Beautiful Boxer

Direct by: Ekachai Uekrongtham. Starring: Asanee Suwan, Sorapong Chatri, Orn-Anong Panyawong, Kyoko Inoue, Sitiporn Niyom. Release Year: 2004

Filmnya bagus. Terlihat kan dari banyaknya nominasi penghargaan internasional yang menghiasi cover filmnya 🙂 Film based on true story ini mengisahkan kehidupan Nong Toom (Asanee Suwan) yang tinggal di sebuah perkampungan kecil dan hidup dalam keluarga yang serba kekurangan. Toom kecil lebih sering bermain dengan anak perempuan daripada dengan anak laki-laki. Kar’na itu teman-teman mainnya seringkali mengejeknya. Orang tuanya akhirnya memasukkan Toom ke sebuah biara, dan disanalah pergulatan batin pertama yang dialami Toom. Ada 10 ajaran yang wajib dilakukan oleh seorang biksu, dan salah satunya adalah tidak boleh berhias dengan bunga, parfum atau perhiasan apa pun. Itu hal yang paling sulit dilakukan, karna Toom kecil senang dengan lipstik, dan kesukaannya itu diketahui oleh temannya di biara. Toom kecil lalu menceritakan pada temannya itu bahwa dia tidak mau lagi menjadi biksu. Toom merasa dirinya bukan laki-laki. Toom kecil ingin menjadi perempuan yang punya kulit halus, kuku cantik dan rambut yang panjang. Tak lama, dia dikeluarkan dari biara kar’na kedapatan sering keluar biara diam-diam.

Pergulatan batin kedua yang dialami Toom adalah ketika dia beranjak besar dan menjadi seorang petinju. Semua berawal dari ajakan temannya untuk ke pekan raya biara. Toom ditantang oleh seorang petinju dan dia memenangkan pertandingan itu. Lalu dia dan adiknya ikut camp pelatihan tinju dan disanalah dia berkenalan dengan Pi Chart (Sorapong Chatri), yang kemudian mengajari Toom jurus-jurus dan taktik Thai kickboxing itu. Toom senang kar’na tinju mengajarinya untuk bisa melindungi dirinya sendiri, namun tujuan yang sebenarnya dia ikut tinju kar’na tinju menghasilkan banyak uang dan dari sanalah dia bisa membantu ekonomi keluarganya. Camp yang dipenuhi dengan laki-laki itu membuat Toom merasa tidak nyaman, apalagi Toom merasa dirinya adalah wanita yang terjebak dalam tubuh petinju. Tiap kali dirinya ingin berdandan atau sekedar mencoba lipstik, maka itu dilakukannya secara diam-diam di toilet. Untunglah ada Pi Bua (Natcha Bootsri), dia yang memasak makanan di camp dan juga kekasih dari pelatihnya, Pi Chart. Pi Bua inilah yang menjadi tempat Toom berbagi cerita.

Toom dan kehebatannya di atas ring, menjatuhkan lawan-lawannya dan menjadi juara di berbagai pertandingan, tetap saja tidak membuat dirinya sebagai laki-laki yang kuat. Toom semakin feminim, dia bahkan sudah mulai berani memakai riasan setiap kali dia bertanding di atas ring. Ini membuat satu gebrakan baru untuk dunia tinju di Thailand. Beberapa lawannya pun menyebutnya banci. Tapi Toom tetap gigih bahwa apa yang dipilihnya itu benar, walau setiap kali hati kecilnya menangis karna pergulatan batin yang harus dialaminya. Hingga suatu hari, sepulangnya dari bertanding di Jepang, dia memutuskan untuk menjalankan operasi kelamin. Awalnya, ayah Toom khawatir kalo anaknya akan menjadi cacat dalam operasi ini, tapi Dokter meyakinkan bahwa tindakan ini sangat berarti untuk Toom agar jiwa dan tubuhnya serasi. Agar Toom tidak lagi merasa tersiksa berada dalam tubuh laki-laki, kar’na sesungguhnya dalam dirinya dia adalah perempuan.

Film ini diceritakan secara flashback. Ada kata-kata Toom yang gw suka, waktu si wartawan dalam wawancaranya menanyakan, “Mana yang lebih berat, menjadi pria atau wanita?” Toom bilang, “Menjadi pria cukup berat, dan menjadi wanita juga. Tapi yang terpenting adalah jangan melupakan apa yang kau inginkan dari dirimu.” Nong Toom membuktikan bahwa dirinya bisa memilih dan menjadi apa yang dia inginkan. Sekalipun banyak orang yang mencemooh atau menganggapnya banci, tapi dia membuktikan prestasinya di olahraga tinju dan bahkan dikenal sebagai Asia’s most famous boxer. Dan kini Nong Toom telah menjadi model dan artis di Bangkok.

Filmnya bagus dan inspiratif, sayang kalo dilewatkan 🙂

Poster dari sini

Advertisements