Archive | February, 2012

Selama hari ini, aku akan bahagia.

25 Feb

ADA banyak teman yang menyenangkan, tapi ada sedikit juga yang menyebalkan. Tapi lagi-lagi harus kuakui, aku butuh mereka untuk menghidupkan hariku.

Ada teman yang passionate, yang kunikmati karya-karya indahnya. Aku mengagumi caranya menikmati setiap detail kehidupan. Dia tampil berbeda bukan karena keharusan, tapi karena dia pribadi yang unik. Dalam hati aku berkata, aku pasti bisa bahagia seperti dia. Yang selalu haus akan hidup.

Ada aku yang kadang lebih banyak menjadi pengamat, daripada lakon utama.

Ada kesedihan yang kusimpan rapat-rapat, tapi yang dilihat mereka adalah aku yang mudah tertawa dan suka membuat lelucon.

Ada aku yang berlomba di tengah rutinitas dan produktivitas kerja, dan kemudian terjebak dalam kejenuhan. Yep, I’m still human.

Ada standar kebahagiaan yang ditetapkan oleh dunia, tapi aku menolak untuk mengikutinya.

Bahagia adalah hari ini.

Menikmati setiap detik keriangan dan rasa haru yang mungkin datang bersamaan.

Entah biru, merah, atau abu-abu sekali pun, hidup ya selalu berwarna.

Aku di sini atau kamu di sana,

Tertawa atau menangis,

Sendiri atau berdua,

Hidup harus berjalan.

Aku memilih bahagia dengan caraku sendiri.

Entah itu tidur siang di bawah hamparan langit biru.

Jalan-jalan sore berkeliling kota dengan sepeda.

Atau minum kopi sendirian di cafe dekat rumah.

Aku menyukai kesendirian, menuliskan semua kenangan dalam notes kecilku, juga lewat tulisanlah aku mengenal baik orang-orang di sekitarku. Aku merekam semua kisah dengan tulisan.

Iya, saat tidak ada teman, aku bisa berjam-jam membuka youtube, mencari video klip yang menarik atau puas tertawa saat melihat stand up comedy. Kadang aku membuka facebook hanya untuk melihat album foto sahabat-sahabat lamaku.

Pergi ke toko buku hanya untuk melihat-lihat.

Menyapa seorang kakek di sebuah rumah makan yang juga sedang makan soto sendirian.

Membalas senyum anak kecil yang digendong oleh ibunya di sebuah stasiun kota.

Tertawa saat mendengarkan lelucon yang diceritakan teman kerja di tengah penatnya pekerjaan.

Saat udara panas, berbaring di lantai kamar tanpa alas dan mendengarkan Mocca atau Corrine Bailey Rae.

Sedang bosan dan butuh sesuatu untuk ngemil, cukup ambil kunci mio, dan pergi ke toko kue untuk menghadiahkan diri sendiri sebuah tiramisu.

Memberi pundak dan sapu tangan untuk seorang teman yang baru saja diputus pacarnya, dan diam-diam bersyukur dalam hati karena masih single.

Membeli buah segar di supermarket dan membuat es buah untuk dimakan bersama adik.

Mencuci baju bersama Ibu dan membersihkan halaman belakang bersama Ayah.

Rebutan es krim sama adik.

Menangis saat nonton film drama romantis atau film keluarga yang bikin kangen pulang ke rumah.

Mengucapkan terima kasih karena Ibu Kost memberi nasi sop dan kerupuk saat tidak ada ide untuk makan malam.

Bahagia itu sederhana. Semua tersedia di antara hal-hal kecil di tengah riang dan riuhnya dunia. Andai saja semua orang menyadarinya.

______________________________ :) :) :) :) :)

Bahagia. Itu yang diminta orang lain dari dunia. Dan aku memilih untuk menciptakan kebahagiaanku sendiri. Dimulai dari hari ini.

Ayah

19 Feb

Ayah, dia orang yang kukagumi karena disiplin dan semangat kerja kerasnya. Ayah, tidak mudah menyerah bahkan ketika akhir tahun 2008, dirinya divonis terserang stroke. Aku sering berpikir saat lihat Ayah. Dia terjebak di tubuh yang lemah. Habisnya, meski sedikit tertatih saat jalan atau beraktivitas, dia tetap semangat bantu Ibu untuk cuci piring dan baju. Ayahku, dia orang yang tidak kenal kata menyerah.

Dulu aku dan Ayah sering berbeda pendapat. Aku keras, Ayah juga. Kami sering tidak sepaham. Tapi sejalan dengan waktu, aku mulai mengerti Ayah. Ayah terlalu sayang sama anak-anaknya, sehingga dia memegang terlalu erat dan punya pengharapan yang besar untuk ketiga anaknya. Ayahku bukan ambisius atau perfeksionis, dia hanya ingin menjadi Ayah yang terbaik untuk ketiga anaknya. Dan, dia masih berjuang untuk itu. Aku melihat sendiri usahanya.

