Tag Archives: Morgan Freeman

Hari 14#: The Bucket List

25 Nov

*Semalam karena capek dan ketiduran, akhirnya membuat gue nggak posting tulisan. Nah, hari ini gue bayar dengan 2 postingan. Ini dispensasi terakhir. Udah nggak bisa pakai dispensasi lagi nih, soalnya cuma dikasih 3 kali dispensasi. Jadi, kalau besok-besok gue nggak nyetor 1 hari 1 tulisan, maka gue dinyatakan gagal ikut tantangan #30harimenulis ini. Huhu.

Apa yang kamu lakukan jika kamu tahu bahwa hidupmu tidak akan lama lagi? Putus asa dan pasrah menerima nasib? Yang pasti hal itu tidak terjadi dengan 2 pria paruh baya, Edward Cole (Jack Nicholson) dan Carter Chambers (Morgan Freeman). Mereka memilih melakukan hal-hal yang menyenangkan untuk menghabiskan sisa waktu hidup mereka. The Bucket List, sebuah film drama yang membuat kamu tersenyum, tertawa dan menangis secara bersamaan, lalu berkata, “Hidup terlalu singkat, jadi lakukan apa yang ingin kau lakukan, selagi ada kesempatan.”

Edward Cole dan Carter Chambers dipertemukan di sebuah ruangan di rumah sakit. Mereka menjadi teman sekamar. Keduanya didiagnosa menderita kanker dan divonis dokter hanya mampu bertahan selama 6 bulan. Edward dan Carter mempunyai karakter yang sangat bertolak belakang. Edward seorang yang kaya raya, namun hidupnya kesepian. Sangat berbeda dengan Carter. Meski hidupnya tidak sekaya Edward, tapi Carter mempunyai keluarga yang mencintainya.

Berawal dari catatan kecil berisi “things to do before i die” milik Carter, yang kemudian membawa dua pria paruh baya ini berkeliling dunia. Mereka melakukan perjalanan dengan mengunjungi tempat-tempat indah di dunia. Perjalanan yang singkat, namun merubah cara pandang mereka terhadap hidup.

Hidup mungkin cukup sederhana, yang membuat dirimu merasa kaya adalah memiliki keluarga yang mencintaimu dan pengalaman hidup yang kamu punya. Ini bukan soal prestasi atau jutaan rupiah -atau milyar- yang kamu punya, tapi seperti apa kualitas hidup yang kita miliki. Hidup adalah tentang penerimaan dan menginvestasi kebahagiaan. Tidak pernah ada yang tahu, apa yang akan terjadi di esok hari. Maka, selagi kamu atau saya masih diberi udara pagi hari yang sejuk, bisa melihat matahari atau senyum orang-orang yang kita kasihi, buatlah kehidupan yang lebih bermakna. Lebih kaya, lebih gila. :)

You only live once, so why not go out in style? -The Bucket List

Hari 3#: Kamu ingin mengubah dunia? Mulailah dengan satu kebaikan tulus

13 Nov

Berhubung kemarin gue nggak posting, jadilah hari ini gue posting 2 tulisan. Bayar utang demi #30harimenulis (haha. niat banget gue). Sebenernya semalem gue udah mau posting, tapi karena internet nggak bersahabat, ditambah badan berasa capek banget, alhasil… gue ketiduran dan membiarkan lappy nyala sampe jam setengah 3 pagi. Doh.

Apa jadinya kalau Tuhan datang kepadamu dan mengatakan bahwa kamu harus membangun sebuah bahtera? Mungkin lebih mudah kalau hanya disuruh membuat kapal kecil atau rumah, atau sesuatu yang tidak menarik perhatian orang banyak. Tapi nyatanya, Tuhan (Morgan Freeman) memberikan perintah khusus untuk Evan Baxter (Steve Carell) untuk membuat bahtera, seperti kisah Nabi Nuh (Noah) di kitab Kejadian.

