Melupakan Pagi

*lagi males posting. Jadi puisi aja yah… πŸ˜€ *

Jangan tanya aku tentang rutinitas,

karna aku sudah bosan.

24 jam tidak pernah cukup untuk menghasilkan sesuatu,

bahkan untuk menjadi bangga kar’nanya.

Smua orang sedang pura-pura menjadi sibuk,

bahkan ketika mereka sedang menghela nafas.

Jadi, ketika kamu tanya tentang nurani dan toleransi,

mereka sama sekali nggak ngerti.

Entah sejak kapan manusia kehilangan humornya,

apakah ini kar’na biaya susu dan bahan bakar yang naik.

Atau karna mereka memang sudah MATI dalam kejenuhan,

yang amat sangat.

Jangan tanya aku tentang rutinitas,

karna aku tidak mau berbohong lagi.

12 sept 08 07:28

:ini keprihatinan gw terhadap manusia indonesia yang tidak lagi peduli terhadap kesusahan orang lain. Sibuk pada upaya memperkaya diri (secara materi tentu saja), dan mereka jelas-jelas sudah kehilangan sense of humor. Lihat saja, berita hari ini dan kemarin. Bunuh diri, mutilasi, saling tuduh dan main hajar ala pejabat dpr.

Lebih baik kita melupakan pagi dan duduk bersama, sambil menata kembali nurani. Yang mungkin berceceran dibalik jas-jas atau pakaian rapimu.

Advertisements