Ayah, dia seorang pemimpin yang baik. Dia seorang teman yang punya rasa humor, meski kuakui dia adalah pemikir, dan suka pasang muka yang serius. Tapi, dia punya sahabat-sahabat yang selalu mendukungnya. Aku melihatnya saat di RS Bethesda Jogja. Saat Ayah dirawat di sana, banyak teman dan sahabat lama datang dan mendukung dalam doa dan kata-kata penghiburan. Aku kagum pada Ayah. Dia mungkin bukan orang yang hebat dan populer, tetapi dia mengajarkan banyak hal yang harus aku tahu saat menghadapi dunia. Seperti saat aku tidak mengerti bagaimana bersyukur itu, Ayah pernah bilang padaku, “Jangan selalu lihat ke atas terus, sesekali lihatlah ke bawah.” Ayah mungkin tahu aku suka membandingkan hidupku dengan teman-temanku yang lebih mampu secara finansial, maka Ayah memberitahuku untuk bersyukur, bahwa masih banyak yang tidak seberuntung kita.

Atau saat aku mulai jenuh dengan rutinitas, Ayah menyemangatiku, “Hidup tuh dinikmati.” Sering aku lupa untuk menikmati semua yang sudah aku punya, dan lebih fokus pada apa yang belum aku punya. Dan itulah mengapa aku nggak pernah merasa benar-benar bahagia. Aku dan Ayah, dulu mungkin kami pernah punya hubungan yang kurang dekat, tetapi sejak Ayah stroke, kami mulai lagi hubungan sebagai anak dengan orang tua. Aku mengagumi bagaimana semangat Ayah untuk bangkit dan melawan penyakitnya. Dia lebih dari sekedar orang tua untukku. Dia motivatorku. Dia, Ayahku, Jusup Hariadi. 

1 Kebaikan 1 Orang 1 Hari

1 Feb

MULAI 1 Februari 2012, gereja gue bikin program selama sebulan ini. Namanya Badai Kebaikan, yaitu berbuat #1kebaikan1orang1hari. Artinya, dalam 1 hari (paling tidak) kita melakukan 1 kebaikan buat 1 orang. Hari ini, hmm, gue melakukan kebaikan yaitu… ngasih kue keranjang ke temen gue. :D It’s simple joy. Gue seneng aja ngasihnya, mungkin sederhana, tapi setiap memberi ke orang lain, ada kepuasan tersendiri di hati yang diam-diam menyelimuti. :)

Jangan biarkan hari berlalu tanpa kita melakukan #1kebaikan pada orang lain. Kabarnya, sih, kebaikan itu seperti virus yang cepat menyebar. Nggak akan ada yang sia-sia dengan berbuat baik. Jadi, kebaikan apa yang sudah kamu lakukan hari ini? :)

Ibu :)

1 Feb

Ibuku paling kanan, yang menggendong adikku, Tina

PERGI merantau kemana pun, pulang ke rumah tetap yang terbaik. Keluarga adalah sahabat terbaik sepanjang masa

Ibuku adalah seorang guru di sebuah SD negeri di Cilacap. Ibu mengajar pelajaran agama kristen. Ibuku ini sangat sabar. Mungkin karena sering bertemu murid-muridnya yang masih anak-anak, membuat beliau menjadi seorang pribadi yang ramah, sabar, dan mudah bergaul. Ibu dekat dengan siapa saja, bahkan dengan orang yang baru dikenalnya. 

Ibu sangat suka membaca kitab suci dan dia adalah orang pertama yang mengajariku bagaimana berdoa dan menghapalkan ayat-ayat kitab suci sebelum tidur. Dulu, sewaktu kami masih kecil-aku dan adik-adikku-, kami diajarkan ibu untuk menghapalkan satu atau dua ayat sebelum pergi tidur. Itu bertahan sampai kami SD, sekarang saat kami sudah mulai beranjak dewasa, kami tidak melakukannya lagi, tapi kami tetap membaca kitab suci. Meski aku tidak serajin ibuku, tapi aku mencoba untuk setiap hari membaca kitab suci. 

Ibuku bukan sekedar orang tua, tapi lebih sebagai sahabat wanita buatku. Aku mengagumi pribadinya, dan sangat menyayanginya. Dia yang paling mengerti, bahkan saat aku nggak mau cerita tentang kesedihan yang kualami. Ibu, dia selalu menjadi orang pertama yang mengajakku tertawa saat aku sedang menangis. Ibu, dia yang selalu menjadi alasan, untuk aku bisa menjadi perempuan tegar dan tidak cengeng.

Ada banyak ibu di dunia ini, tapi tetap Ibuku yang terbaik. :) Saat Ayah terkena stroke akhir tahun 2008, sampai sekarang Ibu masih setia menemani Ayah. Ibu bukan wanita yang mudah menangis, dia selalu tersenyum, saat melewati masalah-masalah kecil yang hadir di keluarga kami. Aku belajar banyak darinya. Bagaimana bersyukur dalam setiap kondisi, percaya dan mengandalkan Tuhan setiap saat. 

Aku diam-diam selalu berdoa pada Tuhan untuk keluargaku. Khususnya untuk Ibu dan Ayah. Aku hanya ingin melihat mereka sehat dan sukacita setiap hari. Meski sekarang aku tinggal jauh dengan keluarga, tapi aku selalu berkomunikasi sama mereka. Minimal mengirimkan sms untuk memastikan mereka menjalani hari dengan semangat. Paling suka kalo dengar suara ayah dan ibu di telepon dan bisa bilang ‘kangen’ sama mereka. Saat jauh dari keluarga, dan hal pertama yang ingin kamu lakukan saat akhirnya bertemu, adalah memeluk mereka. Itu yang biasanya kulakukan saat pulang ke rumah. :”)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.