Aku, Sepatu Balet, dan Balerina

ballet shoes

Aku melirik sepatu di samping tempat tidurku. Sepatu baletku yang baru. Ibu membelikanku dengan sebuah syarat, “Janji ya. Kau harus terus menari, dan sepatu ini akan membawa hatimu untuk selalu menari sampai kapanpun.”

Aku membalas ucapan ibu dengan memeluknya, dan berbisik, “Aku janji, bu.”

* * *

Aku Joanna. Ibu membelikan sepatu balet pertamaku ketika usiaku masih 7 tahun. Kini, ketika beranjak dewasa, aku bisa memiliki sepatu balet dengan uangku sendiri.

Aku mencintai balet. Lebih dari cintaku pada anjingku Brad atau hobiku yang suka berkebun. Balet adalah hidupku. Waktuku sepenuhnya hanya untuk menari.

Balet. Sebuah dunia, yang menyihirmu dan membawamu mencintai setiap lompatan dan jemari lentik seorang penari. Jangan tanya, seberapa keras aku berlatih agar kaki-kaki ini kuat melompat. Yang slalu kuingat, tidak penting seberapa hebat kau menari atau seberapa gemulai tubuhmu meliuk. Jika kau menari bukan dengan jiwamu, maka tarian itu sama sekali tidak tampak anggun.

Guru baletku slalu bicara begitu. Dia mau aku tak hanya mengerti soal tubuh yang harus slalu tegak, bagaimana posisi kaki yang benar ketika berdiri, atau jam latihan yang begitu padat.

Dia slalu bilang padaku, “Menarilah dengan jiwamu. Biarkan jiwamu berekspresi. Lakukan tarian itu dengan cinta. Keindahan tarian terletak dari caramu membuat jiwamu bebas.”

Aku slalu mengingat hal itu dan masih terus belajar, sampai sekarang. Aku tidak mau menjadi balerina yang cepat merasa puas. Seperti janjiku pada ibu, ketika masih kecil, selamanya aku akan menari. Menjadi balerina kebanggaan ibu :)

***

Dedicated for: Guru tambourineku dan teman-teman penari di RP Adisucipto. Juga balerina-balerina kecil di Bailamos. Aku iri sekali sama kalian ;)

About these ads