang tinggi, hanya saja mereka tidak mendapatkan kesempatan itu.

Kalau saya nggak salah, pendidikan di Indonesia sekarang mendapat dana dari pemerintah sebesar 20 %. Mustinya, dengan dana itu pemerintah lebih berupaya memberi fasilitas dan mengoptimalkan agar smua anak-anak Indonesia mendapat pendidikan dan kesempatan belajar yang sama. Tidak membedakan antara anak mampu dengan yang tidak mampu. Kar’na setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Apalagi mereka ini anak-anak generasi penerus bangsa, kalo mau bangsa ini keluar dari kebodohan dan kemiskinan ya seharusnya cetaklah generasi-generasi yang cerdas. Masak mau selamanya dijajah oleh bangsa lain.

Kembali ke film LP, saya terhibur dengan keindahan pantai Belitung nya. Pengen banget suatu hari kesana. Dengan naskah film yang matang, akting anak-anak Belitung yang lucu dan luar biasa, alur cerita yang bagus, film iniΒ  benar-benar sangat menghibur. Pas untuk segala umur, dan kamu bakalan nyesel kalo gak nonton πŸ˜€

Selamat untuk Andrea Hirata, Riri Riza, dan Mira Lesmana untuk Laskar Pelangi nya yang luar biasa πŸ˜€

diposting et movie box with 100 feet, teena & dandy πŸ™‚

Gambar dari sini

Advertisements