Sebagai anggota konggres dan politisi yang sedang naik daun, Baxter punya banyak pendukung dan tim sukses dibelakangnya. Dengan slogan “Change the world”, dia berusaha menjadi politisi yang hebat dan disukai bannyak orang. Tapi semua rencana dan visinya berubah, saat Tuhan mendatanginya dan memberikan perintah khusus. Tidak mudah menjadi orang yang berbeda, saat disekitarmu menuntut dirimu menjadi orang yang sama seperti mereka. Baxter pun berusaha menghindari Tuhan dengan banyak cara, tapi sayangnya, Tuhan lebih hebat dan cerdas, sehingga Baxter pun menyerah.

Baxter pun mulai membuat bahtera, dan ketiga anaknya membantunya. Bersamaan dengan pembangunan bahtera yang sedang dikerjakannya, sedikit demi sedikit, penampilan fisik Baxter pun berubah menyerupai seorang nabi. Rambut dan janggut yang panjang, juga sebuah jubah. Orang-orang disekitarnya heran dengan perubahan Baxter, termasuk keluarganya. Hingga suatu kejadian memalukan pun terjadi dan istrinya, Joan (Lauren Graham) tidak sanggup lagi menghadapi tingkah suaminya yang sudah dianggap berlebihan itu, dia pun memutuskan untuk kembali ke Canada -tempat tinggal mereka dulu-, bersama ketiga anaknya. Baxter pun tidak peduli, dia terus meneruskan proyek membangun bahtera, dibantu beberapa binatang yang jumlahnya banyak itu, yang sengaja dikirim Tuhan untuk membantu Baxter menyelesaikan bahtera sebelum tanggal 22 september.

Di sisi lain, Tuhan menemui Joan di sebuah cafe kecil. Joan tampak sedih karena pemberitaan dan komentar masyarakat tentang keanehan suaminya, yang tidak lazim karena membangun bahtera dan berpenampilan a la nabi ditengah jaman yang sudah maju. Dengan bijak, Tuhan memberi nasehat yang membuat Joan sadar bahwa sebuah keluarga haruslah saling mendukung saat salah satu anggotanya mengalami masalah.

God: “Let me ask you something. If someone prays for patience, you think God gives them patience? Or does he give them the opportunity to be patient? If he prayed for courage, does God give him courage, or does he give him opportunities to be courageous? If someone prayed for the family to be closer, do you think God zaps them with warm fuzzy feelings, or does he give them opportunities to love each other?”

Baxter pun akhirnya bisa menyelesaikan bahtera, ditengah cibiran dan komentar-komentar negatif yang diterimanya. Banjir yang dikatakan Tuhan akan terjadi, ternyata benar-benar terjadi. Untunglah, Baxter membuat bahtera, sehingga dia dapat menyelamatkan banyak orang dari banjir.

Semua orang ingin mengubah dunia, tapi hanya sedikit orang yang mau mengubah diri mereka. Semua hal besar berawal dari satu perbuatan kecil dan sederhana. Saya atau kamu mungkin seperti Baxter, yang punya ambisi besar, yang di buku agendanya punya to do list yang panjang dan impian-impian kecil yang berkeliaran memenuhi isi kepala. Semua setuju bahwa hidup harus punya target dan visi, juga blabla lainnya tentang pencapaian dan rasa bangga pada diri sendiri. Tapi, hidup berbagi dengan orang lain juga seharusnya masuk dalam to do list kita. Karena keberhasilan seseorang tidak mungkin hanya didapat dari pintar atau hebatnya orang itu saja, tapi juga dukungan dari orang-orang disekitarnya. Contoh yang paling mudah adalah presiden. Seorang pemimpin bangsa bisa hebat dan powerfull tentu didapat bukan hanya karena kecerdasannya atau gaya kepemimpinannya yang luar biasa, tapi juga berkat tim sukses dibelakangnya dan kerjasama yang baik dengan orang-orang kepercayaannya. Melakukan kebaikan pada orang lain, tanpa kita sadari, membuat kita lebih mengenal dan menghargai diri sendiri. Membuat kita dapat membedakan mana visi pribadi, mana visi yang diberikan Tuhan untuk jadi teladan bagi orang disekitar kita. Buat hidup bermakna dan berguna untuk orang disekitar kita, kenapa tidak?

Jadi, kamu ingin mengubah dunia? Mulailah dengan satu kebaikan yang tulus. Good luck! :)

Baxter: How do we change the world?

God: One single act of random kindness at a time.

One Act, of, Random, Kindness.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.