Sepaket Kenangan Dari Masa Lalu

29 Mar

Semudah itu jatuh cinta. Semudah itu melupakan.

Aku benci mengakuinya.

Hari-hari manis karena lirik lagu yang seolah AKU-BANGET itu, kencan tiba-tiba, dan menghabiskan sore bersama dengan orang yang kau sukai adalah sebuah kenangan yang selalu ingin kau ingat. Meskipun setelah itu kau berusaha untuk amnesia saat orang menyebut namanya.

Ada kenangan yang mungkin berat dilepaskan.

Ada puisi yang mungkin dihapus dan dibuang jauh dari hatimu.

Tapi, tak ada yang pernah mampu mengembalikan waktu.

Sesaat, semua yang dulu seperti pelangi, mendadak menjadi goresan abstrak yang terdiri atas penyesalan dan kesedihan.

Aku pernah setidaknya menikmati bagaimana menjadi kenangan di hati orang lain, dan lalu menuliskan kesendirianku dalam lembar berikutnya.

Aku sedih, kemudian hilang kontrol, tapi tak akan pernah merengek di depanmu. Dan dalam hal ini aku menang.

Aku perempuan mandiri, itu kataku diam-diam, saat air mata mulai menuntut banyak hal…

AKU HANYA BUTUH WAKTU!! Arrrgghh. 

Setiap hal yang datang, mungkin akan pergi.

Setiap kenangan yang bertumpuk dan rapi dalam memori, mungkin hanya menunggu waktu membawanya ke tempat lain.

Aku pernah jatuh, tapi kemudian sahabat-sahabatku yang manis membantuku kembali bangkit.

Aku pernah menangis, tapi kemudian menyadari bahwa wajah murung dan maskara yang luntur malah membuatku menjadi Gadis Berwajah Buruk.

Aku lalu menyusun strategi baru. Sesuatu yang akan membawaku kembali menemukan sosok ceria dari diriku.

Aku menulis daftar pria yang membuatku patah hati.

Antonio.

Michael.

Aku membuang semua koleksi dvd komedi romantis dan menggantinya dengan film action.

Aku memberanikan makan telur karena selama kencan aku berkata pada mereka aku tidak menyukai telur.

Aku belajar memasak untuk membuktikan aku perempuan serba bisa.

Aku bangun pagi dan mendisiplinkan diri lari pagi. Dan hanya bertahan 3 hari.

Aku belajar berenang, gitar, menjahit… semuaaa!

Aku melakukan banyak hal baru untuk menemukan kesenangan-kesenangan lain yang kemudian aku menyadari bahwa aku hanya ingin menutupi kesedihan dengan sesuatu yang bukan diriku.

Dan akhirnya aku sadar… aku begitu menyukai kenangan-kenangan lucu tentang mereka dan membiarkan saja mereka tetap tinggal di bagian PRIA YANG (DULU) AKU SUKA.

Aku hanya punya satu alasan untuk tinggal dan membiarkan hatiku menemukan alasan lain.

Hmm… bagaimana dengan mulai mencari PRIA YANG MEMBUATKU LUPA AKAN BUMI. :D

—- Jojo :) xx

 

Tina

27 Mar

Punya adik perempuan itu asyik, tapi juga kadang nyebelin, sih. Gue punya. Namanya Tina. Mahasiswi tingkat akhir di sebuah universitas swasta di babarsari Jogja. Dia… baweeell, tapi ngangenin. Hmm, yah, walaupun gue males mengakuinya, tapi mau nggak mau gue akui adek cewek gue satu-satunya ini cantik. Sedikit. Cantik. :D Dan oh, dia jomblo lho, barusan putus sama pacarnya. Ups! :D

Im so proud of her. Nilai-nilainya bagus, nggak kayak gue dulu waktu kuliah. :p Dia juga dapat beasiswa. Sekarang dia sedang ambil skripsi dan nyambi kerja di perpustakaan kampusnya. Dia yang nggak suka baca buku, perlahan mulai menyukai buku.

Punya adik perempuan tuh enaknya bisa jadi teman curhat. Tapi ya gue sama dia nggak selalu akur. Pernahlah ngambek-ngambekan gitu, nggak mau ngomong satu sama lain. Biasanya orang rumah langsung tahu. Dan pasti gue sama dia ditegur babe nyak.

Tapi seruuu sih kalo punya adik perempuan. Bisa tukaran baju, curhat, dan tidur bareng. Ngomongin cowok yang lagi ditaksir, curhat sambil nangis saat putus cinta (ehem!) dan juga ngemol bareng. By the way, she made her own blog. Ini blognya. Baru 2 postingan, anaknya lagi nggak ada bahan buat nulis lagi. :D

Tina suka masak. Sama seperti Edo. Kayaknya cuma gue di rumah yang nggak suka masak. Gue mau sih belajar masak, tapi kalo inget repotnya mencuci piring terus udah ogah duluan mau nyoba. :D

Duluuu Tina tuh ndut dan pipinya chubby, tapi sejak kuliah dan jadi anak kost di Jogja, dia punya style sendiri. Jadi girly dan karena mukanya lebih boros, maka kalo jalan atau foto sama dia, orang ngira dia kakak gue. Baguslah! Hihi.

Gue cuma berharap, dia selalu lucu dan menyenangkan. She’s adorable tapi ya kadang kalo lagi bad mood, mukanya serem. Hihi. 

I loveee PhilJun!!

27 Mar

Aaaaaww… I love these guys! I love their friendship and music. Sukaaa wajah lucu dan selera humornya Heejun Han. Suka wajah gantengnya PP. Gooosshh!! :) Tapi sedih, di kost nggak ada tv kabel, jadi gue buka youtube and stalking their from twitter. Hihi. :*

Tags:

Edo

1 Mar

Edo. Adik laki-lakiku satu-satunya. Waktu kami kecil dulu, kami sering berantem. Apa aja jadi masalah. Mungkin karena selisih kami yang cuma beda setahun enam bulan. Edo punya warna kulit yang berbeda sama aku dan adik perempuanku. Kalau kata orang sih, hitam manis. Tapi Edo cuma punya hitamnya, nggak ada manisnya. BECANDA. :D

Edo lebih suka diam, dia nggak banyak cerita, dan yah, dia suka bola. Dulu kamarnya penuh dengan poster pemain bola, tapi sejak dia sekolah di Jogja dan kost di sana, Ayah mendekorasi ulang kamar Edo. Edo sekolah di SMU Kolose De Britto, sedangkan aku di SMU Stella Duce 2. Masa remajaku dan Edo dihabiskan di kota gudeg itu.

Warna favoritnya adalah merah dan hitam. Dia punya banyaaakk baju warna hitam. Yang paling aku suka dari adekku ini adalah saat dia masak di rumah. Aku jadi bisa icip makan. Horeee. :D Kan tahu sendiri kakakmu ini nggak bisa masak. Lebih tepatnya sih malas. :p

Edo ini nggak kenal facebook atau social media apa pun. Kalau pun dia bikin akun facebook, itu hanya buat main poker. Dia bukan tipe cowok yang hobi ngetwit atau curhat di status. Dia jauh dari pencitraan. Trust me.

Belakangan ini dia lagi suka traveling. Tapi dia suka nggak ngomong kalo traveling gitu, jadinya nggak bisa nitip oleh-oleh deh. Biasa Edo, suka sok misterius gitu kalo ditanya orang rumah. :p 

Segitu aja tentang Edo. Dia pasti nggak mau kalo gue cerita tentang dia, daaann nggak perlu pasang foto dia  ya. :) :)

Selama hari ini, aku akan bahagia.

25 Feb

ADA banyak teman yang menyenangkan, tapi ada sedikit juga yang menyebalkan. Tapi lagi-lagi harus kuakui, aku butuh mereka untuk menghidupkan hariku.

Ada teman yang passionate, yang kunikmati karya-karya indahnya. Aku mengagumi caranya menikmati setiap detail kehidupan. Dia tampil berbeda bukan karena keharusan, tapi karena dia pribadi yang unik. Dalam hati aku berkata, aku pasti bisa bahagia seperti dia. Yang selalu haus akan hidup.

Ada aku yang kadang lebih banyak menjadi pengamat, daripada lakon utama.

Ada kesedihan yang kusimpan rapat-rapat, tapi yang dilihat mereka adalah aku yang mudah tertawa dan suka membuat lelucon.

Ada aku yang berlomba di tengah rutinitas dan produktivitas kerja, dan kemudian terjebak dalam kejenuhan. Yep, I’m still human.

Ada standar kebahagiaan yang ditetapkan oleh dunia, tapi aku menolak untuk mengikutinya.

Bahagia adalah hari ini.

Menikmati setiap detik keriangan dan rasa haru yang mungkin datang bersamaan.

Entah biru, merah, atau abu-abu sekali pun, hidup ya selalu berwarna.

Aku di sini atau kamu di sana,

Tertawa atau menangis,

Sendiri atau berdua,

Hidup harus berjalan.

Aku memilih bahagia dengan caraku sendiri.

Entah itu tidur siang di bawah hamparan langit biru.

Jalan-jalan sore berkeliling kota dengan sepeda.

Atau minum kopi sendirian di cafe dekat rumah.

Aku menyukai kesendirian, menuliskan semua kenangan dalam notes kecilku, juga lewat tulisanlah aku mengenal baik orang-orang di sekitarku. Aku merekam semua kisah dengan tulisan.

Iya, saat tidak ada teman, aku bisa berjam-jam membuka youtube, mencari video klip yang menarik atau puas tertawa saat melihat stand up comedy. Kadang aku membuka facebook hanya untuk melihat album foto sahabat-sahabat lamaku.

Pergi ke toko buku hanya untuk melihat-lihat.

Menyapa seorang kakek di sebuah rumah makan yang juga sedang makan soto sendirian.

Membalas senyum anak kecil yang digendong oleh ibunya di sebuah stasiun kota.

Tertawa saat mendengarkan lelucon yang diceritakan teman kerja di tengah penatnya pekerjaan.

Saat udara panas, berbaring di lantai kamar tanpa alas dan mendengarkan Mocca atau Corrine Bailey Rae.

Sedang bosan dan butuh sesuatu untuk ngemil, cukup ambil kunci mio, dan pergi ke toko kue untuk menghadiahkan diri sendiri sebuah tiramisu.

Memberi pundak dan sapu tangan untuk seorang teman yang baru saja diputus pacarnya, dan diam-diam bersyukur dalam hati karena masih single.

Membeli buah segar di supermarket dan membuat es buah untuk dimakan bersama adik.

Mencuci baju bersama Ibu dan membersihkan halaman belakang bersama Ayah.

Rebutan es krim sama adik.

Menangis saat nonton film drama romantis atau film keluarga yang bikin kangen pulang ke rumah.

Mengucapkan terima kasih karena Ibu Kost memberi nasi sop dan kerupuk saat tidak ada ide untuk makan malam.

Bahagia itu sederhana. Semua tersedia di antara hal-hal kecil di tengah riang dan riuhnya dunia. Andai saja semua orang menyadarinya.

______________________________ :) :) :) :) :)

Bahagia. Itu yang diminta orang lain dari dunia. Dan aku memilih untuk menciptakan kebahagiaanku sendiri. Dimulai dari hari ini.

Ayah

19 Feb

Ayah, dia orang yang kukagumi karena disiplin dan semangat kerja kerasnya. Ayah, tidak mudah menyerah bahkan ketika akhir tahun 2008, dirinya divonis terserang stroke. Aku sering berpikir saat lihat Ayah. Dia terjebak di tubuh yang lemah. Habisnya, meski sedikit tertatih saat jalan atau beraktivitas, dia tetap semangat bantu Ibu untuk cuci piring dan baju. Ayahku, dia orang yang tidak kenal kata menyerah.

Dulu aku dan Ayah sering berbeda pendapat. Aku keras, Ayah juga. Kami sering tidak sepaham. Tapi sejalan dengan waktu, aku mulai mengerti Ayah. Ayah terlalu sayang sama anak-anaknya, sehingga dia memegang terlalu erat dan punya pengharapan yang besar untuk ketiga anaknya. Ayahku bukan ambisius atau perfeksionis, dia hanya ingin menjadi Ayah yang terbaik untuk ketiga anaknya. Dan, dia masih berjuang untuk itu. Aku melihat sendiri usahanya.

Ayah, dia seorang pemimpin yang baik. Dia seorang teman yang punya rasa humor, meski kuakui dia adalah pemikir, dan suka pasang muka yang serius. Tapi, dia punya sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya. Aku melihatnya saat di RS Bethesda Jogja. Saat Ayah dirawat di sana, banyak teman dan sahabat lama datang dan mendukung dalam doa dan kata-kata penghiburan. Aku kagum pada Ayah. Dia mungkin bukan orang yang hebat dan populer, tetapi dia mengajarkan banyak hal yang harus aku tahu saat menghadapi dunia. Seperti saat aku tidak mengerti bagaimana bersyukur itu, Ayah pernah bilang padaku, “Jangan selalu lihat ke atas terus, sesekali lihatlah ke bawah.” Ayah mungkin tahu aku suka membandingkan hidupku dengan teman-temanku yang lebih mampu secara finansial, maka Ayah memberitahuku untuk bersyukur, bahwa masih banyak yang tidak seberuntung kita.

Atau saat aku mulai jenuh dengan rutinitas, Ayah menyemangatiku, “Hidup tuh dinikmati.” Sering aku lupa untuk menikmati semua yang sudah aku punya, dan lebih fokus pada apa yang belum aku punya. Dan itulah mengapa aku nggak pernah merasa benar-benar bahagia. Aku dan Ayah, dulu mungkin kami pernah punya hubungan yang kurang dekat, tetapi sejak Ayah stroke, kami mulai lagi hubungan sebagai anak dengan orang tua. Aku mengagumi bagaimana semangat Ayah untuk bangkit dan melawan penyakitnya. Dia lebih dari sekedar orang tua untukku. Dia motivatorku. Dia, Ayahku, Jusup Hariadi. 

Tags: ,

1 Kebaikan 1 Orang 1 Hari

1 Feb

MULAI 1 Februari 2012, gereja gue bikin program selama sebulan ini. Namanya Badai Kebaikan, yaitu berbuat #1kebaikan1orang1hari. Artinya, dalam 1 hari (paling tidak) kita melakukan 1 kebaikan buat 1 orang. Hari ini, hmm, gue melakukan kebaikan yaitu… ngasih kue keranjang ke temen gue. :D It’s simple joy. Gue seneng aja ngasihnya, mungkin sederhana, tapi setiap memberi ke orang lain, ada kepuasan tersendiri di hati yang diam-diam menyelimuti. :)

Jangan biarkan hari berlalu tanpa kita melakukan #1kebaikan pada orang lain. Kabarnya, sih, kebaikan itu seperti virus yang cepat menyebar. Nggak akan ada yang sia-sia dengan berbuat baik. Jadi, kebaikan apa yang sudah kamu lakukan hari ini? :)

Tags: ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.